Waspada! Mutasi Virus Covid-19 Intai Anak dan Remaja 

Rabu, 12 Mei 2021 - 01:43:08 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof Dr dr Aman Pulungan SpA(K) mengingatkan bahwa bahaya mutasi virus Covid-19 mengintai anak dan remaja. 

Seperti diketahui, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 sangat mudah mengalami mutasi. Mutasi ini semakin cepat terjadi, seiring dengan transmisi atau penularan yang juga mudah dan cepat. 

Dari ribuan mutasi yang ditemukan, disebutkan ada empat varian yang menjadi perhatian para ilmuwan dunia, karena dianggap lebih mudah menular ataupun bisa membuat pasien terinfeksi memiliki gejala yang buruk. Keempat varian tersebut adalah B.1.1.7 yang ditemukan di Inggris, B 1.3.5.1 yang ditemukan di Afrika Selatan, varian P.1 di Brazil dan varian B 1.617 di India.  

Negara yang paling disorot saat ini adalah negara India, yang mana varian B 1.617 menjadi varian virus corona yang menyebar di India dan disebut sebagai "variant of concern" di tingkat global. 

Selama dua hari berturut-turut, 4.000 orang meninggal dunia dalam sehari akibat Covid-19 di India. Pada Minggu (9/5/2021), “Negeri Anak Benua” melaporkan 4.092 kematian akibat Covid-19 selama 24 jam terakhir.  

Melansir Reuters, total korban meninggal akibat Covid-19 di India sebanyak 242.362 jiwa sejak pandemi dimulai. Masih di hari yang sama, India melaporkan 403.738 kasus virus corona terbaru sehingga total kasus Covid-19 di sana sejak pandemi dimulai sebanyak 22,3 juta kasus.  

India telah digulung tsunami Covid-19 pada gelombang kedua ini, dengan jumlah kasus dan kematian harian mencatatkan rekor tertinggi hampir setiap hari. 

Sementara itu, negara tetangga yakni Malaysia akan memberlakukan lockdown atau "perintah pengendalian pergerakan nasional" (MCO) secara nasional mulai Rabu (12 mei 2021) hingga awal bulan Juni. 

Perdana Menteri (PM) Muhyiddin Yassin menyatakan pada Senin (10/5/2021), hal ini dilakukan untuk membendung meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di negara tersebut. 

Prof Aman menjelaskan, outbreak yang terjadi di Italia, Belanda, Prancis, India, serta Malaysia, menunjukkan adanya peningkatan infeksi Covid-19 pada anak dan remaja.  

Berdasarkan data British Medical Journal (BMJ 2021: 372, n 383), di Januari 2021, jumlah anak dan remaja yang terinfeksi Covid-19 di Israel meningkat pesat sejak merebaknya varian B.1.1.7. 

"Proporsi kasus pada pasien usia dibawah 10 tahun meningkat hingga 23 persen," kata Prof Aman melalui keterangan tertulisnya, Selasa (11/5/2021).  
Bahkan, Israel juga telah membuka ruang ICU khusus Covid-19 untuk anak.  Di Corzano-Italia, ditemukan sebagian besar warga yang terinfeksi Covid-19 adalah anak usia Sekolah Dasar atau lebih muda.  

Di kota kecil Lasingerland - Belanda, dari sekitar 818 guru, murid, staf sekolah yang diperiksa, ditemukan 123 kasus positif dengan 46 diantaranya merupakan varian mutasi virus baru B.1.1.7. Banyak kasus ditemukan juga di komunitas yang terkait dengan outbreak tersebut.  

"Outbreak yang terjadi di sejumlah negara tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan dalam pembukaan sekolah," ujarnya. 

Menurut Prof Aman, langkah mitigasi risiko seperti implementasi sistem 'bubble', penggunaan masker, ventilasi yang baik dengan jumlah murid yang dibatasi, serta screening berkala untuk guru, murid, serta staf sekolah sangat penting untuk dilakukan.  

Ia juga menegaskan, semestinya kasus di negara lain menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk tidak membuka sekolah tatap muka (luring) jika tidak sesuai anjuran IDAI dan organisasi profesi kesehatan. 

Selain itu, disarankan bagi fasilitas pelayanan kesehatan agar mulai menyediakan ruang ICU Covid-19 khusus anak dan remaja. [**]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT