Candi Muara Takus dan Keindahan Alam Kampar

Candi Muara Takus dan Keindahan Alam Kampar

Metroterkini - Candi Muara Takus adalah salah satu objek wisata unggulan provinsi Riau di Kabupaten Kampar. Setelah menelusuri objek wisata Istana Gunung Sahilan beberapa waktu lalu, melihat serta menimbang dari daftar wisata kampar maka aku putuskan untuk mengunjungi Candi Muara Takus.

Lokasi Candi Muara takus ini lumayan jauh dari Pekanbaru ibu kota Provinsi Riau, sekitar 135 kilometer atau tiga jam lebih perjalanan. Disepanjang perjalanan menuju Candi Muara Takus kita bisa melihat pemandangan alam yang hijau dan perkampungan yang alami. Melewati Desa Rumbio lalu melewati jembatan kembar, sampai ke Desa Air Tiris dengan sawahnya di sepanjang kiri kanan jalan.

Setelah lebih satu jam perjalanan sampailah kami di Kota Bangkinang ibu kota Kabupaten Kampar. Disini kita bisa menemukan bangunan megah religius yaitu Islamic Center Bangkinang (ICB). Setelah kurang lebih satu jam, sampailah kita di sebuah jembatan panjang, Rantau Berangin yang dibawahnya mengalir sungai yang besar yaitu Sungai Kampar. Kita terus mengikuti jalan arah ke Sumbar yang melewati Bendungan PLTA Koto Panjang.

Setelah sampai di Jembatan Danau PLTA Koto Panjang, kita juga bisa menikmati pemandangan alam yang indah sekitar perbukitan dan wilayah Danau di sekitar Bendungan Waduh PLTA sambil menikmati jajan yang ada disekitarnya. 

Kita teruskan perjalanan dan tidak jauh dari sini kita akan menemukan sebuah plang nama bertiliskan “Candi Muara Takus 19km.” Berarti kami telah menemukan lokasi Candi tersebut, yaitu di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar.

Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir sungai Kampar Kanan. Kompleks candi ini dikelilingi tembok yang terbuat dari batu pasir, berukuran 74 x 74 meter bujur sangkar, diluar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan.


Disini kita disajikan pemandangan menakjubkan, empat buah bangunan berada didalam komplek. Candi Tua yang paling besar, disebelahnya Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata yang hanya disusun-susun. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi.

Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.

Selain dari candi Tua, candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran mayat manusia.

Diluar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya. Candi yang bersifat budhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Budha berkembang di kawasan ini beberapa abad yang silam. Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Tapi jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.

Disini masih banyak peninggalan sejarah lain yang ditemukan disini dari hasil beberapa penelitian. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Peninggalan Purbakala Nasional dan Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Riau tahun 1977 lalu. Menyatakan bahwa Gugusan Candi Muara Takus terdiri dari empat bangunan candi, serta enam bangunan.

Yaitu bangunan I, bangunan II, bangunan III, bangunan IV, bangunan V dan bangunan VI, pagar keliling dan tanggul kuno (arden wall). Bangunan I berupa onggokan tanah dengan dua lobang, diperkirakan sebagain tempat pembakaran mayat. Satu lobang untuk memasukkan mayat dan yang lain untuk mengeluarkan abunya. Bangunan II berupa bekas pondasi bangunan yang terbuat dari batu pasir berbentuk persegi empat. Hingga saat ini belum diketahui apa sebenarnya bangunan itu serta fungsinya.

Bangunan III berada diluar pagar keliling, sekitar 135m dari Candi Mahligai. Bangunan yang dipagari oleh batu bata ini berbentuk segi empat dengan ukuran 3m x 2,4m. sekitar 298m sebelah barat laut Candi Mahligai terdapat bangunan IV yang berupa gundukan tanah. Tahun 1993 dilakukan penggalian dan ditemukan didalamnya susunan batu bata.

Bangunan V dan VI berada pada jarak 334m sebelah barat Candi Mahligai. Bangunan ini hanya tinggal pondasi dan tubuh saja, semetara puncaknya telah rusak dan roboh. Pagar keliling yang terbuat dari pasir berbentuk bujur sangkar, mengelilingi gugusan candi seluas 74m x 74m ini berbeda dengan fisik bangunan yang lain, batu pasir pada pagar keliling ini kelihatan agak gelap dan berlumut. Pagar keliling ini adalah satu-satunya dari situs Candi Muara Takus yang masih terjaga danbelum pernah dilakukan pemugaran.

Arden Wall (Tanggul Kuno), adalah tanah kedukan berparit yang mengelilingi Gugusan Candi Muara Takus sepanjang empat kilo meter. Pada bagian dasar terdiri dari batu kerikil yang ditimbun dengan tanah, dan bagian atas ditanami Bambu Cina yang berfungsi untuk mernahan tanggul agar tidak runtuh.

Tidak hanya itu, hasil dari penelitian lain menyimpulkan bahwa bangunan ini adalah bangunan suci agama Budha dan diperkirakan mempunyai kaitan yang erat dengan Sriwijaya. Semetara DR.F.M. Schnitger, ahli yang juga melakukan penelitian disini memperkirakan bahwa candi candi yang ada adalah kuburan para raja.

Bagaimana tertarik melihatnya? [din] 

Berita Lainnya

Index