Pilkada Bengkalis Diisi Cawabup Dadakan

Pilkada Bengkalis Diisi Cawabup Dadakan

Metroterkini.com - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bengkalis yang akan digelar 9 Desember tahun ini, diisi calon wakil bupati dadakan. Sebab, dari ketiga pasangan calon bupati dan wakil bupati yang mendaftar ke KPU Bengkalis, titik lemahnya ada pada calon wakil bupati. Karena ketiga calon bupati membawa pasangan calon wakil bupati terkesan dadakan.

Amril Mukhminin yang sebelumnya diharapkan menduduki kursi Bupati Bengkalis bersama Sulaiman Zakaria, justru menggandeng Muhammad diposisi cawabup. Keduanya diusung PKS, Partai Nasdem, PBB, PKPI dan PKB.

Sebelum mendaftar ke KPU, Amril hampir dipastikan menggandeng Sulaiman Zakaria menjadi cawabup, namun ditengah jalan Sulaiman malah maju jadi cabup meninggalkan Amril. Hingga akhirnya Amril beberapa hari sebelum pendaftaran menggaet Muhammad mantan Kepala Dinas PU Kota Dumai dan Provinsi Riau.

Pasangan kedua adalah Herliyan Saleh-Riza Pahlefi yang diusung PAN, Gerindra dan Hanura. Digandengnya Riza sebagai cawabup oleh Herliyan sangat mengejutkan masyarakat Bengkalis, walau  Riza sebelumnya pernah menjadi wakil bupati Bengkalis tahun 2000-20o4, dan Ketua DPRD Bengkalis 2004-2009. Namun dinilai kurang berkesan oleh masyarakat Bengkalis.

Awalnya Herliyan juga hampir dipastikan menggandeng Kaderismanto Wakil Ketua DPRD Bengkalis dari PDI Perjuangan. Dengan Status tersangka yang disandang Herliyan pertengahan Juli lalu, membuat PDIP mencabut dukungan dan beralih mendukung pasangan Sulaiman Zakaria. Lebih mengejutkan publik adalah pasangan terakhir yang mendaftar ke KPU Sulaiman Zakaria-Noor Charis Putra.

Kendati Noor Charis Putra anak mantan Ketua DPRD Bengkalis, Annas Ma'mun dan saat ini Gubenur Riau non aktif dengan status narapidana. Namun, Noor Charis Putra masih 'anak bawang' dalam percaturan politik di Negeri Junjungan.

Apakah 'Tuah' Annas Ma'mun dapat mendongkrak ambisi Sulaiman Zakaria-Noo Charis Putra untuk memimpin Bengkalis? Hal itu masih perlu pembuktian.

Selain 'anak bawang' Noor Charis Putra juga dinilai sangat tidak populer di Kabupaten Bengkalis. Sebab, sebelumnya Noor Charis Putra sendiri tidak pernah mengapung dipercaturan perpolitikan Negeri Junjungan. Keduanya maju lewat perahu Partai Demokrat dan PDI Perjuangan.

“Kalau nama Amril Mukhminin, Sulaiman Zakaria dan Herliyan Saleh sendiri jauh-jauh hari sudah begitu membumi di Bengkalis, kalau mereka hampir dipastikan maju pada Pilkada Bengkalis. Tetapi nama Muhammad, Noor Charis Putra dan Riza Pahlefi justru cukup mencengangkan tiba-tiba maju beberapa hari jelang pendaftaran sebagai cawabup  dadakan,” kata Alfi Sahri, pemerhati dari Kecamatan Pinggir Bengkalis memberi pendapat, Selasa (11/08/15).

Menurut Alfi lagi, dibanding Pilkada tahun 2010 lalu, calon bupati saat itu sudah jauh-jauh hari diketahui masyarakat, siapa pendampingnya sebagai cawabup.

Munculnya cawabup dadakan di Bengkalis disebabkan karena berbagai faktor. Seperti kegagalan sejumlah partai politik melahirkan kader yang potensial.

“Ini terlepas dari faktor X, seperti status tersangka korupsi yang disandang Herliyan membuat sejumlah kandidat pendampingnya berfikir ulang untuk berpasangan. Tidak kalah pentingnya adalah peran parpol dalam melahirkan calon pemimpin, karena kekuasaan di Indonesia ini tidak terlepas dari faktor dan proses politik,”sebut Alfi, yang juga pegiat di Serikat Tani Riau (STR) Pinggir ini.

Meskipun dadakan menurut Tun Ariyul Fikri, pegiat muda dari Kota Bengkalis, ketiga cawabup yang sudah mendaftarkan diri ke KPU itu, tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ketiganya memiliki potensi pengimbang dari ketiga cabup tersebut. Meskipun ada pameo dikalangan masyarakat Indonesia, bahwa posisi wakil baik itu wakil presiden, wakil gubernur, wakil bupati/wakil walikota tidak lebih seperti “ban serap”, hanya pelengkap penderita.

“Nama Riza Pahlefi sendiri sudah tidak asing lagi di dunia perpolitikan Bengkalis, ia pernah menjadi wakil bupati, ketua DPRD Bengkalis dan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis. Sosok Muhammad sendiri adalah birokrat tulen, pernah menjadi Kepala Dinas PU Kota Dumai dan Provinsi Riau. Serta Noor Charis Putra, merupakan putra bungsu Anas Ma’amun, juga seorang birokrat yang mewarisi darah politik dari sang bapak,” ujar Tun Ariyul memberi alasan. [rdi]

Berita Lainnya

Index