Ekonomi RI Tumbuh 5,72%, Menko Airlangga: Impresif dan Menguat

Ekonomi RI Tumbuh 5,72%, Menko Airlangga: Impresif dan Menguat

Metroterkini.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatatkan kinerja impresif, di tengah perekonomian dunia yang terkoreksi ke bawah. Pada kuartal III-2022, ekonomi Indonesia tumbuh 5,7%.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2022 telah melebihi pertumbuhan ekonomi sebelum pandemi, atau 2019. Ekonomi Indonesia di triwulan III mencatatkan pertumbuhan impresif, yaitu 5,72%, atau 1,81% secara quarter-to-quarter(qtq), atau secara kumulatif 5,4%," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin (7/11/2022).

Dia mengatakan, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga sangat solid sebesar 5,39%, didukung oleh investasi atau PMTB sebesar 4,96%. Dari sisi sektoral, transportasi pergudangan akibat digitalisasi meningkat pertumbuhannya menjadi 25,81%, akomodasi dan makan minum sebesar 17,83% seiring dengan pulihnya mobilitas masyarakat akibat penanganan pandemi yang baik dan terkendali.

"Secara spasial, pertumbuhan menguat. Kita lihat dari beberapa daerah menunjukkan kinerja positif, hampir seluruh provinsi lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, dan dari segi keseluruhan, Jawa masih 56,3%, wilayah Timur juga kinerjanya impresif, Sulawesi pertumbuhannya 8,24%, demikian pula secara year-on-year (yoy) Maluku dan Papua pertumbuhannya juga impresif," jelas Airlangga.

Oleh karena itu, sebut dia, neraca perdagangan juga terpantau masih positif. Kendati demikian, tantangan-tantangan ke depan masih harus diwaspadai, seperti penurunan harga komoditas dan pelemahan permintaan global. Di bulan September lalu, pertumbuhan neraca perdagangan surplus USD4,99 miliar, atau surplus 29 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

"Januari-September 2022 ini total surplus USD39,87 miliar. Ekspor impor Indonesia yang tumbuh impresif sepanjang 2022 juga didukung oleh peningkatan harga komoditas ekspor, terutama pada ekspor utama kita seperti batu bara, CPO, dan besi baja. Namun kenaikan harga tersebut dapat berakhir bila komoditas kembali pada kondisi normal, karena volume daripada ekspor cenderung tetap," ungkap Airlangga.

Di saat yang sama, perlemahan permintaan global tentu akan menahan laju ekspor Indonesia ke depan.

"Kondisi ini sudah mulai berdampak pada beberapa industri, khususnya terkait dengan sektor tekstil dan produknya," pungkas Airlangga. [**]

Berita Lainnya

Index