Objek Wisata di Rohul Jadi Ajang Pungli Saat Lebaran

Objek Wisata di Rohul Jadi Ajang Pungli Saat Lebaran

Metroterkini.com - Liburan Hari Raya Idul Fitri 1437 H, ternyata dibuat kesempatan untuk mengeruk keuntungan pribadi bagi para petugas karcis di Obyek Wisata Hapanasan Rokan Hulu (Rohul).

Terbukti, ada beberapa pengunjung di Obyek Wisata Hapanasan yang merasa dirinya ditarif tidak sesuai karcis. Bahkan, ada pula tanpa karcis dengan mematok harga untuk dewasa.

Seperti yang dialami oleh rombongan wisata dari Gading dan Rumbio Kabupaten Kampar, ketua rombongan Abdullah terkejut ketika datang berkunjung ke Obyek Wisata Hapasan dengan dikenai karcis sebesar Rp. 5000 untuk orang dewasa dan Rp. 3000 untuk anak-anak. Namun, anehnya kami semua rombongan dikenakan karcis Rp.5000 per orang padahal banyak anak-anak yang ikut dalam rombongan tersebut. Bahkan, saat dimintai karcis maupun tiket tidak dikasih dengan dalih tiketnya sudah habis.

“Saya minta karcis (tiket,red), tapi tidak dikasih. Katanya masuk saja, karcisnya habis. Saya tidak tahu apakah itu petugas resmi atau bukan, yang jelas tidak menggunakan pakaian seragam,” ujar Abdullah, kepada metroterkini.com, Minggu (10/7/16).

Karena kecewa, Abdullah dan rombongan pun hanya betah setengah jam di tempat itu dan memilih untuk mengunjungi destinasi wisata di tempat lain saja. Sudah bayar karcis mahal nggak dikasih karcis pula,” kata Abdullah kesal.

Bukan hanya Abdullah yang kesal lantaran ulah “oknum” di tempat wisata itu. Beberapa pengunjung wisata, baik dari luar daerah maupun lokal Rokan Hulu merasa sangat dirugikan oleh oknum tersebut. Di tempat wisata seperti ini besaran pungutannya tidak seragam. Ada pengunjung yang mengaku diminta membayar Rp 5.000, ada pula pengunjung yang mengaku hanya membayar Rp 3000.

Sementara itu masih ditempat yang sama, Kasi Disbudpar Rokan Hulu, Ermayulis, membantah jika di tempat-tempat yang biasa dikunjungi wisatawan ada oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan. Akan tetapi, terkait hal itu akan dikoordinasikan dengan atasannya. Sebab, dikhawatirkan itu bukan petugas wisata, melainkan orang lain.

"Tetap akan kami koordinasikan dulu Pak, apakah praktik itu benar atau tidaknya", terangnya. [man]

Berita Lainnya

Index