Jokowi Tanya Terobosan Nadiem Selama Jadi Menteri

Ahad, 02 Mei 2021 - 22:11:46 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanyakan kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim ihwal terobosan yang telah dibuat untuk mendorong dunia pendidikan.

Mulanya, pada diskusi memperingati Hari Pendidikan Nasional tersebut, Jokowi menyinggung soal pesan yang telah disampaikannya ke Nadiem sebagai menteri yang menaungi kebijakan di bidang pendidikan.

"[Saya ingin] Pendidikan untuk semua. Inklusif. Sampai ke pinggiran, sampai ke pelosok desa Tanah Air. Tapi pendidikan yang berkualitas, yang kompetitif. Dua-duanya harus berjalan bersamaan. Ini kan yang saya tugaskan ke Mas Menteri," kata Jokowi dalam diskusi bersama Nadiem Makarim yang disiarkan YouTube Kemendikbud RI, Minggu (2/4).

Selain perkara pemerataan dan kualitas pendidikan, Jokowi juga membahas soal digitalisasi sekolah. Ia mengatakan digitalisasi kian dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19. Karena itu Jokowi pun menanyakan proses pembelajaran jarak jauh kepada Nadiem.

Nadiem menjawab bahwa pembelajaran jarak jauh banyak menemukan kendala. Tapi dia mengklaim, pandemi justru mendorong sebagian guru dan siswa menjadi semakin peka dengan platform digital.

"Jadi ini kesempatan emas bagi kita untuk ikuti perkembangan dan menggunakannya untuk transformasi pendidikan. Walaupun anak kembali ke sekolah, tapi platform teknologi akan meningkatkan kolaborasi guru, orang tua, murid dengan cara yang belum bisa kita prediksi. Tapi kesempatannya banyak," jawab Nadiem.

Jokowi kemudian menanyakan, apakah Nadiem sudah memiliki terobosan-terobosan yang digunakan untuk mendorong pendidikan agar jadi lebih maju.

"Jadi, sudah ada terobosan?," tanya Jokowi.

Nadiem pun menjawab, terobosan itu sudah ia jalankan melalui pelbagai kebijakan. Beberapa di antaranya dengan mengubah Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional (AN), di mana siswa bakal dinilai berdasarkan kemampuan literasi dan numerasi.

Mantan bos Go-jek itu mengatakan, siswa juga bakal mengikuti survei karakter dalam asesmen tersebut. Nantinya, kata Nadiem, survei bisa memetakan situasi siswa di sekolah terkait isu intoleransi, kekerasan seksual hingga, perundungan atau bullying.

"Bisa kita ukur, per sekolah ada peta-petanya. Ini program big data pertama kita. Pak Presiden sering menagih saya lakukan digital government. Ini step pertama kita," jelas Nadiem.

Selanjutnya merespons pertanyaan Jokowi soal terobosan, Nadiem turut mengungkap telah membuat program regenerasi kepemimpinan melalui Guru Penggerak. Program ini nantinya bakal menelurkan kepala sekolah, pengawas hingga pemimpin untuk sekolah-sekolah.

Lalu Nadiem pun menyoroti fleksibilitas serta perubahan yang ia lakukan terhadap dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.

Dia juga menyebut, program Kampus Merdeka--di mana Nadiem memberi kesempatan agar mahasiswa bisa belajar di luar kampus--sebagai salah satu terobosannya di pendidikan tinggi.

Jokowi lalu lanjut menanyakan upaya yang sudah dilakukan Nadiem terkait infrastruktur dan teknologi di sekolah. Nadiem pun mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika soal hal tersebut.

"[Kami] Bekerja sama dengan Menkominfo untuk memastikan sekolah jadi prioritas koneksi internet. Dari Kemendikbud kami siapkan program distribusi laptop terbesar yang pernah terjadi," lanjut Nadiem.

Diketahui, Nadiem Anwar Makarim ditunjuk Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019 lalu dengan harapan mampu membawa perubahan besar pada pendidikan Indonesia.

Keputusan Jokowi itu sempat membuat lingkungan pendidikan terkejut karena Nadiem tidak memiliki latar belakang di dunia pendidikan.

Beberapa kali nama Nadiem pun santer dikabarkan akan diganti ketika Jokowi hendak melakukan kocok ulang atau reshuffle kabinet.

Isu itu kembali mencuat ketika Kementerian Riset dan Teknologi ingin dilebur ke Kemendikbud. Namun Nadiem berhasil mempertahankan kursi menteri pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi hingga saat ini.

Meski begitu, kinerja Nadiem tak luput dari kritik dari pegiat dan praktisi pendidikan. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) misalnya, pernah memberikan rapor merah atas kinerja satu tahun pertama Nadiem menjadi menteri. [**]
 


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT