Jelang Musim Hujan, 7 Desa di Ponorogo Siap-siap Gagal Panen

Jelang Musim Hujan, 7 Desa di Ponorogo Siap-siap Gagal Panen

Metroterkini.com - Jelang datangnya musim penghujan akhir tahun ini, sejumlah petani di tujuh desa di Kabupaten Ponorogo nampaknya harus siap- siap gagal panen. Dibalik kedatangan musim penghujan yang ditunggu- tunggu petani tersebut, justru merupakan momok bagi lahan pertanian di tujuh desa yang tersebar di tiga kecamatan yakni Balong, Jetis dan Bungkal.

Pasalnya, tiap kali musim penghujan tiba, puluhan hektar sawah di Desa Mojopitu (Kecamatan Slahung), Bedikulon (Kecamatan Bungkal), Karangan, Balong, Ngampel dan Bajang (Kecamatan Balong), Josari (Kecamatan Jetis), terpaksa tidak bisa menanami lahan sawahnya karena selalu terkena banjir. 

Hingga saat ini, ketujuh desa itu seakan belum bisa keluar dari ‘kutukan’ banjir yang selalu melanda. Harapan petani yang sudah diusulkan kepada pemkab tujuh tahun silam nyatanya hingga kini juga belum mendapat respon. 

“Saya dan petani yang lain ditujuh desa terpaksa menunggu nasib. Tiap musim hujan dipastikan banjir dan petani merugi akibat gagal panen. Ini terus berlangsung sudah tujuh tahun ini,” ujar Bandat (60 tahun) petani asal Bedikulon, Senin (19/10).  

Setiap musim penghujan para petani bermimpi bisa menanam padi dan menikmati hasil panenan untuk dibawa pulang, namun keadaan berkata lain. “Selesai saya matun, terus terkena banjir. Ya kalau hanya satu atau dua hari. Ini bisa satu minggu atau lebih banjir baru surut. Dengan kondisi  ini tanaman padi pasti akan rusak dan mati. Kejadian ini terus berlangsung selama tujuh tahun,”  jelasnya.

Sambil menikmati secangkir kopi di warung kopi samping SMPN 1 Balong, Bandat berkeluh kesah soal nasib yang menimpa para petani diwilayahnya. “Jika ditanya perasaan karena banjir, yang ada cemas, gelisah dan gundah gulana, semua bercampur,” keluhnya. 

Namun, dibalik banjir yang selaluterjadi ini, para petani yakin kalau banjir itu bukan kutukan. Mereka masih yakin jika banjir bisa dihindari jika usulan mereka untuk normalisasi sungai direalisasikan oleh pemkab. Namun harapan itu hingga kini masih menjadi impian. “Gagal panen sudah pasti. Tapi Saya yakin banjir ini bukan takdir,”  lanjutnya.

Keyakinan Bandat soal banjir bukan takdir itu nampaknya mulai ada titik terang. Secercah harapanpun muncul tatkala alat berat bego datang dan mulai minggu ini sudah melakukan normalisasi di sungai Pelem Balong. 

Hal senada juga diceritakn Misdi  (57 Tahun) petani asal Desa Balong. Dirinya dan petani lain sudah enam tahun lalu melaporkan ke Pemkab Ponorogo. Dengan harapan ada penanganan serius dari dinas terkait. 

“Saya dan warga lain menceritakan kondisi yang dialami sebagai petani di Desa Balong setiap musim penghujan, sawahnya selalu tergenang air,” ujarnya. 

Namun apa yang terjadi, sampai tujuh tahun berjalan belum ada tindakan dari pemkab Ponorogo untuk mengatasi langganan banjir ini. Sementara itu, Lukmanul Hadi salah Kades Desa Bedikulon mengungkapkan, mengantisipasi musim hujan yang diprediksi mengguyur Kabupaten Ponorogo mendatang, sungai Pelem yang berada di Kecamatan Balong  sepanjang  5 km mulai dilakukan pengerukan. Pengerukan kali yang diduga menjadi penyebab tidak lancarnya arus air hujan tersebut diharapkan dapat meminimalisir dampak banjir. 

“Setiap tahun kelompok tani yang ada di tujuh Desa minta Pemkab untuk dilakukan normalisasi.  Dan jawabnya hanya Tahun Ngajeng, Tahun Ngajeng, ngantos nunggu 7 tahun. Mudah- mudahan  pengerukan sungai Pelem bisa memperlancar aliran sungai,” ucapnya. 

Menurutnya ide awal dari tujuh kelompok tadi di tujuh Desa. Mereka mengadakan pertemuan beberapa kali dan disepakati swadaya kelompok tani di tujuh desa dan terkumpul dana Rp 7 juta untuk mendatangkan alat berat.  

Rencana swadaya petani inipun mendapat dukungan dari salah satu Calon Bupati yang diusung Partai Demokrat, Golkar, PKS dan Hanura yaitu  Sugiri Sancoko yang ikut hadir dan membantu terlaksananya normalisasi sungai pelem ini. “alhamdulillah dari pertemuan di warung- warung yang berlanjut dirumah rumah tujuh kepala desa akhirnya terwujudlah pengerukan sungai Pelem,” tukasnya. [Nurcholis]

Berita Lainnya

Index