Warga Keluhkan Pembangunan Jembatan Dibiarkan Mangkrak

Kamis, 22 Oktober 2015 | 00:00:11 WIB

Metroterkini.com - Warga Jalan Sedap Malam Kelurahan Probosuman, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo Jawa Timur ini layak was-was. Pasalnya jembatan di wilayah tersebut dinilai sangat sentral sebagai jalan penghubung, namun kenyataanya harus terbiar mangkrak tak dilanjutkan pengerjaannya. Warga sekitar melihat sudah hampir tiga minggu ini para pekerja yang jumlah tak lebih dari 5 orang itu tak lagi berada dilokasi.

Ruslan salah satu warga Purbosuman, Kamis (22/10) mengungkapkan rasa kecewanya pada pembangunan jembatan yang sanagt penting bagi kelangsungan transportasi warga sekitar. Awalnya, dia sudah menaruh kecurigaan saat pembangunan  jembatan dengan panjang sekitar 10 meter itu hanya dikerjakan tak lebih dari 5 orang setiap harinya. Dan terbukti, sudah hampir tiga minggu tak terlihat lagi pekerja berada di lokasi. 

"Ini ada yang aneh, membangun jembatan yang sangat besar, pekerjanya hanya sedikit. Setelah sekitar satu bulan setengah berjalan, akhirnya berhenti total," kesal Ruslan.

Akibatnya, kata Ruslan yang juga Ketua Gapoktan itu, warga sangat was-was jika turun hujan yang dapat menyebabkan ambrolnya tanah sekitar. Belumi material yang berserakan dipinggir jalan dekat rumah warga dinilianya cukup mengganggu. 

"Kalau sudah turun hujan lebat sangat mengkutirkan. Harusnya Dinas terkait segera melakukan langkah-langkah agar tidak membahayakan warga sekitar," jelasnya.

Sementara itu, pelaksana Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ponorogo, Jamus Kunto ditemui dikantornya mengakui ada beberapa pekerjaan yang tidak memenuhi target waktu yang telah ditentukan atau bisa dibilang tidak selesai. Dalam pantaunya, atas kejadian itu sudah diambil langkah-langkah sesuai dengan ketentuan, seperti drainase jalan Pramuka ternyata rekanan tidak mampu menyelesaikan. 

“Sehingga dilakukan putus kontrak,” tandasnya. 

Untuk jembatan di Probosuman, lanjut Jamus juga sudah dilakukan pengiriman surat peringatan sampai tiga kali ternyata tidak ada perubahan dari rekanan, termasuk akan diputus kontrak. Memang ini harus dilakukan evaluasi secara mendalam mulai dari proses pengadaan dulu, proses pelelangannya. 

“Waktu itu mengapa bisa menunjuk rekanan seperti itu, apakah karena harga yang paling rendah tanpa melihat kemampuannya. Sebab didua tempat ini rekanan yang sama,” terangnya.

Langkah berikutnya, pihaknya upayakan diawal tahun 2016 itu nanti memulai lelang untuk sisanya, dengan tim Anggaran sebab RAPBD ini sudah dihitung kebutuhannya nanti untuk pengerjaan ditahun 2016. Jadi, dibulan Desember ini sudah bisa dilelang agar diawal tahun 2016 nanti sudah bisa dikerjakan. 

"Tentunya dengan proses lelang yang sangat ketat supaya dapat kita temukan rekanan yang benar-benar mampu mengerjakan. Untuk kekewatiran warga secara kedinasan tidak mampu berbuat banyak karena memang proses alurnya seperti itu atau dengan kata lain ada mekanisme yang mengaturnya," pungkasnya. [nur]

Terkini