Metroterkini.com - Pagi itu di Komplek Purna MTQ, Pekanbaru, suasana terasa berbeda. Deru mesin bus bersahut-sahutan, namun yang lebih terasa justru tawa, pelukan, dan raut wajah penuh harap dari ratusan warga Himpunan Keluarga Rokan Hulu (HKR) Pekanbaru yang sudah berkumpul sejak pagi.
Bagi mereka, ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah pulang yang sudah lama dinantikan, menuju Rokan Hulu, tanah yang menyimpan kenangan masa kecil, keluarga, dan akar kehidupan.
Untuk pertama kalinya, Halal Bihalal HKR Pekanbaru digelar langsung di kampung halaman. Sebuah keputusan sederhana, namun penuh makna mendekatkan kembali hati yang lama berjauhan.
Di tengah keramaian, Bupati Rokan Hulu, Anton, hadir melepas rombongan, Sabtu (18/4/2026). Ia tidak sekadar memberi sambutan, tetapi menyalami satu per satu warganya seolah memastikan bahwa setiap orang yang berangkat membawa rasa dihargai dan dirindukan.

Perjalanan menuju Pasir Pengaraian bukan hanya soal jarak, tetapi perjalanan batin. Ada rindu yang ingin dituntaskan, ada cerita yang ingin dibagikan, dan ada harapan untuk kembali terhubung dengan tanah kelahiran.
Sesampainya di Negeri Seribu Suluk, para peserta tidak hanya akan bersilaturahmi, tetapi juga diajak melihat wajah kampung halaman yang terus berkembang. Mereka dijadwalkan mengunjungi sejumlah lokasi serta melaksanakan ibadah bersama di Masjid Agung Islamic Center Rokan Hulu ikon kebanggaan daerah.
Puncak kebersamaan akan terasa saat seluruh peserta berkumpul dalam jamuan makan bersama di kediaman Bupati. Di sana, sekat jabatan dan jarak akan luluh, berganti dengan kehangatan keluarga besar.
Yang membuat perjalanan ini semakin berarti, para perantau tidak perlu memikirkan tempat tinggal atau kebutuhan lainnya. Semua telah disiapkan oleh pemerintah daerah, seolah ingin berkata “Pulanglah, kami sudah menunggu dan merindukan kebersamaan.”
Lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan ini menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Mengingatkan bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, selalu ada jalan untuk kembali dan berkontribusi membangun kampung halaman.
Bus rombongan itu kini melaju, membawa bukan hanya penumpang, tetapi juga rindu yang lama tersimpan. Di ujung perjalanan, mereka tidak hanya akan bertemu keluarga, tetapi juga menemukan kembali makna pulang.[man]