Metroterkini.com - Bencana banjir yang melanda Kabupaten Kampar kali ini merupakan bencana terbesar sejak tahun 1978 yang termasuk bencana yang paling dasyat karena menggelamkan pemukiman penduduk sepanjang aliran Sungai Kampar.
Demikian disampaikan Kepala Subbag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar, H Muhammad Hakam MAg, didampingi Humas Kemenag Kampar Gustika Rahman SPdI, saat meninjau banjir dibeberapa titik yang terkena dampak banjir.
Titik-titik yang dintinjau oleh Hakam beserta rombongan, mulai dari daerah Kampung Gadang, Kumantan, Batu Belah, tanjung ambutan, hingga daerah simpang kubu. yang mana dalam peninjauan tersebut masyarakat mengungkapkan kesedihannya, mulai dari barang-barang berharga yang tidak bisa diselamatkan, binatang ternak, dan lain sebagainya. Bahkan yang paling menyedihkan, ada 3 keluarga di Desa Batu Belah yang sudah tua rentan dengan penyakit, belum bisa di evakuasi dari malam hingga siang harinya, karena tidak adanya alat transportasi air.
Dalam peninjauan tersebut, juga ada laporan dari masyarakat, bahwasanya sudah 2 hari tak makan-makan dan tidak tidur, karena terjebak banjir. "Banjir kali ini, mengaharukan kita semua, untuk itu, Hakam mengajak seluruh masyarakat Kab. Kampar , terutama Pegawai dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar, yang tidak terkena banjir, kiranya bisa mengeluarkan sedikit rezkinya untuk meringankan beban masyarakat kita yang terkena banjir," kata H Muhammad Hakam MAg.
Sementara Humas PLN Wilayah Riau, Sarno saat dihubungin malalui sambungan selulernya tak diangkat dan belum bisa dikonfirmasi, padahal dari beberapa sumber warga yang terkena dampakknyaa banjir yang diakibatkan kelalaian dari pihak PLTA Koto Panjang sendiri.
Mengaku, kuncinya sebenarnya adanya di operator pintu air waduk PLTA koto panjang,sehingga mengakibatkan banjir bandang yang meluluhlantakan harta benda masyarakat di sepanjang aliran sungai kampar.
"Kami minta PLTA Harus bertanggung jawab atas musibah ini," ungkapnya. [ali]