Satelit NOAA-18 Temukan 277 Hotspot Di Pelalawan

Satelit NOAA-18 Temukan 277 Hotspot Di Pelalawan

Jumlah hotspot semakin meningkat di Kabupaten Pelalawan. Data satelit NOAA-18 yang diperoleh dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pelalawan terdapat 277 titik panas yang tersebar disejumlah kecamatan di daerah ini. Ratusan titik panas itu merupakan akumulasi sejak awal hingga 21 Juni. Meski dikepung hotspot, namun kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan belum mengganggu aktivitas masyarakat.

Pelakasana tugas Kepala BLH Pelalawan Drs H Edi Suriandi melalui Sekretaris Emir Effendi,S.Sos menjelaskan, kendati ada peningkatan jumlah titik panas yang terpantau satelit, namun kabut asap belum mengganggu aktivitas masyarakat.

"Memang hotspot bertambah, tapi alhamdulillah kabut asap tampaknya tidak mengganggu kegiatan masyarakat. Bahkan kita tengok hanya kabut tipis saja sehingga jarak pandang tidak terganggu," terangnya kemarin.

Mantan Kabag Humas Pelalawan menambahkan, 227 titik panas yang terpantau satelit milik Singapura itu terangkum sejak 1-21 Juni dan tersebar disejumlah kecamatan. "Seperti sebelumnya, titik api tak hanya ditemukan di areal masyarakat, tapi juga di kebun dan areal HTI dan HPH perusahaan," jelasnya sambil menyebutkan hotspot ditemukan pada kebun perusahaan sebanyak 38 titik, areal peruntukkan lain (APL) yang biasanya merupakan areal masyarakat 89 titik dan HTI 53 titik serta HPH 36 titik.

Dilanjutkan Emir, mantan Camat Langgam lagi, ratusan hotspot tersebut terdata hanya lima kecamatan, yakni Langgam 85 titik, Pangkalan Kuras 47 titik, Kuala Kampar 45 titik, Ukui 33 titik dan Kecamatan Bunut 17 titik.

"Itu data satelit mencakup hanya lima kecamatan. Namun, karena data desa dan kecamatan itu sudah lama dan sudah terjadi pemekaran sebenarnya titik api itu ditemukan dibeberapa kecamatan pemekaran," paparnya.

Emir juga menjelaskan, meski sampai Kamis (21/6/12) hotspot terpantau 227, namun berdasarkan grown check di lapangan dibeberapa titik sudah padam. "Kemarin kan ada orang dari KLH pusat langsung meninjau di Pangkalan Kerinci dan Langgam, meski ada titik yang bertambah tapi ada pula yang sudah padam," ujarnya sambil menyebutkan dua nama staf KLH yakni Ela dan Kuswoyo yang melakukan peninjauan langsung ke Desa Rantau Baru Pangkalan Kerinci dan Desa Segati Kecamatan Langgam.

Sekretaris BLH yang juga pernah menjabat sebagai Lurah Pangkalan Kerinci Barat dan Pangkalan Kerinci menyebutkan, berdasarkan informasi pihak KLH, bahwa satu hotspot terpantau satelit itu mencapai luasan 1 hektar. "Luasan hektar disini bukan saja api,tapi titik panas saja terpantau," terang Emir.

Untuk mengantisipasi karhutla yang berujung pada kabut asap ini lanjut Emir, pihaknya juga telah melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait. "Salah satu intinya SKPD terkait untuk menegur langsung perusahaan yang arealnya ditemukan titik panas untuk segera memadamkannya. Seperti Dishut diminta berkoordinasi dan menegur perusahaan pemegang HPH dan HTI dan Disbun diminta menegur perusahaan perkebunan yang lahannya terdeteksi hotspot," ujarnya.

Selain itu kepada masyarakat juga diingatkan untuk tidak memanfaatkan kondisi seperti saat ini membuka lahan dengan cara membakar. "Saya belum tahu persis apakah pelaku pembakaran lahan yang ditangkap tangan. Namun dalam waktu dekat kami juga akan melakukan rapat khusus yang melibatkan pihak kepolisian, karena memang membakar lahan ini ada sanksi hukumnya," tandas Emir.

Dia juga menambahkan, berdasarkan informasi dari BMKG yang diterima, kemungkinan bermunculan titik panas semakin meningkat, mengingat prediksi BMKG bahwa selama tahun 2012 akan terjadi musim kemarau panjang karena adanya gejala elnino.

"Sekali lagi kita minta masyarakat menghentikan aksi pembakaran lahan juga pihak perusahaan hendaknya terus mengawasi dan memantau lahan mereka baik perkebunan, HTI maupun HPH agar tidak meluasnya titik panas. Ya kalau ditemukan segera dipadamkan," paparnya sambil berharap hujan segera turun untuk memadamkan seluruh titik api yang ada.**am

Berita Lainnya

Index