Metroterkini – Kondisi sekolah marginal di Kabupaten Kepulauan Meranti masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya minat belajar siswa, sulitnya akses menuju sekolah hingga persoalan infrastruktur.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten terus berupaya untuk memastikan anak-anak diwilayah terpencil memperoleh hak pendidikan yang layak.
5 sekolah tersebut diantaranya berada di Dusun Air mabuk Desa Mengkikip Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Dusun 2 Mekun Sungai Baru Desa Baran Melintang Kecamatan Pulau Merbau, Desa Sokop Kecamatan Rangsang Pesisir, Tanjung Samak Kecamatan Rangsang dan Nerlang Kecamatan Tebing Tinggi Timur.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepulauan Meranti melalui Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Kepulauan Meranti Irwanto, SE mengatakan, kita turun langsung bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Tunjiarto, M.Pd dan juga Kabid Pembinaan Ketenagaan melihat kondisi di lapangan dan mendapatkan data yang ada saat ini terdapat lima sekolah marginal tingkat SD di Kabupaten Kepulauan Meranti yang menjadi perhatian khusus.
"Saat ini ada lima sekolah marginal yang tersebar di Kepulauan Meranti. Fokus kita bagaimana siswa di sana tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak seperti anak-anak di sekolah lainnya. Karena rata-rata sekolah tersebut menumpang, ada yang numpang di posyandu bahkan di virahara," ujarnya, Selasa (26/05/2026) diruang kerjanya.
Ia menjelaskan, setelah melakukan kunjungan langsung ke lapangan, ditemukan sejumlah persoalan yang dihadapi sekolah-sekolah tersebut. Salah satunya rendahnya minat belajar sebagian siswa yang berasal dari kelompok Komunitas Adat Terpencil (KAT).
Menurutnya, pendekatan pendidikan bagi siswa di sekolah marginal tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan sekolah umum lainnya.
"Kita tidak menekankan penerapan pembelajaran yang sama persis seperti sekolah negeri pada umumnya. Fokus utama saat ini adalah memastikan siswa mampu membaca, menulis, dan berhitung sebagai dasar pendidikan," jelasnya.
Selain itu, kondisi akses menuju sekolah juga menjadi tantangan tersendiri. Salah satu sekolah di wilayah SDN 12 Desa Mengkikip Dusun Air Mabuk misalnya, memiliki akses yang cukup sulit dijangkau.
"Perjalanan menuju lokasi harus menggunakan pompong selama lebih kurang satu jam 30 menit itu jika kondisi cuaca membaik, jika cuaca kurng baik dan banyak gelombang bisa lebih dari 2 jam. Tentu kondisi seperti ini menjadi tantangan tersendiri," katanya.
Ia juga mengaku prihatin terhadap perjuangan para guru yang tetap menjalankan tugas mengajar di tengah keterbatasan akses dan medan yang sulit.
Meski begitu, adanya program Insentif Guru Daerah Khusus atau Tunjangan Khusus Guru dinilai dapat membantu memberikan tambahan penghasilan bagi guru yang mengabdikan diri di daerah terpencil.
"Kita mengapresiasi perjuangan para guru yang telah mengabdikan diri di wilayah tersebut. Setidaknya tunjangan khusus ini dapat membantu menambah penghasilan bagi mereka," ungkapnya.
Tidak hanya itu, kondisi infrastruktur sekolah juga dinilai masih jauh dari ideal. Namun berbagai upaya terus dilakukan agar siswa yang berada di sekolah marginal tetap mendapatkan perlakuan dan pelayanan pendidikan yang setara.
Selain persoalan tersebut, masih ditemukan sekitar 30 persen siswa marginal yang belum tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Meski demikian, hal itu tetap diupayakan untuk diakomodasi.
"Kita turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi yang ada sekaligus mencari solusi dari berbagai persoalan, agar anak-anak di daerah terpencil tetap mendapatkan hak pendidikan yang lebih baik," tutupnya.
Ia berharap ke depan seluruh pihak dapat bersama-sama memberikan perhatian terhadap sekolah marginal, baik dari sisi sarana, akses pendidikan maupun dukungan terhadap tenaga pendidik, sehingga tidak ada lagi anak-anak di daerah terpencil yang tertinggal dalam mendapatkan hak pendidikan yang setara.
Selain sekolah marginal, perhatian juga diberikan kepada sekolah negeri yang berada di wilayah terpencil dan memiliki akses yang cukup sulit. Kabid Dikdas Kepulauan Meranti menegaskan bahwa sekolah-sekolah tersebut juga menjadi bagian dari agenda pemantauan dan kunjungan lapangan.
"Dalam hal ini kita juga tidak melupakan sekolah-sekolah negeri yang berada di daerah terpencil. Salah satunya SDN 10 Batang Buah yang akses menuju sekolah tersebut tergolong cukup sulit," ujarnya.
Ia menjelaskan, masih banyak agenda kunjungan kerja yang akan dilakukan ke sejumlah sekolah yang berada di wilayah jauh dan memiliki akses transportasi yang tidak mudah dijangkau. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi sekolah sekaligus menyerap berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan.
Beberapa wilayah yang masuk agenda kunjungan di antaranya Desa Topang, Tanjung Sari, Tanjung Gadai, Teluk Buntal, Tanjung Bunga hingga wilayah Tanjung Padang, Kecamatan Tasik Putri Puyu.
"Kita ingin memastikan seluruh sekolah, termasuk yang berada di wilayah terpencil, tetap mendapatkan perhatian yang sama. Dengan turun langsung ke lapangan, persoalan yang ada bisa diketahui dan dicarikan solusi secara bertahap," tutupnya.