Pengembangan Bioethanol Nipah Butuh Dukungan Pusat

Jumat, 19 September 2014 - 00:00:10 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) bioethanol yang diolah dari nipah merupakan alternatif sumber BBN masa depan. Keberadaannya diyakini bakal mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil yang selama ini menyedot keuangan negara dalam bentuk subsidi yang cukup besar.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Bengkalis, Dr Sopyan Hadi, mengatakan pengembangan bioethanol butuh dukungan Pemerintah Pusat.

Sementara keuntungan memakai BBN ini, pertama menghemat BBM fosil sebesar 10%, kedua kualitas oktan BBN lebih tinggi dengan kualitas pembakar sempurna, rendah emisi dan lebih hemat dan ramah lingkungan, ketiga harga jual BBN bioethanol tidak terlalu mahal dibandingan dengan produk BBM fosil oktan sejenis yang masih import, contoh Pertamax Plus, keempat, Bioethanol merupakan sumber energi terbaharukan yang menciptakan lapangan kerja tinggi dan pengetasan kemiskinan dalam memproduksinya.

Namun demikian, dalam pengimplementasiannya tidak semudah yang dibayangkan. Salah satunya adalah belum ada regulasi yang mengatur secara jelas tentang perdagangan BBN, serta bagaimana peran Pemerintah pusat melalui Pertamina dalam pemasaran produk bioethanol ini.

"Kalau dari sisi produksi sebenarnya tidak ada masalah, karena bahan baku banyak tersedia dan secara teknologi kita mampu," kata Sopyan.

Sambil menunggu adanya regulasi, menurut alumni Fakultas Perikanan UR ini, pada tahap awal perlu diterapkan kawasan terbatas produksi biothanol dalam bentuk BBN Mix, yaitu campuran antara bioethanol dan premium dengan perbandingan tertentu.

Ada beberapa skema yang ditawarkan yaitu skema 1 dengan penekanan pada pertumbuhan cepat produsen bioethanol Rp50.000/L dan penyesuaian harga BBM fosil premium substitusi Rp8.000/L

Untuk 10 liter BBN MIX oktan diatas 95 diperlukan 1 liter bioethanol dengan harga Rp50.000/L dan ditambah 9 liter BBM fosil premium subsidi yang dibeli seharga Rp8.000/L didapatkan untuk 10 Liter harga total sebesar Rp122.000 atau Rp12.200/Liter.

Kemudian skema 2 dengan penekanan pertumbuhan lambat produsen bioethanol Rp30.000/L dan penyesuaian harga BBM fosil premium substitusi Rp10.000/L.  

Untuk 10 liter BBN MIX  oktan diatas 95 diperlukan 1 liter bioethanol dengan harga Rp30.000/L dan ditambah 9 liter BBM fosil premium subsisdi yang dibeli seharga Rp10.000/L didapatkan untuk 10 Liter harga total sebesar Rp120.000-atau Rp12.000/Liter.

Menurut Sopyan, penekanan skema untuk bahan bakar nabati mix atau campuran bioethanol dan premium dengan perbandingan 1 : 9 atau substitusi 10% bioethanol yang dianjurkan pemerintah, saat ini yang diperlukan kearah skema model tata niaga yang saling menguntungkan, dan menumbuhkan kemandirian energi di tingkat lokal berbentuk penerapan kawasan khusus bahan bakar nabati.

“Kawasan ini terbatas dalam penentuan harga jual serta harga peneyeimbang untuk kebutuhan pembelian BBM substitusi premium subsidi dengan harga khusus dan harga bioethanol yang juga khusus,” kata Sopyan.

Guna mewujudkan ini perlu dukungan pemerintah pusat untuk menerapakan suatu percontohan kawasan khusus bahan bakar nabati yaitu di Provinsi Riau. Serta dukungan PT Pertamina untuk membantu penyedian substitusi untuk kebutuhan BBN mix,  yaitu BBM Fosil subsidi dengan harga khusus yang tidak merugikan dan membebankan negara yaitu antara harga skema Rp8.000,-  – Rp10.000,-/L .

"Kemudahan perizinan membangun tangki-tangki blanding, stasiun pengisian atau SPBU BBN di beberapa tempat yang bertemakan promosi energi BBN PRO ENVIRONMENT, PRO JOB, PRO POOR serta kemudahan memasarkan produk bioethanol Balitbang Bengkalis dengan merek ‘ECOFUEL’ hasil asli produk Indonesia murni dalam bentuk kemasan 1 liter yang bisa dipasarkan menyeluruh di seluruh SPBU Indonesia," harap Sopyan. [rdi]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT