Peninggalan Sejarah di Riau Semakin Hilang Akibat Pembangunan

Jumat, 12 September 2014 - 00:00:18 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Akibat belum didaftarkan ke pemerintah pusat, beberapa peninggalan sejarah di Pekanbaru, Provinsi Riau, mendapat sorotan tajam dari Sejarawan Riau Profesor Suhardi. Selain itu, dia juga mengungkapkan akibat hal tersebut beberapa peninggalan bersejarah telah hilang.

"Makam panjang di kawasan Jondul yang hilang. Bahkan sudah jadi perumahan," ujarnya kepada wartawan, Jumat (12/9).

Tak hanya Makam Panjang, Suhardi juga menyebutkan ada Masjid Menara Condong yang Mihrabnya menghadap ke barat juga sudah hilang. Masjid yang dulu di Kecamatan Sail itu, menurut dia sekarang sudah berganti dengan bangunan sekolah menengah.

Selain Makam Panjang dan Masjid Menara Condong, Suhardi juga bercerita singkat tentang keberadaan kereta api di Pekanbaru. Konon, kereta api ini membawa batu bara dari Sawah Lunto melalui Pekanbaru untuk dijual ke Singapura.

Jalur lokomotif, dia melanjutkan, ada di Pekanbaru. Ironisnya sekarang ada di dalam rumah penduduk. Ada yang mengaku kepadanya sudah digali. Tapi dia yakin masih ada jalur kereta api bersejarah itu. Namun itu hanya karena belum dibongkar saja.

"Di kawasan Pelita Pantai. Stasiunnya dulu ada di Hotel Furaya. Pelabuhannya ada di pelabuhan Pelita Pantai untuk mengangkut batu bara ke Singapura," ujarnya melengkapi cerita hilangnya peninggalan bersejarah di Kota Pekanbaru.

Sementara itu, Guru Besar Sejarah di Universitas Riau (UR), ini juga menyayangkan simbol sejarah perjuangan rakyat Riau, seperti Tugu Bendera dan Kereta Api yang sebenarnya sudah dimasukkan sebagai benda bersejarah, kini kondisinya memprihatinkan. Karena itu, dia berharap harus segera terdaftar agar orang tidak mudah membongkar.

"Kalau belum teregistrasi orang dengan mudah membongkar. Kalau dibongkar, berarti hilang nilai kepurbakalaannya. Artinya kita hanya baru saja mau memulai. Orang sudah sampai ke UNESCO sementara kita ke departemen aja kurang," ujarnya kesal.

Terakhir, sejarawan ini berpesan agar dinas terkait harus segera menginventarisir dan mendaftarkannya ke pemerintah pusat. Karena jika peninggalan bersejarah itu hilang, maka generasi muda akan kehilangan nilai-nilai luhur.

"Kita harap dinas terkait dapat menginventarisir dan mendaftarkannya ke pihak nasional. Kalau perlu ke UNESCO. Dampaknya bagi generasi muda kedepan mereka tak memiliki nilai luhur yang dibuktikan dengan benda-benda itu," ujarnya menegaskan. [mer-din]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT