Kejutan Alor yang Mempesona dari Timur Flores

Senin, 08 September 2014 - 00:00:17 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Sudah banyak orang mendengar nama Alor, namun tidak banyak yang benar-benar tahu keindahan alam dan budaya yang dimiliki pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini. Padahal, kekayaan pulau yang juga dijuluki sebagai pulau 1000 moko ini memiliki kekayaan bawah laut yang tidak kalah dengan Raja Ampat, Taman Nasional Komodo atau kepulauan Karibia.

Akses menuju Alor memang masih terbatas dan rute yang ditempuh untuk sampai ke Alor biasanya dari Kota Kupang dengan pesawat atau kapal laut. Namun hal ini sebanding dengan keindahan dan keistimewaan alam, budaya dan sejarah yang bisa ditemukan di Alor. 

Di pulau ini banyak ditemukan moko yang merupakan budaya Dongson di Vietnam Utara. Meskipun begitu masyarakat Alor tidak pernah memproduksi moko sendiri. Dari sinilah Alor mendapatkan julukannya sebagai pulau 1000 moko. Anda juga akan menemukan museum dengan nama yang sama di mana Anda bisa menikmati secara langsung budaya Alor, termasuk tenunan khas Alor yang disebut kawate.

Tidak hanya dengan mengunjungi museum, Anda juga bisa belajar langsung tentang kehidupan tradisional di Alor dengan mengunjungi Desa Tradisional Takpala yang ditinggali oleh suku Abui yang merupakan suku terbesar di Alor. Masyarakat suku Abui menggantungkan kebutuhan sehari-hari mereka pada hasil hutan, karena itulah di siang hari kampung tersebut akan sepi.

Dengan menghubungi Dinas Pariwasata Kabupaten Alor sebelum Anda berkunjung ke Takpala, Anda akan dibantu agar dapat melihat tarian lego-lego atau atraksi khas suku Abui. Tarian ini dilakukan oleh 20 orang dengan bergandengan tangan dan bergerak melingkari sebuah batu bersusun yang terdapat moko diatasnya dengan diiring tabuhan gong. Dengan mengenakan perlengkapan adat dan senjata, para penari lelaki akan bersyair sambil menari.

Di sebuah desa di pesisir pantai Alor, terdapat Al-Quran tertua di Indonesia bahkan di Asia Tenggara yang terbuat dari kulit kayu dan dengan pewarna alam. Usia Al-Quran ini diperkirakan sudah mencapai lebih dari 800 tahun. Sampai saat ini Al-Quran ini masih disimpan dan menjadi daya tarik tersendiri.

Pulau Alor ditinggali oleh puluhan suku yang mendiami kampung-kampungnya dan masing-masing memiliki bahasa daerah (bahasa suku) mereka sendiri. Keunikan inilah yang kemudian membuat para peneliti mancanegara datang untuk menelaah beragam bahasa di Alor.

Bukan hanya kekayaan adat-istiadat dan kebudayaan saja, Alor juga memiliki keindahan alam yang sayang untuk dilewatkan. Tidak salah jika Karl Muller menyebut Alor sebagai taman laut kelas dunia dalam bukunya yang berjudul "East of Bali". Hal ini karena Alor memiliki air laut yang bersih dan biota laut yang beraneka ragam serta memiliki titik-titik selam yang juga bisa dinikmati pada malam hari. 50 titik selam yang ada di kepulauan Alor tersebar hingga Pulau Pantar dan 20 di antaranya termasuk titik selam terbaik di dunia. 

Perpaduan kesederhanaan, keindahan alam dan keramahan masyarakat di pulau ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi para pengunjung Alor, apalagi bagi mereka yang memang suka berpetualang. Tidak heran jika banyak orang menyebut kepanjangan Alor adalah 'Alam Lestari dan Orang Ramah'. [mrd]


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT