Masyarakat Pelalawan Diminta Wapadai Dampak Cuaca Extrim

Sabtu, 22 Januari 2011 - 22:14:22 WIB
Share Tweet Google +

loading...

PELALAWAN - Saat ini, meski masyarakat di wilayah khatulistiwa seperti kabupaten Pelalawan tidak begitu merasakan dampak cuaca ekstrim yang saat ini tengah melanda berbagai belahan di Indonesia. Namun fenomena alam yang muncul belakangan ini harus diantisipasi sedini mungkin. "Soalnya, saat ini ada kecenderungan meningkatnya suhu rata-rata," terang Kepala Dinas Perhubungan dan Infokom Pelalawan Drs H Nasrie FFE MSi pada wartawan di Pangkalan Kerinci, Jum'at (21/1). Nasri mengatakan bahwa selama Januari 2011, suhu udara di daerah itu berada di range 24 derajat celcius pada malam hari hingga 43 derajat celcius pada saat siang dengan kondisi cuaca terik. Sedangkan penurunan suhu di bawah 24 derajat celcius hanya berlangsung kurang dari sepuluh jam sehari. "Yakni antara pukul 00.30 dinihari hingga pukul 10.00 Wib dan sisanya lebih dari 12 jam, tingkat suhu berfluktuasi dengan range cukup tinggi sekitar 19 derajat celcius, yakni dari 24-37 derajat celcius," katanya. Sementara suhu tertinggi, sambungnya, terjadi pada pukul 12.30 Wib hingga pukul 15.00 Wib. Karena itu, dirinya mengingatkan masyarakat bahwa kondisi suhu seperti ini mengandung ancaman pada kesehatan manusia. "Kondisi suhu yang berfluktuasi dengan range yang tinggi seperti sekarang, kita harus lebih waspada. Pertama dari sisi kesehatan sudah pasti ada dampaknya, jadi kita harus mengantisipasinya dengan berkonsultasi dengan petugas medis," ungkapnya. Di samping mengancam kesehatan, lanjutnya, cuaca ekstrim juga berpengaruh pada pertumbuhan komoditi tanaman palawija dan sayur mayur. Untuk mengantisipasinya maka dirinya mengingatkan petani agar berkonsultasi dengan instansi terkait. "Untuk tanaman palawija, padi dan sayur mayur, petani disarankan agar berkonsultasi dengan instansi terkait. Apalagi padi tadah hujan perlu sekali mendengarkan nasehat penyuluh karena musim-musim  hu’jan atau banjir sekarang sulit diprediksi kapan terjadinya," imbuhnya. Dikatakannya, perubahan gejala alam ini sudah dirasakan sejak tahun 2010 lalu. Gejala yang paling aneh adalah tidak munculnya musim banjir sepanang tahun 2010 lalu. Selain itu musim hujan pada tahun 2010 mengalami perubahan jadwal. "Ditambah lagi munculnya gejala angin kencang yang sempat meluluhlantakkan desa Sorek Dua Pangkalan Kuras," ujarnya. Ditambahkannya, soalnya pengamatannya selama tahun 2010 itu ada pergeseran musim hujan hingga mengurangi debit air dan ada juga angin kencang. Tidak menutup kemungkinan 2011 ini ada lagi kejanggalan-kejanggalan sepeti itu. "Sedangkan untuk komoditi tanaman perkebunan diprediksi tidak akan terpengaruh dengan perubahan cuaca. Jadi kalau tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit saya kira tidak terlalu terpengaruh," pungkasnya.***mtc/ny


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT