Korupsi, DP BPR Sarimadu Bangkinang Diperiksa

Senin, 14 Juli 2014 - 00:00:11 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Guna melengkapi berkas perkara korupsi yang merugikan negara Rp3,9 miliar, atas nama M Hafaz (tersangka korupsi kredit fiktif di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sarimadu, Bangkinang), Tim Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah dewan pengawas di BPR tersebut. 

"Guna melengkapi berkas HM Hafaz, hari ini, kami periksa tiga dewan pengawas BPR Sarimadu, yakni HM Nazir, Yeni Refnita dan M Rasyad, sebagai penerima kredit," kata Kasi Penkum dan Humas Kejati Riau Mukhzan SH, kepada wartawan, Senin (14/7).

Mereka diperiksa sebagai saksi atas tersangka HM Hafaz. "Saksi Nazir diperiksa oleh jaksa penyidik Ermiwari, Yenti diperiksa Jaksa Septi Yanti dan Rasyad diperiksa oleh Jaksa Sumriadi," terang Mukzan. 

Tersangka Hafaz sendiri, hingga saat ini belum diperiksa penyidik. Ia baru akan diperiksa setelah para saksi untuk mantan direktur itu selesai diperiksa.

Dijelaskan Mukhzan, kasus korupsi pemberian kredit fiktif pada BPR Sarimadu Kampar pada 2009 sampai 2012 lalu ditingkatkan ke penyidikan setelah ditemukan dua alat bukti. Hafaz ditetapkan sebagai tersangka sesuai dengan surat Perintah Penyidikan No. Print-05/N.4/Fd.1/05/2014. 

Hafaz pada September 2009 sampai dengan 2010 mengajukan kredit fiktif sebesar Rp1.870.000.000, mengatasnamakan 17 (tujuh belas) orang, tanpa dilakukan analisis. 

"Untuk menghindari kredit macet, tersangka pada 2011 melakukan restrukturisasi kembali dengan meningkatkan jumlah plafon pinjaman mengatasnamakan 14 (empat) belas debitur sebesar Rp2.500.000.000," ujar Mukhzan. 

Sehingga dengan perbuatan tersangka tersebut pemerintah daerah atau PD. Sarimadu Kab. Kampar mengalami kerugian sebesar Rp3.901.407.491. 

"Atas perbuatan itu, tersangka dijerat dengan pasal 2 dan pasal 3 UU RI No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU RI No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," papar Mukhzan. [rt-hry]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT