Kepala Balai TNTN Hanyani Suprahman, Dinilai Warga Kurang Manusiawi

Senin, 29 November 2010 - 06:59:35 WIB
Share Tweet Google +

Loading...

PANGKALANKERINCI [metroterkini.com] - Kepala desa Bagan Limau, M Nur, adalah satu dari ratusan orang yang kecewa dengan aksi pembabatan kebun kelapa sawit warga yang dilakukan oleh balai Taman Nasional Teso Nilo (TNTN). M Nur dan sejumlah tokoh desa sempat menemui Kepala balai TNTN dan Kapolres Pelalawan di lokasi eksekusi. Dengan berbagai alasan yang sangat masuk akal, M Nur bermohon kepada dua pejabat pengayom dan pelindung masyarakat itu menunda eksekusi. M Nur menawarkan perundingan sebagai jalan yang lebih adil dan manusiawi. Namun permintaannya tidak digubris. Kepala balai TNTN Hanyani Suprahman tetap pada pendiriannya bahwa pada hari itu juga Jumat (26/11) penebangan harus dilakukan. Menurut Hayani lokasi tersebut masuk dalam peta kawasan inti TNTN. Kebun kelapa sawit yang berdiri diatasnya adalah bentuk perambahan yang melawan hukum. ’’Areal itu masuk kawasan taman nasional,’’ kata Hayani Suprahman kepada wartawan. Kapolres Pelalawan AKBP Arie Rahman Nafarin SH SIK ditempat terpisah menambahkan, perkebunan di areal TNTN tidak didukung dengan bukti kepemilikan tanah yang sah. ’’Mereka tidak mengantongi surat tanah, dan tidak ada izin membuat kebun sawit dari pemerintah,’’ tegas Arie Rahman. Sang kepala desa yang didampingi beberapa warga desa tampaknya kalah dalam segala hal. Warga pemilik kebun memang tidak memiliki surat-surat. Sementara balai TNTN sang eksekutror konon punya mandat Menteri Kehutanan untuk mengeksekusi lahan. Ditambah sebuah peta wilayah yang dibuat sebagai lampiran surat keputusan Menhut tentang penetapan hamparan 83 ribu hektar dari blok hutan Teso Nilo menjadi taman nasional pada Oktober 2004. Wargapun makin tidak berdaya menghadapi kenyataan yang menyakitkan hati mereka. Karena pemerintah menggunakan power approach pada operasi penertiban TNTN. Kenyataannya memang demikian, dengan membawa ratusan aparat Polisi dan Polhut bersenjata lengkap, sulit sekali mengatakan operasi ini tidak refresif. Tapi warga lebih memilih kata zalim sebagai kesimpulan penilaian terhadap pemerintah. Menurut warga, perbuatan negara di TNTN sama dengan penyiksaan mata pencaharian mereka, atau setidaknya gerakan memiskinkan. ’’Saya pasrah,’’ keluh M Nur. Maka dua unit alat berat jenis ekscavator dikerahkan merusak kebun kelapa sawit bernilai ekonomi tinggi itu. Satu persatu pohon tercabut. Pangkal pohon yang tumbang disorong beberapa meter hingga seluruh akarnya putus dan tepisah dari tanah. Ini demi memastikan agar pohon tersebut benar-benar mati. Warga pemilik kebun dan orang-orang yang hidup dengan bekerja disana megaku begitu sakit hati. Melihat dengan mata kepala sendiri ladang rezeki mereka dibantai. Mereka akan kembali terpukul begitu pulang ke rumah dan melihat anak istri yang juga kecewa. ’’Ndak bisa berpikir saya seperti apa nasib keluarga saya,’’ keluh Sunar (42), warga pemilik kebun.***/mtc

loading...

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT