Pesona Pulau Rupat, Pulau Empat Mata Angin yang 'Perawan'

Senin, 09 Juni 2014 - 00:00:16 WIB
Share Tweet Google +

Metroterkini.com - Pagi itu awal bulan Mei, sekitar pukul  06.00 WIB dengan mata masih berat karena ngantuk penulis memacu sepeda motor membela dinginnya udara Kota Bengkalis menuju Hotel Pantai Marina, tempat berkumpulnya puluhan wartawan dari berbagai daerah di Riau yang tengah mengikuti Hari Pers Nasional dan HUT PWI ke-68 tingkat Provinsi Riau yang dilaksanakan di Bengkalis. Salah satu agenda HPN dan HUT PWI ke- 68 itu adalah wisata pers ke Pulau Rupat.

Pagi itu, penulis dan puluhan wartawan dan mantan Ketua PWI Cabang Riau, Muslim Kawi, Mantan Ketua PWI Pusat, Tarman Azam, Ketua Kadin Bengkalis, Masuri akan berwisata Pers ke Pulau Rupat tepatnya Pantai Teluk Rhu di Kecamatan Rupat Utara.

Dengan berjalan kaki kami menuju Pelabuhan Bandar Sri Laksamana yang berjarak sekitar 500 meter dari Hotel Pantai Marina, dimana telah berlabu Kapal Cepat Dumai Express yang akan membawa rombongan kami ke Rupat Utara.

Sekitar pukul 07.15 WIB Kapal cepat itu bertolak dari Pelabuhan Bandar Sri Laksamana, Kota Bengkalis membelah Selat Bengkalis menuju Pulau Rupat, salah satu pulau terluar Indonesia.

Penulis yang belum sekalipun menginjakan kaki di Rupat, langsung membayangkan indahnya pantai dengan segala keunikkannya. Selain itu, penulis juga membayangkan fasilitas pendukung objek wisata yang berang tentu juga baik dan lengkap.

Sebab pulau terluar itu sudah sejak lama digadang-gadangkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkalis sebagai pulau harapan.

Sekedar informasi, selain dari Bengkalis, untuk ke Pulau Rupat juga bisa melalui Kota Dumai. Dari Dumai naik kapal roll on roll off  ke  Pelabuhannya Batu Panjang di Kecamatan Rupat.

Pukul 09.21 WIB kapal kami sampai ditujuan kami, yakni Teluk Rhu, Kecamatan Rupat Utara. Tetapi, kapal tak bisa merapat ke pantai, karena lautnya dangkal dan tak ada dermaga. Kapal kami buang jangkar sekitar satu kilometer dari pantai. Untuk sampai ke pantai kami harus dilansir dengan boat pancung (perahu kayu pakai mesin) yang sudah disediakan panitia lokal.

Tak ingin melewati momen, para wartawan langsung mengabadikan rekannya yang dilansir kayak TKI menuju daratan. Kapal kayu yang kecil tersebut dijejali puluhan orang yang mungkin ada yang belum pernah naik perahu. Teriakan ketakutan membahana saat perahu oleng diterjang gelombang. Ini mengasykan sekaligus menegangkan.

Sementara di pinggir pantai puluhan masyarakat yang mendiami Pantai Teluk Rhu oleh Pemerintah Bengkalis dinamakan Pantai Pesona, sudah menunggu kedatangan kami. Kedatangan kami disambut penduduk pulau yang sehari-hari berdialek Melayu. Mereka sangat ramah dan murah senyum. 

Sementara beberapa orang anak nelayan berlarian dengan riang di tepi pantai yang terasa padat. Keindahan Pantai Pesona memang setara dengan namanya. Di depan mata terbentang laut lepas Selat Malaka. Pandangan mata hanya dibatasi kaki langit. Betul-betul mempesona. 

Pasirnya putih halus membentang dengan gulungan ombak sekitar seperempat meter dengan tiupan angin cukup kencang, maklum saat itu lagi musim angin Selatan. Suasananya sangat cocok untuk olahraga layar dan memancing.

Semua ini membuat para pengunjung beta berlama-lama menikmati embusan angin laut Selat Malaka.

Empat Musim Angin

Ternyata, dari sekian banyak pantai dan pulau nan eksotis di Indonesia, ada beberapa pulau yang memiliki ciri khas yang tak dimiliki pulau lainny. Salah satunya adalah Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis ini dengan ciri khas empat musim angin. Pulau seluas 628 km2 itu memiliki hamparan pantai yang khas yang dipengaruhi empat musim mata angin.

Pantai Pesona yang berjarak dua jam lebih perjalanan dengan kapal cepat (speed boat) dari Kota Bengkalis, itu membentang sepanjang 12 km dari Teluk Rhu sampai Tanjung Lapin dengan pantai pasir putih nan halus. Uniknya pantai sepanjang itu akan timbul tenggelam oleh pengaruh empat musim angin yang menerpah Pulau Rupat.

Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bengkalis, Eduar kepada wartawan saat itu mengatakan, ke khasan pulau yang berada di Selat Malaka itu ada pada pantai musim angin yang menerpanya, yakni musim Utara, Selatan, Barat dan Timur. Saat musim Utara ungkap Eduar, air laut akan sedikit berwarna ke coklatan. Pada musim Utara tersebut angin bertiup cukup kencang membuat hamparan pantai dengan lebar puluhan meter itu pasir pantai menjadi padat.

Demikian juga pada musim Timur, Barat, pasir pantainya naik dan padat dan bisa dilalui kenderaan roda dua. Sebaliknya saat musim Selatan  pasir tersedot dan pantainya tenggelam.  

Penulis dan puluhan wartawan media cetak dan elektronik kebetulan datang bertepatan dengan musim Selatan, melihat bagaiman pantai saat kami datang  tempat bermain anak-anak nelayan dalam beberapa jam kemudin telah menjelma menjadi lautan. Puluhan meter garis pantai paginya tempat kami semula mendarat, siang sekitar pukul 14. 00 WIB sudah tenggelam oleh pasang akibat pengaruh angin Selatan.

"Di pantai Pesona ini layak untuk lomba motor cross pantai karena pasir pantainya padat saat musim, Utara, Barat, dan Timur," kata Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bengkalis, Eduar "menjual" potensi Pantai Pesona. 

Selain pantainya yang indah, keramahan pendudukan Pulau Rupat juga membuat pengunjung betah berlama-lama. Hanya saja, sebagaimana kebanyakkan objek wisata di negeri ini yang sangat minim fasilitas pendukung. Objek wisata Pantai Penosa juga demikian.

Sejauh ini belum ada kapal kayu maupun kapal cepat (speed boat) berjadwal dari Pelabuhan Bandar Sri Laksamana, Kota Bengkalis menuju Pantai Pesona baik oleh Pemda maupun dari biro perjalanan.

Selain itu, belum adanya dermaga untuk menaik turunkan penumpang menjadikan objek wisata belum berkembang. Disamping itu juga belum tersedianya fasilitas umum seperti toilet, air bersih menjadi salah satu persoalan bagi pengunjung yang datang ke Pantai Pesona. 

Namun, bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana malam Pantai Pesona bisa menyewa homestay milik warga. Sebab, di pantai yang hanya berjarak sekitar 30 mil laut dari Port Dickson-Malaysia itu belum ada hotel.

Menurut Eduar, keamanan Pulau Rupat cukup kondusif. Penduduk Pulau Rupat yang terdiri dari suku Melayu, Jawa, Tionghoa, dan penduduk asli yang dikenal dengan Suku Akik yang sudah memdiami pulau itu semenjak ratusan tahun yang lalu adalah masyarakat yang ramah kepada setiap pengunjung. Sebagian besar mata pencarian penduduk Pulau Rupat adalah nelayan dan petani karet, sebagian kecil pedagang dan pegawai negeri.

Selain pantai yang indah, penduduk yang rama serta potensi sumber daya alam yang melimpah, Pulau Rupat yang digadang-gadangkan Pemerintah Bengkalis sebagai Pulau Harapan, Rupat tetap saja sebuah pulau tertinggal dalam pembangunan, dibandingkan kawasan lain di Kabupaten Bengkalis.

Rupat masih sangat tertinggal dari segi pembangunan infrastruktur jalan. Jalan utama yang ada di pulau itu belum layak disebut jalan. Dikala musim hujan, jalan itu lebih cocok disebut kubangan, karena masih beraspal tanah dan sulit dilewati kenderaan. Kondisi ini membuat hasil pertanian masyarakat Rupat sulit dipasarkan ke luar pulau. Tapi, bagi anda yang suka tantangan dan seorang off roader Rupat lah tempatnya. [rudi]

loading...

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT