Resistensi Antibiotik Jadi Ancaman Global

Jumat, 02 Mei 2014 - 00:00:13 WIB
Share Tweet Google +

Loading...

metroterkini.com - Prof Iwan Dwi Prahasto, Guru Besar Farmakologi FK UGM beberapa tahun lalu pernah menyampaikan tentang ancaman pandemi resistensi antibiotik benar-benar terbukti. Hal ini itu diperkuat pernyataan WHO yang menyebutkan bahawa resistensi terhadap antibiotik kini telah menjadi ancaman global yang nyata dan berskala besar'.

Hasil analisis yang dirilis WHO, menyebutkan analisa data dari 114 negara, tim peneliti dari badan kesehatan dunia ini menemukan bahwa resistensi terhadap antibiotik terjadi hampir di setiap wilayah di penjuru dunia.

Bahkan hal ini menyebabkan pergeseran definisi resistensi antibiotik sendiri. Dari yang semula hanya berupa ketakutan akan adanya resistensi atau kekebalan akibat terlalu banyak mengonsumsi antibiotik sehingga infeksi sulit disembuhkan menjadi kekhawatiran akan banyaknya kasus meninggal dunia hanya karena terserang infeksi biasa yang dulunya tinggal diobati dengan antibiotik.

Peneliti menemukan dua antibiotik kunci yang kini tak lagi efektif pada lebih dari separuh penderita penyakit tersebut di sejumlah negara. Seperti yang ditemukan pada pasien infeksi saluran kencing akibat bakteri E.coli.

Salah satu antibiotik yang dimaksud adalah carbapenem. Obat ini biasanya menjadi opsi terakhir untuk mengobati pasien infeksi mematikan seperti pneumonia, infeksi pada aliran darah dan infeksi yang kerap dialami bayi baru lahir akibat bakteri K.pneumoniae.

Kasus serupa juga dialami gonorrhea, salah satu jenis infeksi menular seksual yang dapat mengakibatkan kemandulan. Antibiotik untuk menangani infeksi ini tak lagi mempan di UK. Termasuk di beberapa negara lainnya seperti Austria, Australia, Kanada, Prancis, Jepang, Norwegia, Afrika Selatan, Slovenia serta Swedia. Padahal WHO mencatat lebih dari satu juta orang terinfeksi gonorrhea setiap harinya di penjuru dunia.

"Untuk itu, tanpa adanya tindakan urgent dan terkoordinasi dengan baik dari berbagai pemangku kepentingan, maka dunia tengah menuju ke era 'post-antibiotic', di mana infeksi biasa dan luka kecil saja bisa membunuh," tandas Dr Keiji Fukuda dari WHO seperti dikutip dari BBC, Jumat (2/5).

Bila tidak segera diambil langkah-langkah yang signifikan untuk mencegah infeksi sekaligus mengubah bagaimana cara memproduksinya, meresepkan dan menggunakan antibiotik, maka implikasinya akan sangat menyedihkan, sambungnya.

Dalam laporan yang sama WHO juga mengungkapkan pentingnya upaya pencegahan terhadap infeksi. Antara lain dengan menjaga higienitas, akses air bersih, adanya prosedur pengendalian infeksi yang memadai di semua fasilitas kesehatan, serta vaksinasi untuk mengurangi penggunaan antibiotik. [dth]

loading...

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT