Aneh! Pengacara KUD BJL Malah Dampingi Terdakwa

Kamis, 01 Mei 2014 - 00:00:13 WIB
Share Tweet Instagram

Metro Terkini - Kasus lahan warga Pangkalan Gondai Langgam Pelalawan Riau yang diklaim milik KUD Bina Jaya Langgam (BJL) berdasarkan surat izin IUPHHK saat ini telah masuk dalam persidangan di PN Pangkalan Kerinci Pelalawan. Pengacara KUD Bina Jaya Langgam, ZN yang melaporkan Atiman dalam kasus penjualan lahan (perdata), di Pengadilan ternyata malah mendampingi terdakwa di Pengadilan. 

Hal itu mengundang banyak pertanyaan dari warga Pangkalan Gondai Langgam Pelalawan saat menyaksikan sidang di PN Pangkalan Kerinci kemarin. Dalam perkara yang menjadikan Atiman sebagai terdakwa dalam kasus memperjual belikan lahan yang diklaim milik KUD BJL besutan HM. Harris (Bupati Pelalawan).

"Bupati marah karena warga menjual belikan lahan di Pangkalan Gondai. Makanya kasus ini dinaikan karena pesanan bupati. Atiman adalah korban dari skenario mafia lahan di Pelalawan," ujar sumber di PN Pangkalan Kerinci, yang minta namanya tidak dituliskan, kemarin.

Ditambah sumber, pengacara KUD BJL yang bernama ZN yang melaporkan Atiman dalam perkara perdata dalam persidangan malah mendampingi terdakwa Atiman dalam perkara Pidana. "Ini sudah tidak benar. Dari segi kemanusia sudah tidak manusiawi dan yang kasihan adalah Atiman," ujar sumber dari warga Pangkalan Gondai Langgam Pelalawan.

Dalam kasus jual beli lahan di desa Pangkalan Gondai Langgam Pelalawan ini akhirnya berujung di PN Pangkalan Kerinci Pelalawan Riau. Kasus berawal, saat KUD BLJ mengantongi izin IUPHHK pada tahun 2007 seluas 1.910 hektar. "Saya tidak tahu, karena izin itu keluar tahun 2007 dan saya jadi pengurus sejak 2010," ujar saksi Jhoni Afrizal yang juga Ketua KUD Bina Jaya Langgam dalam persidangan di PN Pangkalan Kerinci Pelalawan atas perkara terdakwa Mulyadi Candra beberapa waktu lalu.

Dalam persidangan sebelumnya, saksi Alyas Utung warga Pangkalan Gondai kepada majelis hakim mengakui, bahwa ia bersama warga lainya telah menggarap lahan tersebut sejak turun temurun karena lahan tersebut merupakan lahan (tanah) Ulayat Batin Mudo Sungai Mamahan Desa Pangkalan Gondai Langgam Pelalawan Riau. Warga Pangkalan Gondai Langgam telah menggarap lahan tersebut sejak nenek moyang mereka dan itu bisa dibuktikan dengan tanaman masyarakat seperti karet dan tanaman buah-buahan seperti pohon durian.

"Bisa dilihat pohon durian warga yang besarnya hampir satu drum," ujar Alyas Utung.

Saksi Utung juga mengakui, bahwa namanya telah dicatut oleh KUD Bina Jaya Langgam sebagai anggota koperasi. "Saya bersumpah dan tidak tahu kalau nama saya ada di masukan dalam anggota koperasi," ujarnya. Tak hanya itu, dalam fakta persidangan juga terungkap bahwa sebanyak 40 warga Pangkalan Gondai lainya juga dicatut oleh koperasi Bina Jaya Langgam Pelalawan.

Saksi lainya yang hadir dalam persidangan adalah Zainuddin yang juga mantan Kades Pangkalan Gondai Langgam Pelalawan. Dalam persidangan saksi juga menyampai, selama ini tidak ada sosialisasi dari KUD Bina Jaya Langgam Pelalawan yang menyampaikan kepada warga bahwa KUD telah memiliki lahan diatas lahan (tanah) ulayat warga yang selama ini telah digarap oleh warga.

"Tidak pernah ada sosialisasi kawasan yang digarap warga menjadi lahan koperasi Bina Jaya Langgam. Batas-batasnya juga tidak pernah ada," ujar saksi dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Rabu (23/4).

Saat iini warga Pangkalan Gondai merasa aneh, karena sebelumnya kasus tersebut dilaporkan dalam perkara perdata sehingga menyeret mantan kades Pangkalan Gondai, Atiman menjadi terdakwa karena memperjual belikan lahan yang dimiliki KUD Bina Jaya Langgam. Pengacara KUD BJL, ZN yang mendampingi pihak Koperasi melaporkan kasusnya pada kepolisian dan saat ini ZN malah mendampingi terdakwa Atiman terdakwa menjual lahan KUD BLJ. [ndn]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT