PLN Ternyata Memiliki Utang Sebesar Rp 430 Triliun

Rabu, 26 Januari 2022 - 19:57:18 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - PT PLN (Persero) mencatat utang perseroan saat ini berkisar Rp 430 triliun. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, nilai utang yang besar itu sebenarnya sudah membaik dari posisi di awal tahun lalu yang berkisar Rp 450 triliun. 

"Kami memiliki utang yang cukup besar Rp 450 triliun di awal tahun lalu. Kemudian selama setahun kami berhasil mengurangi utang kami sebesar Rp32 triliun. Sehingga interest bearing debt di awal tahun ini (2022) turun dari Rp 450 triliun menjadi Rp 430-an triliun," ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (26/1/2022). 

Darmawan menyatakan, penurunan jumlah utang itu sekaligus menunjukkan upaya PLN dalam memulihkan kinerja keuangan meski di tengah tekanan pandemi Covid-19. 

Ia bilang, perbaikan itu tak lepas dari langkah PLN melakukan efisiensi operasional dan investasi. Kementerian BUMN para pemegang saham pun mengarahkan PLN untuk mengurangi belanja modal (belanja modal/capex ). 

Meski demikian, perusahaan ketenagalistrikan berpelat merah itu, tetap diminta untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang baru. Artinya akan dibutuhkan modal yang besar untuk pengembangannya. Namun Darmawan memastikan, PLN akan berkolaborasi baik dari sisi kebijakan, teknis, bisnis, dan operasional dengan pihak terkait untuk mendorong bisnis yang sedang dikerjakan. 

"Oleh itu tentu saja kami akan bagaimana PLN bisa berkolaborasi, baik secara kebijakan, bisnis, teknis, operasional dan lainnya," kata Darmawan. 

Ia menjelaskan, secara keseluruhan ada enam program yang akan menjadi fokus utama PLN di sepanjang 2022. Terdiri dari melanjutkan efisiensi operasi dan investasi, serta melakukan perbaikan model pendapatan dan meningkatkan gaya hidup elektrifikasi. 

Kemudian mengembangkan lingkungan, sosial & tata kelola (ESG) dan transisi energi, menata struktur korporasi dan membuka portofolio bisnis nilai, meningkatkan penjualan kWh dan melampaui kWh, serta mengembangkan digitalisasi dan manajemen sistem untuk akselerasi transformasi. 

"Jadi (dengan sistem digitalisasi) bisnis yang kompleks dan berbelit-belit yang bikin ekosistem tidak berjalan dengan baik, itu kita bongkar, kita ringkas," kata dia. 

"Kami juga membangun sistem manajemen untuk mengakselerasi transformasi. Jadi di sini bukan sistem teknologi dan digitalnya, tetapi juga sumber daya manusianya, hanya prosesnya, kulturnya kita ubah," pungkas Darmawan. [**]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT