Lahan Terbakar, PT NSP Kambing Hitamkan Warga

Senin, 24 Maret 2014 - 00:00:15 WIB
Share Tweet Google +

Pekanbaru - Perusahaan perkebunan sagu, PT National Sago Prima anak perusahaan PT Sampoerna Agro Tbk, membantah tudingan jika pihaknya yang telah melakukan pembakaran lahan di areal konsesi. Pihak PT NSP menyebutkan jika api yang membakar lahannya berasal dari areal milik masyarakat sekitar.

Demikian disampaikan, kuasa hukum perusahaan, OC Kaligis kepada wartawan di Polda Riau, Senin (24/3) di Pekanbaru. Kehadiran OC Kaligis di pekanbaru, untuk mengklarifikasi kepada pihak Polda Riau atas penetapan PT NSP sebagai tersangka pembakar lahan di Kabupaten Kepulauan  Meranti, Riau.

Seperti disampaikan OC Kaligis, bahwa pembukaan lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) sagu, pihak perusahaan PT NSP memperkerjakan ke kontraktor  untuk land clrearing lahannya. Dimana antara kontraktor dan pihak PT NSP mempunyai perjanjian pekerjaan land clearing dan tanpa melakukan pembakaran lahan.

"Untuk melindungi areal usaha, ketika terjadi kebakaran yang asalnya dari perkebunan rakyat. Klien kami ikut aktif membantu daerah atau birokrasi setempat untuk memadamkan kebakaran tersebut," kata OC Kaligis.

Akibat kebakaran lahan tersebut, akhirnya merembet dan membakar 4 unit alat berat perusahaan, hingga perusahaan mengalami kerugian mencapai RP 4 miliar. Selain itu, perusahaan juga mengalami kerugian dari terbakarnya HTI sagu senilai Rp 15 miliar lebih.

"Jadi sangatlah tidak mungkin klien kami melakukan pembakaran sebagai mana yang dituduhkan tersebut," ujar OC Kaligis.

Selain itu, kuasa hukum juga merasa keberatan atas pemanggilan sejumlah pegawai perusahaan sebagai saksi untuk diperiksa pihak penyidik Polda Riau. Menurutnya, mereka yang diperiksa itu tidak tahu apa-apa penyebab terjadinya kebakaran lahan tersebut.

"Dari segi hukum peristiwa kebakaran bukan disebabkan oleh PT National Sago Prima dan klien kami sendiri juga banyak mengalami kerugian terkait tuduhan tersebut," tegas OC Kaligis.

Akibat dari kejadian ini, berdampak kepada perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) karena pemeriksaan polisi berimbas pada turunnya harga saham di bursa efek.

"Klien kami mengalami kerugian dan nilai saham di bursa efek terancam turun. Dan perlu diingat sebagai PMA saham-sahamnya juga dimiliki oleh masyarakat," tutup OC Kaligis. 

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT