Terkait Terpidana Elmi Faizal, JPU Belum Banding

Jumat, 07 Maret 2014 - 00:00:09 WIB
Share Tweet Google +

Pekanbaru Terkini - Sampai Kamis (6/3) siang Pengadilan Tipikor (Pengadilan Negeri) Pekanbaru masih belum menerima memori banding dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Bengkalis atas nama Elmi Faizal dan Wan Yulimizami alias Jakek dua dari empat terpidana perkara korupsi penggelapan uang muka proyek peningkatan Jalan Poros Teluk Rhu-Tanjung Punak, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis.

JPU melakukan banding karena menilai putusan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Pekanbaru yang diketuai JPL Tobing lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap Ermi Faizal.

Sementara Jakek Komisaris Utama PT Edi Cipta Coindo (ECC), melakukan upaya banding karena merasa hukuman terhadapnya terlalu berat.

Namun sampai Kamis (6/3) pihak pengadilan Negeri Tipikor Pekanbaru belum menerima memori banding dari JPU Kejari Bengkalis.

"Permohonan banding JPU sudah kita terima minggu lalu, kita masih menunggu memori banding dari JPU," kata Hasan Basri, Panitera Muda Tipikor PN Pekanbaru, Kamis siang.

Dalam tuntutannya, JPU menuntut Elmi Faizal yang merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam proyek itu selama 5 tahun penjara dan denda Rp200 juta atau subsider dan Jakek

Namun majelis hakim menvonis Elmi Faizal yang tinggal Jalan Pertanian RT 04/05 Kelurahan Senggoro, Kecamatan Bengkalis selama 2,5 tahun dan denda Rp100 juta subsider 2 bulan kurungan.

"Untuk terpidana Jakek maupun JPU sama-sama belum menyerahkan memori banding ke kita (PN Pekanbaru)," ujar Hasan.

Vonis yang dinilai ringan dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Pekanbaru, terhadap Ermi Faizal, salah satu dari empat  terdakwa perkara korupsi penggelapan uang muka proyek peningkatan jalan desa di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, menjadi alsan JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis, mengajukan banding.

Jaksa menilai, upaya banding terhadap terdakwa Ermi Faizal, mantan Kabid Bina Marga, Dinas PU Bengkalis, yang bertindak selaku KPA dan PPK itu, karena vonis jauh lebih ringan dari tuntutan JPU. 

Selain itu, Ermi Faisal juga dikenakan majelis dengan pelanggaran Pasal 3 undang undang tipikor, dan bukan Pasal 2 seperti yang dijeratkan kepada tiga rekannya.

Majelis Hakim yang diketuai JPL Tobing SH, dalam amar putusannya menyatakan, Ermi Faizal  terbukti melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 Undang Undang (UU) RI Nomor 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 KUHPidana. 

Ia Dijatuhi hukuman pidana selama Penjara 2  tahun 6 bulan (2,5 tahun), serta denda Rp 100 juta, subsidair 2 bulan kurungan.

Sedangkan tiga rekannya, Jakek, Muhammad Hendro dan Emtadir Panyola, terbukti melanggar Pasal 2 jo Pasal 18 UU jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.  Mereka dijatuhi hukuman masing-masing 4 tahun penjara serta denda Rp 200 juta atau subsidair 4 bulan kurungan. 

Sementara Jakek, terbukti melanggar Pasal 2 jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo psl 65 KUHP, dijatuhi hukuman selama 6 tahun 6 bulan, denda Rp 200 juta subsider 4 bulan, serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 1.009.744.311 atau subsider selama 2 tahun penjara

"Ermi Faisal yang seharusnya dikenakan Pasal 2 Undang Undang (UU) RI jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, yang ancamannya minimal 4 tahun penjara. Malah dialihkan ke Pasal 3 UU RI, yang sanksi pidananya minimal 1 tahun penjara, makanya kita banding. Kalau untuk terpidana lain (Jakek) kalau banding kita banding," kata Kasi Pidsus Kejari Bengkalis, Yanuar Rezha Muhammad minggu lalu.

Seperti diberitakan, JPU Sugandi SH dari Kejari Bengkalis. Menuntutu Ermi Faizal dengan hukuman kurungan 5 tahun penjara, denda sebesar Rp 200 juta subsider 5 bulan. 

Terdakwa Emtadir Panyola dituntut 5 tahun penjara, serta denda Rp 200 juta, subsider selama 6 bulan. Terdakwa Muhammad Hendro dituntutn 5 tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider 3 bulan. 

Sedangkan, untuk terdakwa Wan Yulimizani alias Jakek, dituntut hukuman badan selama 7 tahun 6 bulan (7,5 tahun) serta denda Rp 200 juta atau subsider selama 6 bulan. Selain itu, terdakwa Wan Yulimizani juga diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 1.009.474.311 atau subsider selama 2 tahun. 

Keempat terdakwa ini dijerat dengan Pasal 2 jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo psl 65 KUHP, tentang tindak pidana korupsi, serta ikut turut serta melakukan perbuatan tindak pidana korupsi.

Seperti diberitakan, proyek ini berdasarkan Keputusan Bupati Bengkalis Nomor ; 165/KPTS/4/III/2012 tanggal 16 Maret 2012 tentang penunjukan KPA dan Bendahara Pengeluaran pembantu pelaksana penatausahaan keuangan daerah pada Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bengkalis tahun anggaran 2012.

Dalam pelaksanaanya sekitar tanggal 13 September 2012 hingga 31 Desember 2012, negara dirugikan, Rp1,1 miliar. 

Dimana Ermi Faizal, mantan Kabid Bina Marga, Dinas PU Bengkalis, yang bertindak selaku KPA dan PPK. Wan Yulimizami alias Jakek, Komisaris Utama PT Edi Cipta Coindo (ECC), Muhammad Hendro, Komisaris dan Dirut PT ECC, serta terdakwa Emtadir Panyola, Direktur CV Alif Kurnia. Mengadakan kegiatan pengerjaan Jalan poros Teluk Rhu, Tanjung Punak, Kecamatan Rupat Bengkalis dengan pag Rp 3.996.143.000.

Untuk mendapatkan proyek tersebut, terdakwa Jakek membeli PT Edi Cipta Coindo (ECC) dari Azwar. Setelah kepemilikan perusahaan berpindah tangan. Jakek duduk sebagai komisaris. Berhubung Wan Yulimizani alias Jakek mencalonkan diri maju sebagai caleg, Jakek pun mundur dari jabatannya.

Selanjutnya jabatan komisaris dalam struktur perusahaan PT ECC, dipercayakan dan dijabat oleh terdakwa Muhammad Hendro. Selanjutnya, PT ECC mendapat proyek pengerjaan Jalan Poros Teluk Rhu, Tanjung Punak, Rupat. Dengan pagu anggaran senilai Rp 3.996.143.000.

Kegiatan jalan poros tersebut meliputi, kegiatan peningkatan Jalan Suka Tani RT 1 RW 1, Dusun Murni Desa Sepahat. Berupa Jalan Base 1200M x 6M jembatan Beton. Kegiatan pengerjaan jalan Teluk Indah, Teluk Lecah. Peningkatan Jalan Hutan Panjang- Titi Akar, dan peningkatan pengerjaan jalan Pangkalan Nyirih, Titi Akar. Untuk peningkatan jalan Suka Tani RT 1 RW 1 Dusun Murni, Desa Sepahat, Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis, pencairan uang muka Rp300 juta. 

Terdakwa Jakek kemudian meminjam CV Alif Kurnia milik terdakwa Emtadir Panyola. Dengan memberi imbalan fee kepada Emtadir Panyola.

Sedangkan untuk kegiatan peningkatan jalan Teluk Indah, Teluk Lecah. Serta peningkatan Jalan Hutan Panjang- Titi Akar, dan peningkatan pengerjaan jalan Pangkalan Nyirih, Titi Akar, dikerjakan oleh PT ECC, pencairan uang muka sebesar Rp 704.774.331. Namun setelah uang muka dicairkan sebesar Rp 1,1 miliar. Terjadi adanya pemufakatan jahat yang dilakukan keempat terdakwa.

Terdakwa Wan Yulimizani alias Jakek, mendapat bagian sebesar Rp 304 juta. Terdakwa Muhammad Hendro sebesar Rp 235 juta. Terdakwa Emtadir Panyola menerima fee peminjaman CV Alif Kurnia sebesar Rp 25.700.000. Sedangkan sisanya dipegang oleh terdakwa Ermi Faisal, selaku KPA dan PPK.**rd

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT