Bocah 9 Tahun dengan Pendapatan Tertinggi di YouTube

Rabu, 23 Desember 2020 - 20:47:46 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Ryan Kaji, anak berusia 9 tahun yang kerap melakukan unboxing dan review mainan serta game, dinobatkan menjadi YouTuber dengan penghasilan terbesar pada 2020. 

Ini adalah ketiga kalinya Kaji mendapatkan predikat tersebut. Ryan yang berasal dari Texas, Amerika Serikat. Penghasilnya 29,5 juta dolar AS (Rp 412 miliar) dari channel Youtube Ryan's World miliknya. 

Penghasilan tersebut terhitung sejak 1 Juni 2019 hingga 1 Juni 2020. 

Pendapatan tersebut belum termasuk penghasilan lain yang diperkirakan mencapai 200 juta dollar AS (Rp 2,8 triliun). 

Sebagian besar pendapatannya berasal dari kesepakatan lisensi untuk lebih dari 5.000 produk yang tayang di Ryan’s World, mulai dari pakaian, dekorasi kamar tidur, figur aksi, topeng, hingga walkie talkie. 

Di samping itu, Ryan juga diketahui menandatangani kesepakatan yang jumlahnya dirahasiakan untuk serial TV-nya sendiri di Nickelodeon. 

Ryan atau yang sering disebut sebagai child influencer pertama kali membuat video pada Maret 2015 setelah menonton channel ulasan mainan lain. 

Saat ini, bocah asal Texas itu memiliki sembilan saluran YouTube. Ryan's World adalah saluran yang paling populer dengan jumlah 41,7 juta pelanggan dan 12,2 miliar penayangan. 

Selama 2020 Video Ryan yang paling populer berjudul "Huge Eggs Surprise Toys Challenge", ditonton lebih dari 2 miliar kali. 

Ini menjadikannya salah satu dari 60 video yang paling banyak ditonton di YouTube, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The Guardian, Rabu (23/12/2020). 

Kendati demikian, kesuksesan Ryan bukan tanpa rintangan. Ryan dan keluarganya saat ini tengah menghadapi penyelidikan dari Komisi Perdagangan Federal AS gara-gara iklan. 

Hampir 9 persen dari video Ryan dianggap menyertakan setidaknya satu rekomendasi produk berbayar yang ditujukan untuk anak-anak prasekolah. Kelompok ini dinilai masih terlalu muda untuk membedakan antara iklan dan ulasan. 

"Iklan tersebut sering kali menggambarkan makanan yang tidak sehat," kata badan pengawas konsumen, Truth In Advertising. [**]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT