Kampar Sukses Jadi Sentral Bawang Merah di Sumatera

Jumat, 24 Januari 2014 - 00:00:14 WIB
Share Tweet Google +

loading...

 

Terlihat diwajah gembiranya Bupati Jefry Noer. Bertunasnya biji bawang yang tumbuh di hamparan lahan pilot project bawang merah Desa Sei Geringging Kecamatan Kampar kiri lah yang membuat mantan anggota DPRD Riau ini seperti itu.

Wajah Danrem 031/WB Brigjen Prihadi Agus Irianto juga nampak berbinar. "Ini pengalaman pertama dalam hidup saya. Menjadi petani. Sebab dua bulan lalu, saya ikut menanam bawang ini. Dan sekarang saya ikut pula memetik hasil. Luar biasa," katanya.

Berbondong-bondong orang mendampingi Jefry turun ke lahan itu untuk mencabuti bawang merah tadi. Entah siapa yang mengomandoi, dari tempat panen menuju tenda acara yang berjarak sekitar 200 meter, Jefry malah ditandu bak seorang raja.

"Hidup Pak Bupati! Hidup bawang merah! Hidup Desa Geringging. Sukses Kabupaten Kampar!," Teriak para pemegang tandu.

Jefri Diusung warga

Di atas tandu yang terbuat dari kursi sofa sederhana itu, Jefry duduk sambil memegang ikatan bawang merah yang sudah dipanen. Matanya nampak berkaca-kaca. "Ini benar-benar luar biasa. Alhamdulillah," katanya nyaris terbata-bata.

Sampai di tenda acara, dia segera memanggil Kadis Pertanian dan Peternakan Cokroaminoto, Camat Kampar Kiri Irianto dan Kades Sei Geringging Busmaini. "Cokro, kamu berhasil. Saya bangga. Ini untuk kamu,"kata Jefry sambil menyodorkan satu ikatan bawang merah.

Omongan dan perlakukan yang sama juga diterima Irianto dan Busmaini.

"Saya sangat berterimakasih kepada semuanya, khususnya kepada warga Cirebon yang sudah mau menularkan ilmunya di sini. Mulai hari ini, saya minta supaya cangkul kita sama bentuknya dengan cangkul para pekerja dari Cirebon itu," pinta Jefry saat didaulat menyampaikan pidato.

Jefry pun cerita kepada semua yang hadir tentang cikal bakal tanaman bawang merah.

Bahwa ada orang yang pesimis bawang merah bisa hidup di Kampar. Itu dia dengar sepulang dari Cirebon Jawa Barat dan Brebes Jawa Tengah meninjau sentra bawang merah yang ada di sana.

"Makin banyak orang yang merasa pesimis tentang apapun yang menyangkut Kampar makin semangat saya untuk membuktikan bahwa pesimistisnya itu tidak benar. Sebab Allah sudah mengatakan, taka da yang tak mungkin," katanya.

Semangat, kerja keras dan doa kata Jefry adalah kunci untuk mewujudkan yang tak mungkin tadi menjadi mungkin. "Kun faya kun kata Allah. Jadi kepada semua masyarakat Kampar, mari singsingkan lengan, bangun rasa optimis bahwa tak ada yang tak mungkin bagi orang-orang yang rusuknya tak panjang," pinta Jefry.

Firdaus: Saya Berguru Sama Pak Jefry

Pada panen bawang merah di pilot project Desa Sei geringging Kecamatan Kampar Kiri beberapa minggu lalu, Walikota Pekanbaru Firdaus, blak-blakan soal pertanian.

Seringnya ketua DPC Demokrat Pekanbaru ini bertandang ke Kampar, ternyata bukan sekadar pulang kampung. Tapi justru  ilmu soal pertanian yang kini sedang digalakkan Bupati Kampar Jefry Noer.

"Soal pertanian, saya salut sama Pak Jefry. Makanya saya sering ke Kampar. Dari hasil kunjungan itu, kami di Pekanbaru sudah mensiapkan lahan pertanian terpadu," kata Firdaus terang-terangan saat didaulat berpidato.

Lantaran Pekanbaru juga sudah menggeber pertanian, Firdaus pun mengingatkan bahwa jangan sampai kelak Pekanbaru yang malah mengirim sayuran ke Kampar. "Jangan sampai begitulah. Wong saya kan bergurunya ke Kampar," katanya sembari tertawa.

Firdaus kemudian menyempatkan waktu menjelaskan bagaimana pentingnya Kampar dalam perkembangan Kota Pekanbaru.

"Membangun Pekanbaru, kami tak bisa sendirian. Kami butuh daerah tetangga. Tak hanya Kampar, tapi juga Pelalawan dan Siak. Lantaran itulah beberapa waktu lalu kami membikin kesepahaman untuk bersinergi membangun kawasan perbatasan," ujarnya.

 

Danrem 031/WB: Ini Pengalaman Pertama Saya

Kalau Walikota Pekanbaru Firdaus membikin pengakuan bahwa urusan pertanian di berguru ke Kampar saat berpidato di acara panen bawang merah di pilot project Desa Sei Geringging Kecamatan Kampar Kiri, pengakuan Komandan Korem 031 Wira Bima (WB) Brigjen Prihadi Agus Irianto, lain lagi.

Jenderal bintang satu ini mengaku kalau di Desa Sei Geringging inilah pengalaman pertama dalam sejarah hidupnya bertani.

"Saya didakwa bicara di sini lantaran saya yang nanam bawang itu. ini pengalaman pertama dalam hidup saya sebagai seorang militer," katanya.

Sebelum omongan itu meluncur, Prihadi lebih dulu mengucapkan tradisi salam ala Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S). "Untuk apa di sini!!!!," teriak Prihadi.

Para alumni P4S yang turut hadir dalam acara itu spontan menjawab," Bersenang-senang Mendengar jawaban itu Prihadi ikut tertawa.

"Akar pertahanan nasional itu ada di usaha seperti ini. Dengan bertani kita bisa mendongkrak perekonomian kita. Kalau ekonomi bagus, maka ketahanan nasional akan semakin kuat. Kalau semua desa seperti ini, maka urusan ketahanan pangan sudah selesai oleh kampar," ujar Prihadi.

 ----------

Misi Kampar Jadi Sentra Bawang Merah Makin Terbuka Lebar

Mimpi Kabupaten Kampar untuk menjadi sentra bawang merah di Sumatera kian terbuka lebar. Pilot project bawang merah seluas 8 hektar di Desa Sei Geringging Kecamatan Kampar Kiri, ternyata bisa menyuguhkan hasil yang memuaskan. Dua setengah hektar dari luasan tadi, sudah dipanen oleh sejumlah petinggi.

Mulai dari Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayuran Kementerian Pertanian Liferdi Lukman, Danrem 031/WB Brigjen Prihadi Agus Irianto, Kapolda Riau Brijen Pol Condor Kirono, dua orang anggota DPD RI Maimanah Umar dan Intsiawati Ayus, anggota DPR RI M Nasir, Wako Pekanbaru Firdaus, Bupati Kampar Jefry Noer, Wakil Ketua DPRD Kampar Eva Yuliana, Kapolres Kampar AKBP Ery Apriono, Dandim 0301 Kampar Letkol Inf Asep Dedi Darnadi dan Dan Yonif 132 Salo Mayor Henryan Indrawira "mengeroyok" tanaman bersiung itu.

Dewan Bawang Merah Nasional (DBMN) mengatakan, hasil panen per hektar dari lahan pilot project itu sama dengan hasil panen per hektar bawang merah yang ada di Jawa pada siklus tanam musim hujan. Hasil per hektar bawang merah ini antara 8-10 ton.

Padahal kita menanam bawang merah ini pada kondisi tanah dan cuaca yang sangat ekstrim," kata Lukman, perwakilan DBMN di Kampar yang sekaligus sebagai pengawas lapangan pilot project bawang merah itu.

Cerita Lukman, semula Potencial of Hydrogen (pH) tanah bekas padi sawah yang mau ditanami bawang merah itu hanya berada di level 4. Dengan angka segitu, tanah tadi masuk kategori asam dan sangat tidak cocok untuk tanaman bawang. Tapi setelah dijejali dolomit, pH tadi rupanya bisa terdongkrak hingga di level 6 lebih.

"Setelah pH beres, kita kemudian melakukan pengolahan tanah dan penanaman. Tapi setelah tanam, cuaca yang jadi masalah. Kadang hujan, kadang panas. Yang cenderung sering itu hujan. Sementara bawang merah tak boleh kebanyakan air meski dia sangat butuh air. Inilah yang terus kita antisipasi dan Alhamdulillah, hasilnya bagus," ujar Lukman sumringah.

Satu hektar lahan tadi kata Lukman, tak semua dijejali oleh bawang merah. Tanah yang terpakai paling sekitar 70 persen dari total 1 hektar tadi. Sebab selebihnya terpakai untuk jaluran yang berfungsi untuk stabilisasi air di bedengan tanaman bawang merah.

Lantaran hasil panen untuk sekelas pilot project bagus, Dinas Pertanian dan Peternakan Kampar kemudian membikin program penanaman bawang seluas 110 hektar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar. Luasan lahan di tiap kecamatan berbeda. Tergantung ketersediaan lahan. "Yang pasti, kita tak berhenti pada luasan segitu. Ke depan, kita akan membikin kebun bawang merah seluas 50 hektar di masing-masing kecamatan. Kita musti bisa menjadi sentra bawang di Riau, bahkan di Sumatera," kata Kadis Pertanian dan Peternakan Kampar, Cokroaminoto.

---------

Jefri : Utara Kampar akan dibuka Budidaya Bawang Merah

Setelah sukses di Desa Geringging, Kecamatan Kampar Kiri, kini desa di Tapung Hilir terang-terangan menyatakan diri siap membudidayakan bawang merah di desa masing-masing.

Desa Tandan Sari misalnya, sudah menyiapkan lahan 5 hektar, Gerbang Sari 4,5 hektar, Koto Aman 2 hektar dan Koto Garo 2 hektar. "Total lahan yang sudah siap itu ada sekitar 18,5 hektar. Ini adalah inisiatif masyarakat sendiri. Sebab lantaran keberhasilan bawang di Desa Sei Geringging itu, kami pun berazam untuk menjadi sentra bawang merah di Kabupaten Kampar bagian Utara," kata Camat Tapung Hilir Mulatua.

Gara-gara keinginan itu pula, Jefry Noer memerintahkan Kadis Pertanian dan Peternakan Cokroaminoto untuk menyigi lokasi yang dikatakan Mulatua. Dari pagi hingga sore Selasa, Cokro ditemani Mulatua, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Hendri Dunan serta dua kepala seksi, menjambangi lokasi-lokasi yang bakal menjadi lahan budidaya bawang merah itu.

Sebelum meninjau lahan di Gerbang Sari dan Tandan Sari, Cokro menggelar pertemuan dengan calon petani bawang merah di gedung serba guna Desa Gerbang Sari. Di sana, Kades Gerbang Sari Supono dan Kades Tandan Sari Sukandar, hadir.

Supono menyebut, sudah ada 10 kepala keluarga yang siap menjadi petani bawang merah. Mereka, kata Pono, tergiur melihat hasil panen bawang merah di Sungai Geringging itu. Lalu di Tandan Sari kata Sukandar ada sekitar 50 kepala keluarga petani aktif yang juga tergiur dengan budidaya bawang merah itu.

"Kami kemari untuk melihat lahan yang sudah ada. Lantas akan segera menginventarisir calon petani bawang untuk kemudian dimagangkan. Gunanya, supaya mereka benar-benar paham seluk beluk budidaya bawang merah itu," kata Cokroaminoto.

Sembari menunggu jadwal magang, Mulatua mengaku akan mengawal terus semangat para calon petani itu. "Kami akan fasilitasi mereka. Kesulitan mereka juga akan diidentifikasi dan dicarikan solusinya. Sebab itu tadi, rencana besar Bupati Kampar untuk menjadikan Kabupaten Kampar menjadi sentra bawang merah di Sumatera adalah rencana mulia yang musti jadi. Kuncinya tentu semangat masyarakat untuk menjadi petani bawang yang profesional," katanya.

Mendengar antusias masyarakat di Tapung Hilir menjadi petani bawang merah, Jefry Noer pun segera memerintahkan Cokro untuk memagangkan para calon petani itu. "Kalau mereka sudah khatam soal seluk beluk bawang merah, segera action di lapangan untuk menjadi petani bawang yang sebenarnya," ujar Jefry sembari menambahkan bahwa dikampar akan menjadi dan siap jadi sentral bawang di Sumatra.(RLS/Aprial)


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT