Anggota TNI Penganiaya Rido Dipecat

Selasa, 17 Desember 2013 - 00:00:19 WIB
Share Tweet Instagram


Anggota TNI Batalyon Infanteri 400/Raider Komando Daerah Militer (Kodam) IV Diponegoro, Letnan Satu Eko Santoso dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan dipecat dari keanggotaannya sebagai TNI.

Ia merupakan terdakwa utama pada kasus penganiayaan berat yang mengakibatkan Rido Hehanusa, seorang warga asal Saparua, Ambon tewas.

Vonis dibacakan Hakim Ketua Letkol CHK Surjadi Sjamsir pada persidangan dengan agenda putusan di Pengadilan Militer II-10 Semarang, Selasa (17/12/2013). Menurut hakim, terdakwa dinilai bersalah melakukan penganiayaan berat hingga menyebabkan korban tewas. Oleh karena itu dia tidak layak dipertahankan sebagai prajurit.

Hukuman tersebut tidak meleset dari tuntutan yakni dua tahun penjara dan dipecat dari TNI.

Hakim mengatakan sebagai seorang perwira, terdakwa dinilai tidak mampu mengendalikan emosi, arogan dan main hakim sendiri. Hal tersebut sangat merusak citra kesatuan dan TNI.

Lettu Eko yang menjabat sebagai Pasi Intel Batalyon Infanteri 400/Raider mendapatkan hukuman paling berat karena dianggap yang paling bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Menurut hakim, terdakwa yang juga atasan lima terdakwa lain seharusnya bisa memberikan contoh. "Meski telah nyata-nyata dihina dan dilecehkan oleh korban, tidak seharusnya melakukan penganiayaan," ujar Hakim.  

Sedangkan lima terdakwa lain diberi hukuman lebih ringan karena dianggap hanya melakukan perintah dari atasan meski itu salah. Pratu Eko Susilo divonis satu tahun tiga bulan dan lebih ringan dari tuntutan yakni 1,5 tahun penjara.

Terdakwa lain Praka Didik Mardiyono, Praka Joko Prayitno dan Praka Andri Jaswanto divonis 10 bulan penjara. Sedang terdakwa keenam yakni Praka Eko Priyono divonis delapan bulan penjara.

Selain itu kelima terdakwa tidak dikeluarkan dari anggota TNI karena dianggap masih layak dipertahankan dan bisa dibina. "Terdakwa satu tetap ditahan, sedangkan terdakwa dua, tiga, empat, lima dan enam bisa dikeluarkan sementara," tambah Hakim.

Mendengar putusan hakim, seluruh terdakwa menyatakan pikir-pikir. Oditur Militer Mayor Sukino juga mengaku pikir-pikir terhadap putusan tersebut.

Seperti diketahui, penganiayaan berawal dari cekcok yang terjadi di Liquid Cafe pada 30 Mei lalu. Ketika itu terdakwa tengah melakukan tugas intel di kafe tersebut jika ada anggota TNI yang melanggar.

Kemudian terjadi keributan antara terdakwa dengan korban dan rekan-rekannya. Korban yang dalam kondisi mabuk kemudian pindah ke tempat hiburan lain di E Plaza Simpanglima. Tidak berhenti disitu, terdakwa justru mengajak rekannya mencari korban dan ketemu di E Plaza. Korban kemudian dibawa pergi dan dianiaya hingga tewas.

Berdasarkan fakta persidangan, korban terus dipukuli karena tidak mau menyebutkan nama rekan-rekannya. Korban akhirnya tewas dengan luka memar akibat benda tumpul dan robek di hampir seluruh tubuh.


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT