Mangkrak 20 Tahun, Proyek Masela Akhirnya Dimulai!

Selasa, 16 Juli 2019 - 14:33:57 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Inpex Corporation melalui anak perusahaannya yaitu INPEX Masela, Ltd, mengumumkan pada hari ini telah menerima persetujuan secara resmi dari jajaran instansi pemerintah yang berwenang menangani revisi Rencana Pengembangan (Plan of Development atau POD) LNG Abadi yang telah diajukan pada tanggal 20 Juni, 2019. 

Pemberitahuan resmi atas persetujuan itu diberikan oleh Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, kepada INPEX selaku operator serta mewakili Mitra Usaha Patungan (INPEX Masela and Shell Upstream Overseas) dan disaksikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Dengan begitu, proyek ini pun bukan lagi sekedar wacana dan asa belaka. Sebagai tambahan atas persetujuan revisi POD, Pemerintah juga menyetujui permohonan untuk alokasi tambahan waktu selama 7 tahun dan perpanjangan Production Sharing Contract (PSC) Wilayah Kerja atau Blok Masela selama 20 tahun hingga 2055. 

"Persetujuan atas revisi POD oleh pemerintah ini merupakan tonggak sejarah yang sangat penting bagi Proyek LNG Abadi. Konsep pengembangan proyek telah mengalami perubahan dari skema kilang terapung menjadi skema LNG darat," ujar President & CEO INPEX Takayuki Ueda, di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Lebih lanjut, ia mengatakan, pihaknya yakin karakteristik proyek yang berdasarkan revisi POD sekarang ini cukup kompetitif dan keekonomiannya sangat masuk akal karena Lapangan gas Abadi mempunyai produktivitas reservoir yang sangat bagus dan merupakan salah satu sumber gas terbesar di dunia.

Hal ini, imbuhnya, menumbuhkan harapan untuk mengembangkannya secara efisien dan menjadikan lapangan ini beroperasi secara stabil dalam memproduksi gas alam cair (LNG) untuk jangka waktu yang panjang

Selanjutnya, Inpex akan terus bekerja bersama Shell sebagai mitra kerja untuk memulai aktivitas persiapan yang diperlukan dalam rangka melaksanakan kegiatan FEED (Front End Engineering Design). Persiapan-persiapan ini utamanya adalah mobilisasi personil untuk operasional dan kegiatan lelang pekerjaan untuk menyeleksi, memilih kontraktor-kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan FEED.

Keputusan Final Investasi (FID) adalah sebuah pokok penting yang akan dicapai melalui serangkaian evaluasi yang sedang berlangsung termasuk pekerjaan Front End Engineering Design (FEED). 

Menanggapi persetujuan revisi POD ini, Executive Vice President Venture Development Shell Clare Harris, menuturkan, dengan diperolehnya persetujuan untuk revisi POD merupakan sebuah pencapaian yang penting. Shell menghargai kerja sama konstruktif dari berbagai jajaran instansi pemerintah, yang telah memungkinkan kemajuan atas tonggak sejarah yang besar ini. 

"Dengan Mitra Usaha Patungan melaju ke tahapan lebih lanjut Proyek Abadi, Shell berharap untuk melanjutkan kolaborasi yang erat bersama INPEX dalam mewujudkan pengembangan LNG di darat yang kompetitif secara global, dan vang akan memberi keuntungan kepada Negara (Indonesia) untuk puluhan tahun ke depan," kata Clare.

Proyek Abadi adalah proyek pengembangan LNG skala besar terintegrasi pertama yang dioperasikan oleh INPEX di Indonesia sebagai operator, sesudah Proyek LNG Ichthys di Australia. 

Proyek Abadi akan memberikan sumbangsih penting serta berarti kepada Indonesia yang akan membawa dampak positif berganda (multiplier effects) bagi Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur. 

Jumlah output gas alam di Lapangan Abadi sebesar 10,5 juta ton per tahun, mencakup sekitar 9,5 juta ton gas alam cair/LNG per tahun, dan memasok penyediaan gas untuk lokal melaluo jalur pipa. Untuk kondensatnya, mencapai sekitar 35.000 barel kondensat per hari.

Dampak dari hal ini terhadap hasil keuangan konsolidasi Inpex untuk tahun yang berakhir pada Desember 2019 adalah nol. 

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menyampaikan, dengan jalannya proyek di Blok Masela ini, pemerintah melihat ada empat hal penting, yakni, ada investasi sangat besar, sekitar Rp 288 triliun untuk satu proyek, berani dilakukan di Indonesia, berarti Indonesia cukup bagus untuk investasi besar.

"Selain itu, Indonesia bagian timur, yang notabene infrastruktur tidak sebaik Indonesia bagian barat, tapi ternyata bisa dijalankan proyek ini, sehingga nanti wilayah-wilayah kerja yang belum dieksplorasi, akan banyak investor-investor besar yang akan mencari itu," ujar Dwi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Poin ketiga, lanjut Dwi, proyek ini dilakukan di laut dalam. Ini menunjukkan, investasi migas ini masih mungkin dilakukan.

"Keempat, ini berdampak pada pertumbuhan industri petrokimia di Indonesia, karena petrokimia kita masih impor banyak ya. Jadi, dengan ini mungkin akan muncul lagi orang mau bangun petrokimia di wilayah Indonesia Timur," pungkas Dwi. [***]


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT