Prospek Suram Manula Cina

Ahad, 02 Juni 2013 - 00:00:10 WIB
Share Tweet Google +

loading...

 
Jumlah penduduk lanjut usia Cina yang hidup dalam keadaan miskin, sakit-sakitan, dan mengalami depresi kian mengkhawatirkan. Situasi ini terungkap melalui survei besar pertama yang membidik warga berusia di atas 60 tahun. Ini adalah tantangan besar bagi Beijing dan menjadi salah satu kekhawatiran terbesar terkait ekonomi Cina di masa depan.

Hasil survei menunjukkan 22,9% dari 185 juta manula Cina”atau 42,4 juta orang”hidup dalam kemiskinan dengan tingkat konsumsi per tahun kurang dari 3.200 yuan (kira-kira Rp 5,1 juta). Padahal para manula ini adalah generasi peletak fondasi booming ekonomi Cina. Ini merupakan gambaran muram bagi upaya pemerintah membangun œmasyarakat harmonis yang tidak hanya bertopang pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga kesejahteraan rakyat.

Ketakutan akan menjadi miskin saat tua mendorong banyak warga Cina untuk menabung uangnya. Hal ini mengganggu prioritas pemerintah Cina: menyeimbangkan ulang ekonomi ke arah konsumsi lebih tinggi.

Survei tersebut dipimpin oleh para akademisi dalam dan luar negeri, serta mencakup 17.708 orang di 28 dari 31 provinsi Cina. Sebagian dananya berasal dari pemerintah Cina melalui sebuah yayasan sains. Laporan survei itu tak alpa memberikan pujian kepada pemerintah atas program pensiun dan tanggungan dalam layanan kesehatan. Namun, hasil survei juga menunjukkan masalah cacat fisik dan gangguan mental cukup meluas. Dari semua responden, 38,1% di antaranya melaporkan kesulitan dalam melakoni kegiatan sehari-hari. Sementara itu, sekitar 40% responden menunjukkan tanda-tanda depresi yang cukup parah.

Hasil ini sulit diperbandingkan di tingkat internasional, akibat masalah definisi. Namun, tingkat kemiskinan, cacat, dan depresi di Cina agaknya cukup tinggi. Sebagai perbandingan, berdasarkan data Badan Sensus Amerika Serikat, tingkat kemiskinan warga AS yang berusia di atas 65 tahun adalah 8,7%. Kajian Kesehatan dan Pensiun AS menemukan bahwa 26%  27% manula AS menderita cacat. Sementara itu, tingkat depresi lebih rendah daripada Cina.

John Strauss, guru besar University of Southern California sekaligus salah satu ketua survei, menengarai level pembangunan Cina yang relatif rendah sebagai salah satu penjelasan akan tingginya tingkat kemiskinan di negeri itu. Kita harus ingat bahwa Cina masih berstatus negara berkembang. Cina belum menjadi negara berpenghasilan tinggi, ujarnya.

Dengan meningkatnya penduduk usia tua, masalah jadi menumpuk. Jumlah manula untuk setiap 100 orang usia kerja di Cina, atau dikenal sebagai rasio ketergantungan, akan meningkat dari 11 pada 2010 menjadi 42 pada 2050, demikian proyeksi PBB.

Banyak negara lain juga akan mengalami lonjakan angka rasio ketergantungan. Namun, kecepatan penuaan di Cina menonjola ”konsekuensi dari kebijakan satu keluarga satu anak.

Menurut survei itu, dari para manula yang membutuhkan bantuan dalam melakukan kegiatan sehari-hari, 88,7% mendapatkannya dari anggota keluarga. Namun, kebijakan satu-anak dan urbanisasi para pemuda untuk bekerja menjadi ancaman bagi kebiasaan lama menyangkut anak merawat orang tuanya.

Cina juga menjadi kasus yang unik dalam permasalahan kependudukan. Negara ini harus menangani masalah penuaan saat masih menjadi negara miskin. Negara lain tua dan kaya, ujar Albert Park, seorang guru besar Hong Kong University of Science and Technology, yang juga salah satu ketua survei. "Penduduk] Cina akan menjadi tua pada tahap perkembangan [ekonomi] yang relatif awal."




loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT