9 Tahun Sabrina Tak Kunjung Sembuh Akibat Imunisasi

Jumat, 17 Agustus 2018 - 18:05:19 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga adalah anugrah dari Allah Subhanawataala, anak ini adalah titipan amanah yang harus dijaga oleh keluarganya dengan baik.

Baik itu anakya sempurna, cacat bahkan tidak beryawa sekalipun harus diterima, karena itu adalah takdir bagi setiap insan di dunia ini yang tak bisa dihindari oleh makhluk apapun juga.

Akan tetapi rusaknya kehidupan anak titipan Illahi ini yang sudah sehat rusak dengan suatu program yang namanya di Imunisasi sungguh suatu cobaan yang berat, dimana telah sembilan tahun seorang anak kejang dan otaknya tidak ingat apa-apa bahkan kadangkala dengan orang tua sendiripun anak malang ini tidak kenal.

Kejadian ini terjadi pada seorang anak tinggal di desa Pangkalan Lesung, kabupaten Pelalawan, Riau bernama Sabrina Mihratul Rima, yang sakit berkepanjangan setelah diimuniasi. 

"Sembilan tahun gara-gara imunisasi anak saya linglung, saya telah berobat kemana-mana, mulai dari medik non medik obat herbal bahkan dukun namun anak saya tak kunjung sehat," keluh orang tua Sabrina Mihratul Rima, Jasman, Jumat (17/8/18).

Dikeluhkan Jasman, kadangkala kejadian ini menjadi penyesalan bagi dirinya namun dia mengaku tidak berdaya karena ini adalah program pemerintah yang katanya menjaga anak Indonesia kebal dari Virus.

Hal ini menjadi tanda tanya dan penyesalan ini stelah, belakangan ada prokontra Imunisai yang lagi ramai di bicarakan seperti tidak halalnya sebuah produk imunisasi yang dikecam ulama karna terindikasi produk imunisasi Haram.

Alkisah diceritakan Jasman, pada 9 tahun lalu anaknya menderita kejang-kejang karena setelah diimunisasi, dari 9 tahun lalau itu sampai saat ini anaknya, namun dirinya pasrah.

"Saya pasrah kalau bisa anak saya tolong diambil pemerintah untuk segera diobati, sebab disamping sudah putus asa, saya tidak sanggup lagi melihat keadaan anak saya ini," jelasnya.

Kadangkala menjadi penyesalan yang mendalam seumur hidup bagi Jasman, karena percaya program pemerintah dia dan keluarga harus diuji oleh Allah dimana anaknya tidak kunjung sembuh setelah diimuniasi itu.

"Kalau dihitung kejangnya sudah lebih dari 350 kali, saya minta ampun dan pasrah, kalaupun Sabrina pulang kepangkuannya saya pasrah," Ujarnya menceritakan pada metroterkini.com dengan meneteskan air mata.

Dari sembilan tahun lalu sampai sekarang Sabrina masih minum obat rutin, segala macam obat udah dicoba baik secara medis, Herbal, Artenatif namun tak ada perubahan.

Pengakuan Jasman, sekaraang Sabrina tidak seperti anak biasa, setiap 6 bulan Sabrina harus cek darah, tragisnya cek darah ini bukan masalah penyakitnya, namun  untuk resiko akibat meminum obat rutin atas dampak imunisasi itu.

"Saya pernah berdebat dengan dokter, Sabrina kejang setelah selesai imunisasi, dokter lansung membantah, kalau itu akibat panas," jelasnya. "Ok saya terima.

"Dijelaskan, dokter Sabrina di imunisasi badannya demam panas, nah karna panasnya tinggi otaknya gak mampu menahan panas itu, karna otaknya tidak mampu Sabrina jadi kejang, itulah alasan dokter," jelasnya.

Tapi ketika saya beri contoh, lain sperti asal muasal baju yang dahulunya berasal dari kapas, kapas diolah jadi benang dan benang ditenun jadi kain, kain digunting lalu dijahit baru jadi baju.

"Nah sisini kita tarik benang merahnya, sebab akibat asal muasal baju dari kapas, apa bedanya anak saya sehat setelah disuntik imuniasi DPT, lalu kejang sehingga sampai saat ini masih sakit, "Kan Imuniasi asalnya muasalnya"," uacapnya.  

Mendengar contoh ini sang dokter malah terdiam, keluhnya kalau dihitung dengan materi sudah lebih 1 Milyar Rupiah biaya yang dikeluarkan perobahan sampai 9 tahun tidak ada, bahkan sakitnya bertambah parah.

"Masalah uang tidak saya pirkan lagi, yang lebih berat adalah beban batin dan mental yang harus saya derita melihat keadaan Sabrina, sekarang Sabrina wajib 3 kali dalam satu minggu kejang-kejang, kalau begini saya udah berkloborasi bersama program pemerintah merusak titipan Illahi," Pungkasnya.

Dia berharap pada Presiden Jokowi dan menteri Kesehatan Indonesia dan yang menjalankan program ini agar bertanggung jawab? masalah fakta boleh dibuktikan dan lihat nasibnya.(Ajho)

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT