Inilah Alasan Banyak Wanita yang Terkena Lupus!

Selasa, 08 Mei 2018 - 18:48:29 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Penyakit autoimun belakangan mulai menyeruak. Salah satu yang paling dikenal adalah lupus.

Menurut data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) online tahun 2016, terdapat 2166 pasien rawat inap yang terdiagnosis lupus. Lonjakan ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2014 dengan angka temuan 1169 kasus baru. 

Pada tahun 2016 angka kematian akibat lupus pun cukup tinggi yakni 550 jiwa yang meninggal akibat lupus. 

Pakar penyakit dalam Dr. Sumariyono, SpPD, KR, MPH menyebut sebagian besar penderita lupus ialah perempuan pada usia produktif yakni mulai dari 15 hingga 50 tahun. 

"Rasio penderita lupus antara perempuan dan laki-laki yakni 2 banding 1," ungkap dia dalam acara Program Deteksi Dini Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (LES) di Gedung Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Jakarta Pusat pada Selasa 8 Mei 2018. 

Penyakit lupus.

Dia menyebut hingga kini belum diketahui penyebab penyakit dan risiko yang meningkatkan potensi lupus. Namun kata dia, beberapa studi ada yang menyebut bahwa penyakit ini erat kaitannya dengan faktor genetik. 

"Kalau seseorang memiliki riwayat keturunan lupus akan berpengaruh. Atau dia memiliki anak kembar, salah satu diantaranya angka kejadian lupus sangat signifikan," kata dia. 

Faktor risiko berikutnya yang diduga penyakit lupus adalah faktor hormonal. Yang mana faktor hormonal yakni estrogen lebih berperan pada proses patogonesis lupus. Sehingga diketahui prevalensi wanita lebih besar menderita lupus. 

"Faktor hormonal (estrogen) itu lebih berperan ada eviden base (paradigma kedokteran) baru yang memperkirakan kondisi hormonal sebagai faktor yang mempermudah terjadinya lupus di mana estrogen lebih cenderung untuk pro lupus, sedangkan testeron itu lebih protektif," ujarnya.

Faktor risiko lainnya adalah faktor lingkungan yang meliputi stres psikologis, paparan sinar ultraviolet (pukul 11.00-13.00 WIB), polusi, asap rokok, infeksi dan obat-obatan. 

Hingga kini penyakit ini belum dapat disembuhkan, akan tetapi seseorang bisa melakukan cek kesehatan rutin minimal 6 bulan sekali untuk mengurangi tingkat gejala dan mencegah kerusakan organ dan selalu menerapkan hidup sehat. [*Viva]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT