Rumah Tuo Merangin Jambi, Jejak Perkampungan Purba

Senin, 19 Maret 2018 - 16:26:14 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Provinsi Jambi terletak di tengah Pulau Sumatera. Posisinya diapit gugusan bukit barisan di sisi barat dengan puncak tertinggi adalah Gunung Kerinci. Di sebelah timur menghampar dataran rendah gambut hingga berujung pantai.

Kedua sisi ini terhubung oleh Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera. Kondisi ini menjadikan Jambi sebagai daerah yang subur. Hal ini menjadikan Jambi dipercaya sudah banyak dihuni kelompok penduduk sejak ratusan tahun lampau. Kelompok-kelompok ini kemudian membentuk suku-suku Melayu Jambi.

Berdasarkan sejumlah catatan di Museum Negeri Jambi, salah satu suku tertua di Jambi adalah suku Bathin. Suku Bathin adalah keturunan Proto Melayu atau Melayu Tua.

Jejak tempat tinggal suku tertua di Jambi ini masih bisa dilihat hingga saat ini. Yang paling dikenal adalah sebuah perkampungan purba di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Jejak peninggalan Suku Bathin ini adalah Rumah Tuo.

Oleh warga sekitar, perkampungan purba ini biasa disebut dengan Dusun Tuo. Disebut Dusun Tuo karena di perkampungan ini terdapat sekitar 60 rumah tua peninggalan nenek moyang Suku Bathin.

Kawasan Dusun Tuo di Desa Rantau Panjang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin atau sekitar lima sampai enam jam perjalanan darat dari Kota Jambi.

Menuju perkampungan purba di Desa Rantau Panjang serasa kembali ke masa lampau. Deretan rumah penduduk bergaya panggung berderet di sisi kanan dan kiri jalan. Hijau perkebunan karet tua milik warga membuat perjalanan makin terasa segar dan sejuk. Belum lagi diselingi indahnya gundukan perbukitan di sekitarnya.

"Sekarang sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan. Termasuk turis asing juga," ujar Andre, salah seorang warga Kota Jambi yang sudah dua kali berkunjung ke Dusun Tuo pada akhir 2017 lalu.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Merangin, Dedi Darmantias mengatakan, di daerahnya ada dua lokasi wisata unggulan. Yakni Rumah Tuo dan kawasan Geopark Merangin yang saat ini tengah diusulkan agar diakui UNESCO sebagai warisan dunia.

"Agar lebih dikenal, kita sudah beberapa kali menggelar trip wisata bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi," ujar Dedi.

Kini, dengan gencarnya promosi yang dilakukan, wisatawan baik lokal maupun luar negeri mulai banyak yang datang ke Merangin. Khususnya ke Rumah Tuo dan Geopark Merangin.

Tak hanya promosi, Pemkab Merangin juga sibuk memperbaiki sejumlah fasilitas. Salah satunya adalah akses menuju lokasi wisata. Hal ini agar wisatawan menjadi betah dan mudah saat berkunjung.

Untuk menuju Kabupaten Merangin bisa ditempuh melalui jalur darat maupun udara. Bandara terdekat adalah Bandara Muarabungo di Kabupaten Bungo. Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Bandara Muarabungo menuju Kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin.

Kedua adalah Bandara Sultan Thaha di Kota Jambi. Dari bandara ini dibutuhkan waktu sekitar 4 jam perjalanan darat menuju Kota Bangko. Dari Kota Bangko dibutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan darat menuju kawasan Rumah Tuo.

Akses jalannya cukup mudah karena sudah bisa dilewati menggunakan mobil.

Gugusan Rumah Tuo terlihat seragam dengan ciri khas panggung terbuat dari kayu. Jenis kayu yang digunakan sebagai rumah adalah kayu besi yang memang terkenal keras, makin tua makin kuat. Jenis kayu ini disebut sudah semakin langka di Jambi, bahkan di hutan sekalipun.

Bentuk rumah tampak memanjang ke samping dengan sebuah tangga menyamping di bagian depan. Sebuah pintu masuk dan beberapa jendela dengan ukuran besar. Bentuk rumah terlihat sederhana, namun kokoh. Sejumlah ukiran menghiasi beberapa bagian rumah.

"Dulu atap Rumah Tuo dari ijuk, namun sekarang diganti seng karena untuk mendapatkan ijuk saat ini sudah sulit," ucap Deni, salah seorang warga Dusun Tuo.

Dari sekian banyak rumah di Dusun Tuo, ada satu rumah yang kini dijadikan museum Suku Bathin. Meski statusnya museum, rumah tersebut masih ditinggali oleh keluarga Iskandar. Iskandar merupakan keturunan ke-14 Puyan Bungkul atau pendiri Dusun Tuo.

Menurut Iskandar, rumah yang ditinggalinya itu adalah rumah tertua di Dusun Tuo. Umurnya sudah mencapai 700 tahun. Awalnya, rumah tersebut merupakan kediaman raja.

Halaman rumah Iskandar tampak luas. Ini berfungsi sebagai tempat berkumpul warga maupun sebagai ajang gelaran tari semayo (tarian selamat datang) saat ada tamu yang bertandang. Warga Dusun Tuo memang dikenal ramah dan menjunjung tinggi nilai budaya gotong royong.

Iskandar menjelaskan, Rumah Tuo pertama kali dibangun pada masa Kerajaan Koto Rayo sekitar 700 tahun lalu. Pada prosesnya, rumah dibangun dengan kayu tanpa paku. Hanya menggunakan tali dan pasak.

"Awalnya hanya 19 rumah. Namun semakin bertambahnya warga, jumlah rumahnya bertambah," ujar Iskandar.

Menurut dia, penduduk di Dusun Tuo awalnya adalah penganut animisme yang percaya kepada roh halus. Namun, sejak tahun 1600-an, mereka sudah memeluk agama Islam.

Yang menarik, sekalipun tumbuh dan memiliki adat budaya tersendiri, warga Dusun Tuo ini tidak anti terhadap pengaruh atau asimilasi budaya. Sebagian besar mata pencaharian warganya adalah petani karet dan sawah.

Sejak beberapa tahun terakhir, Dusun Tuo di Desa Rantau Panjang ini dijadikan sebagai desa wisata oleh Pemkab Merangin. Sejumlah perbaikan fasilitas juga terus dilakukan di sana.

Tak hanya umurnya yang tua, Rumah Tuo di Desa Rantau Panjang ternyata sarat akan nilai sosial dan budaya masyarakatnya.

Untuk masuk ke dalam Rumah Tuo kita harus membungkuk. Ini karena ketinggian pintu masuk ke dalam rumah itu hanya sekitar satu meter.

"Itu adalah simbol kesopanan dan rendah hati," ucap Iskandar.

Memasuki bagian dalam, terdapat ukiran bagian dinding, kayu penopang, dan tiang penyangga rumah. Motif ukiran itu disebut sebagai hiasan keluk paku yang keloknya seakan tidak berujung pangkal. Oleh Iskadar, motif ukiran itu melambangkan semangat berkesinambungan.

Kemudian ada hiasan di bagian tiang penyangga bermotif tali bapilin tigo (tali berikat tiga) yang melambangkan persatuan kaum agama, kaum adat, dan ninik mamak (nenek moyang atau tetua).

Rumah Tuo terbagi menjadi tiga ruangan. Ruang pertama merupakan tempat pertemuan untuk tamu maupun keluarga. Di ruangan ini juga dipajang sejumlah peralatan suku Bathin, seperti aneka keramik tua, ambung atau keranjang tempat mengangkut hasil pertanian, dan tempat sirih.

Lalu ada tempat minum dari labu serta berbagai jenis tempat menaruh barang dari dedaunan yang konon juga merupakan alat untuk mengusir setan.

Selain itu, ada juga dipajang sebuah mushaf Alquran dari tulisan tangan serta kain adat kuno yang tersimpan di lemari kaca.

Di bagian ujung kanan ruang pertemuan terdapat Balai Melintang. Posisinya sedikit lebih tinggi. Pada zamannya, Balai Melintang ini diperuntukkan bagi raja, ninik mamak, dan alim ulama. Kemudian di sisi kirinya terdapat lantai lorong menuju ruangan kedua yang disebut Gaho. Ini diperuntukkan bagi pekerja.

Ruang kedua disebut Mengalam, yakni kamar tidur keluarga. Di ruangan inilah seluruh keluarga beristirahat. Kemudian ruangan ketiga difungsikan sebagai dapur.

Menurut Iskandar, ada perawatan khusus hingga Rumah Tuo bisa tetap kokoh berdiri hingga ratusan tahun. Perawatan tersebut dilakukan dengan memberikan sapuan getah dari pohon ipuh. Oleh warga setempat, getah pohon ipuh dikenal bisa mengusir rayap dan memperkuat bangunan kayu.

"Getah ipuh dicampur air, dan disapukan ke rumah lima tahun sekali," ucap Iskandar.

Iskandar menyarankan, bagi yang ingin berkunjung ke Dusun Tuo agar datang pada hari ketujuh Lebaran Idul Fitri. Saat itu, warga Dusun Tuo berkumpul dan memeragakan Silek Penyudon.

Silek Penyudon adalah adat istiadat yang diperagakan para pria Dusun Tuo sebagai penanda berakhirnya Lebaran dan dimulainya kembali aktivitas warga. Selain berkumpul, warga juga menyajikan berbagai hidangan khas Dusun Tuo, seperti nasi kukai, lepek pucung, gudok memantai dan pakis gulai belut. [*liputan6]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT