Sandi Sebut Sampah di Teluk Jakarta Belum Ditangani

Sabtu, 17 Maret 2018 - 12:47:06 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut sampah di Teluk Jakarta sudah ada sejak 2014. Namun, selama ini sampah tersebut belum ditangani.

"Konon kabarnya dari pengelola sampah di sana dari 2014, tetapi kita yakin bahwa sebelumnya pemerintah sudah memberi perhatian tetapi belum eksekusi saja, jadi kita jangan saling menyalahkan, kita kerjakan saja sekarang," kata Sandiaga di Jakarta Timur, Sabtu (17/3/2018). 

Menurut Sandiaga, kendala pembersihan sampah tersebut yakni lokasi titik timbunan sampah yang bersebelahan dengan hutan mangrove. Dengan demikian, pembersihan sampah menggunakan alat berat dikhawatirkan merusak mangrove. 

"Jadi bagaimana nanti penanganan ke depan, bagaimana bisa membawa alat-alat beratnya ke sana. Tapi ini akan ditangani karena itu dari tahun 2014 kita sedikit ada tumpang tindih, karena ada konservasinya sementara sampahnya kumpul di sana membawa kalau ada kegiatan takut mengganggu mangrovenya," kata Sandiaga. 

Menurut Ketua Komunitas Mangrove Muara Angke Risnandar, sampah-sampah itu dibawa angin barat. 

Pasukan Orange

Wajah sungai Jakarta di tahun terakhir masa Ahok dan Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat, telah mengerahkan 4 ribu pekerja harian lepas--atau yang luas dikenal sebagai Pasukan Oranye.

"Sampah yang ada di sungai kami ambil terus," ujar Isnawa, Kepala Dinas Kebersihan DKI seperti dilansir liputan6.com

Namun, Pemprov DKI mengalami masalah kekurangan lahan untuk menampung sampah segunung itu. Warga enggan menjual lahan kepada pemerintah untuk dijadikan tempat pembuangan sampah. Alasannya, lingkungan di sekitar mereka nanti jadi kumuh dan bau.

Untuk mengatasi persoalan ini, Pemerintah DKI menggalakkan program bank sampah. Dengan program ini, sampah dipilah berdasarkan jenisnya, lalu dikonversi menjadi uang tabungan. Sayangnya, belum semua warga memahami manfaat bank sampah ini, sehingga banyak yang tetap membuang sampah ke sungai.

Sungai-sungai Jakarta belum sepenuhnya bebas sampah. Meski sudah membendung sampah agar tak mengalir jauh, Isnawa membenarkan masih ada kawasan muara dan pesisir yang kotor oleh timbunan sampah. Sampah-sampah ini bisa berasal dari warga di sekitar muara atau sampah lama yang terbawa gelombang ke pinggir pantai.

Selain sekat, saringan besi digunakan untuk menghambat sampah di pintu-pintu air. Di seluruh Jakarta, terdapat 25 saringan, untuk menghambat aliran sampah ukuran besar di pintu air.

Karena terbuat dari besi, saringan bisa menahan beban berat seperti batang bambu, balok kayu, mebel. Sampah plastik dan kain tetap bisa ditahan. Kelebihan lainnya, saringan ini dilengkapi garpu hidrolik untuk mengangkat tumpukan sampah ke atas pintu air. Sebuah conveyor belt lalu menghantarkan sampah ke pinggir sungai.

Di Jakarta, terdapat dua tempat penampungan sampah sungai seperti ini yaitu di Jalan Perintis Kemerdekaan dan Pluit. "Sampah dikeringkan di emplacement sebelum dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang," katanya. [***]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT