Diplomasi Jokowi di Rohingya Gagal, Myanmar Tutup Akses

Selasa, 12 September 2017 - 19:25:29 WIB
Share Tweet Google +

Metroterkini.com - Jumlah warga Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus mencapai 313.000 orang dan korban jiwa dalam seminggu terakhir dikabarkan mencapai 1500 orang.

Pada Minggu (10/09), PBB mengatakan bahwa sekitar 294.000 warga Rohingya telah tiba di perbatasan Bangladesh.

Komunitas minoritas muslim Rohingya sudah lama menjadi sasaran diskriminasi di Myanmar yang mayoritas menganut ajaran Budha, yang menolak kewarganegaraan warga Rohingya.

Bangladesh menjadi tujuan satu-satunya untuk lari setelah pemerintah Myanmar dan Thailand memburu para mafia travel laut untuk mencegah orang-orang Rohingya menuju samudra Hindia untuk melarikan diri ke Malaysia atau Indonesia.

Gelombang besar pengungsian dan semakin membaranya konflik membuktikan bahwa diplomasi yang dilakukan Presiden Joko Widodo melalui Menlu Retno Marsudi tidak ditanggapi serius oleh pemerintah Myanmar.

Seminggu lalu, Senin (04/09), Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyampaikan usulan yang disebut "Formula 4+1" untuk mengakhiri kekerasan terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine.

Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Indonesia Usulan ini disampaikan dalam pertemuan Retno dengan Aung San Suu Kyi di kota Nay Pyi Taw. Empat elemen dari formula tersebut adalah mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine tanpa memandang suku dan agama, dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan keamanan.

Satu elemen lainnya yang disampaikan Retno kepada Suu Kyi adalah supaya rekomendasi Komisi Penasihat untuk Rakhine State yang dipimpin Kofi Annan segera diimplementasikan.

Di antara poin penting dalam rekomendasi Kofi Annan itu adalah dibukanya akses bantuan kemanusiaan, akses bagi media, penegakan hukum, kewarganegaraan dan kebebasan bergerak, dan pengembangan ekonomi sosial di Rakhine.

Myanmar selama ini menutup akses bantuan kemanusiaan dan media di wilayah konflik tersebut. Dalam kunjungan Retno ke Myanmar, disepakati keterlibatan Indonesia dan ASEAN dalam penyaluran bantuan. Akan tetapi, dari pantauan media, bantuan lebih banyak disalurkan di kamp pengungsian di Bangladesh.

Di Bangladesh, pengsungsi Rohingya juga tidak aman. Para pengungsi Rohingya itu tahu, bahwa di Bangladesh mereka juga akan diusir balik. Sebelumnya negeri itu sudah menampung 700an ribu pengungsi dan kalau akan ditambah lagi dengan gelombang pengungsian baru, menurut Menlu Bangladesh akan menjadi masalah nasional. Kita semua tahu bahwa Bangladesh adalah negara miskin.

AE Priyono dari Public Virtue Institute memperkirakan potensi korban genosida pada warga Rohingya sebanyak 1,3 juta jiwa.

Indonesia mencoba hadir di Myanmar lewat pendekatan sebagai sesama negara ASEAN, sebagai tetangga. Hal ini setelah diplomasi yang coba dilakukan oleh Malaysia gagal, setelah dituding Myanmar sebagai ajang politisasi Rohingya untuk kepentingan politik penguasa negeri jiran itu.

Sepertinya pemerintah Myanmar lebih senang menerima bantuan USD2 juta dari pemerintah Indonesia ketimbang melaksanakan rekomendasi yang disodorkan Retno. Ketika junta militer Myanmar memilih melanjutkan konflik, ada potensi tidak tersalurkannya bantuan pangan, obat-obatan, tempat tinggal sementara dan pendidikan bagi warga yang terdampak konflik.

Perlu tekanan yang lebih kuat dari masyarakat internasional untuk mencegah potensi genosida yang dilakukan oleh militer maupun ancaman kematian akibat kelaparan karena pengusiran.

Reaksi peraih Nobel perdamaian

Pemimpin spiritual Buddha asal Tibet, Dalai Lama, ikut angkat bicara soal krisis pengungsi Rohingya bahwa Sang Buddha pasti menolong Muslim yang saat ini mengungsi menghindari konflik di Myanmar yang mayoritas penduduknya pemeluk Buddha.

Pemimpin tertinggi umat Budha itu adalah peraih Nobel Perdamaian terakhir yang mengecam kekerasan yang disebut organisasi HAM PBB telah merenggut 1.000 orang Rohingya.

'Mereka yang menganiaya Muslim semustinya mengingat Buddha," kata Dalai Lama dilansir rimanews.

Yang terlibat kebencian terhadap Muslim rohingya adalah kelompok nasionalis Buddha pimpinan para penghasut telah melancarkan kampanye islamofobia yang menyerukan pengusiran Rohingya dari Myanmar.

Peraih Nobel Perdamaian yang lain adalah Aung San Suu Kyi, penasehat negara, yang turut menolak melakukan intervensi guna membantu Rohingya. Oleh peraih Nobel Perdamaian yang lain, yakni Malala Yousafzai (Pakistan) dan Uskup Desmond Tutu (Afsel), Suu Kyi didesak untuk angkat bicara.

"Seandainya harga politik Anda untuk naik ke kekuasaan di Myanmar adalah sikap bungkam Anda, maka harga itu sudah pasti terlalu tinggi," kecam Tutu.[*]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT