Nikahkan Putrinya, Bupati Ponorogo Tolak Sumbangan Warga

Kamis, 07 September 2017 - 18:26:13 WIB
Share Tweet Google +

Metroterkini.com – Orang nomor satu di Kota Reyog Ponorogo, Jatim punya gawe. Bupati Ipong Muchlissoni bakal menikahkan putri satu-satunya yakni Mazaya Zhafarina Nur Islami buah pernikahannya dengan istrinya Sri Wahyuni. 

Lulusan Kedokteran Gigi yang masih berumur 22 tahun ini akan menikah dengan pujaan hatinya yang sudah sekitar 6 tahun berpacaran sejak masih SMA hingga sekarang. Dia adalah IPDA Aldhino Prima Wirdhan (24 tahun), putra Kombes Pol H. Wirdhan Denny dari Jakarta. 

Mantunya Bupati Ipong Muschlissoni ini benar-benar menyita perhatian masyarakat. Lantaran disebut-sebut prosesi manten besar-besaran yang diperkirakan menghabiskan biaya Milyaran rupiah.

Ketika disebutkan menghabiskan biaya miliaran, Ipong mengaku merahasiakannya. “Itu rahasia, yang jelas ketika kami kepingin sesuatu bisa mewujudkan, seperti menghadirkan dalang Ki Entus, Alhamdulilah bisa, gitu saja,” ujar Ipong Muchlissoni saat jumpa pers di Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo, Kamis (7/9/2017).

Besarnya biaya pernikahan ini salah satunya bisa ditilik dari jumlah undangan saat resepsi pernikahan, Sabtu (9/9/2017) yang mengundang sekitar enam ribu orang. “Saat resepsi ada 6 ribu undangan kalau dikali 2 sekitar 12 ribu orang,” katanya.

Saking banyaknya undangan yang dihadirkan, resepsi yang diawali dari pedang pora tradisi kepolisian ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 6, 5 jam. “Resepsi malam hari, karena tamunya banyak dimulai sekitar pukul 18.30 dengan asumsi perkiraan baru selesai jam 12 malam,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Bupati Ipong juga menyebar sekitar 50 ribu undangan untuk menghadiri tasyakuran pernikahan yang bakal digelar Minggu malam Senin (10/9/2017) mendatang. Puluhan ribu undangan itu disebar bagi tokoh masyarakat, RT, RW maupun perangkat desa. 

Mereka diundang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Entus Susmono, Bupati Tegal bersama Lawak Gareng Semarang, Cak Dikin, Lusi Brahman Ponorogo dan Eka Kebumen. “Kami cetak dan sebar 50 ribu undangan. Itu diluar spanduk pemberitahuan yang kami pasang di seantero sudut Ponorogo,” sebutnya.

“Ini bukan resepsi tapi tasyakuran, semua ini bentuk rasa syukur satu satunya putri kami akan kami nikahkan. Mantu itukan filosofinya sing dieman-eman metu artinya diambil orang,” sebutnya.

Luar biasanya lagi, tasyakuran ini diformat layaknya pesta rakyat. Ipong bahkan membayar semua pedagang kali lima yang biasa mangkal di alun-alun untuk menjajakan dagangannya secara gratis. 
“Sudah kami data silakan menjajakan dagangannya nanti uang akan kami ganti,” sebutnya.

Bahkan, pihaknya meminta pedagang menambah dagangannya. “Pokoknya gratis PK lima jualan yang bayar saya. Saya suruh nambah porsi jualan. Kita yang bayar. Cuman jumlahnya mungkin tidak cukup karena saya tidak tahu berapa yang datang,” sebutnya. 

“Kami sediakan 90 ribu porsi. Ada polo pendem dan lain-lain, bahkan ada ubi bertrek trek. Ini saya ingin berbagi gembira dengan masyarakat Ponorogo,” sebutnya.

Meski menyebar ribuan undangan ternyata Bupati Ipong Muchlissoni menegaskan bahwa dirinya tidak menerima becekan. “Kami sudah memutuskan karena syukuran biarkan kami mensyukuri tanpa berharap amplop atau becekan. Allah lah yang akan menggantikan. Itu baik di acara resepsi di pendopo maupun tasyakuran di alun-alun,” sebutnya.

Bahkan, dirinya mewanti-wanti semua among tamu untuk memberitahu agar tamu tidak memaksakan diri memberikan amplop. Karena bisa menggangu kelancaran acara. “Kadang ada yang memaksa akhirnya oyok-oyokan, kalau seperti itu terpaksa diterima saja biar tidak habis waktunya,” sebutnya.

Pihaknya tidak berani memberitahukan tidak menerima becekan ini kartu undangan. “Tidak dicantumkan nanti dianggap sombong. Kan tidak enak,” sebutnya. Pun, Ipong sudah berpikir jauh, tidak mungkin membalas kembali undangan yang sekian ribu banyaknya. “Bukankah budaya becekan itu harus dibales. Saya tidak bisa membayangkan sekitar 6000 ribu. Apalagi saya tentu tidak bisa mencatatnya,” katanya lagi. [nur]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT