Korupsi Satpol PP, Najamuddin Pakai Perusahaan Keluarga

Ahad, 03 September 2017 - 18:19:21 WIB
Share Tweet Google +

Metroterkini.com - Sidang perkara dugaan korupsi pendidikan dasar (Diksar) 170 orang personel Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bengkalis dengan terdakwa Najamuddin dan Sukardi kembali digelar di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Selasa (29/8/17) lalu.

Dua orang saksi dari 13 saksi yang dihadirkan, yakni Ketua Panitia pelaksana kegiatan, Yusri dan Syafrizal.

Kapada majelis hakim yang diketuai Toni Irfan, saksi mengungkapkan, kegiatan Diksar tersebut dilaksanakan 2014 dengan anggaran Rp1,3 miliar.

Kegiatan yang diikuti 170 anggota baru Satpol PP itu dilaksanakan tiga gelombang. Masing-masing gelombang pertama 60 orang peserta, gelombang kedua 60 orang dan gelombang ketiga 50 orang. Semua kegiatan dipusatkan di Bumi Perkemahan Pramuka Bengkalis, Jalan Kelapapati Darat.

Terkait kegiatan itu, terdakwa Najamuddin memerintahkan saksi untuk membuat dokumen kontrak pengadaan makan, minum, snak dan perlengkapan kegiatan. HPS kontrak pengadaan tersebut ditetapkan terdakwa Najamuddin. Selain itu, terdakwa Najamuddin juga memerintahkan saksi membuat dokumen pengeluaran, seperti pakaian olahraga, atribut, snak, perlengkapan peserta.

Karena saksi tidak mengerti membuat kontrak, saksi kemudian berkoordinasi dengan Kasubag Keuangan. Saksi juga berkoordinasi dengan terdakwa Sukardi.

"Perintah membuat dokumen kontrak secara lisan, pak hakim," kata Yusri maupun Syafrizal.

Selaku pembuat dokumen kontrak kegiatan, saksi tidak mengetahui ada kontrak pengadaan makan minum dengan restouran Yati. Menurut saksi, untuk kontrak pengadaan perlengkapan kegiatan, seperti pengadaan alat tulis kantor (ATK), pakaian olahraga dan pakaian dinas serta perlengkapan lainnya ditunjuk CV. Ratu Sayang milik Tuti Rahayu, adik ipar terdakwa Najamuddin. Sedangkan pengadaan perlengkapan dan makan, minum dengan Hj. Mesra Cipta.

Namun, belakangan diketahui, pengadaan ATK dan pakaian olahraga diberikan kepada Harjadi alias Ayong dari toko Borobudur Stationery dan  perlengkapan pakaian dinas kepada UD Mesra Pekanbaru, bukan kepada CV. Ratu Sayang.

Ternyata, badan usaha restoran Yati dan CV. Ratu Sayang untuk sekedar legalitas. Sebagai kompensasi, Restoran Yati dan CV. Ratu Sayang menerima fee 3 persen dari nilai kontrak.

Ungkap saksi lagi, setelah uang dicairkan dari bank. Uang kemudian dibawa ke kediaman terdakwa Najamuddin.

Saksi kemudian diperintahkan terdakwa untuk membayar termijn pertama ATK Rp15 juta dan pengadaan pakaian olahraga Rp97 juta kepada toko Barobudur Stationery yang diterima buk Acin. Sementara untuk pakaian dinas ke UD Mesra Pekanbaru.

"Selain itu, saya juga diperintahkan membayarkan fee sebesar. 3 persen dari nilai kontrak kepada badan usaha yang dipinjam. Untuk gelombang pertama Rp10 juta masuk ke rekening CV Ratu Sayang. Sementara untuk restoran Yati totalnya Rp15 juta," ungkap saksi yang menerima honor Rp300 ribu dari seluruh kegiatan tersebut.

Hanya saja, sebagian keterangan saksi dibantah oleh Najamudin yang didampingi kuasa hukumnya, S Munir, H Syahrudin dan Yhovizar.

Usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim menunda sidang dan akan dilanjutkan Selasa depan dengan aganda masih mendengar keterangan saksi.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam sidang Selasa lalu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Bengkalis, Arief Setya Nugroho juga menghadirkan saksi lainnya, yakni Afzan (PNS Satpol PP), Iswadi bin M Hasan (PNS Satpol PP), Muh Mirsad (PNS Satpol PP), Abdul Syukur (PNS Satpol PP), H. Tarmizi Ahmad (PNS Satpol PP), Tengku Fauzi (PNS PP), Susanto alias Ahan (Direktur Borobudur Stasionery), Harjadi alias Ayong (Marketing Borobudur Stationery), Tuti Rahayu (kontraktor CV. Ratu Sayang (Adik ipar terdakwa Najamuddin), dan Mesra Cipta (pensiunan Disdik)

Biaya program Diksar ini dianggarkan di Satpol PP senilai Rp1,3 miliar. Dari Rp1,3 miliar tersebut yang habis terpakai diduga hanya setengah. Sementara setengahnya diduga untuk keperluan pribadi terdakwa. [rdi]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT