Mengenal Budaya Mempersunting Gadis dari Suku Dayak     

Kamis, 06 Juli 2017 - 10:59:45 WIB
Share Tweet Google +

Metroterkini.com - Mungkin bukan rahasia lagi kalau gadis-gadis Dayak memang terkenal dengan kecantikannya. Terlebih, gadis Dayak punya paras yang alami. Nggak seperti perempuan Korea yang sebagian besar hasil operasi plastik, atau cewek-cewek kota yang mukanya dilapisi make up.

Karena kecantikan yang asli itu, banyak pria yang mabuk kepayang dan pengen menikahinya. Meski cantik, namun untuk menikahi gadis Dayak perlu perjuangan lho. Contohnya saja para masyarakat dari Dayak Pagusan. Untuk menikahi gadis di sana, banyak syarat yang terkesan rumit namun kaya akan simbol. Berikut ini yang harus kamu lalui jika ingin memperistri wanita Dayak Pagusan.

Bertunangan secara adat

Di tengah gempuran budaya modern, Dayak adalah salah satu suku yang masih bisa mempertahankan tradisi pernikahan adat mereka. Jika ada laki-laki dan perempuan yang saling menyukai, mereka harus lebih dulu melakukan pertunangan. Proses tersebut sendiri dibagi menjadi dua, yaitu lamaran dan juga perencanaan pernikahan.

Untuk menunjukkan kesungguhan, calon pengantin laki-laki harus membawa barang bukti seserahan berupa mangkuk sesingkar, cincin dan kain batik. Pihak laki-laki juga boleh menambah seserahannya. Setelah pertunangan tersebut, kedua pasangan tersebut terikat, mereka tidak bisa bebas lagi bermain dengan teman-temannya. Pertunangan bisa saja batal karena sebab pelanggaran tersebut. Jika pernikahan sampai batal, akan ada denda juga.

Seserahan pihak laki-laki

Sebelum melaksanakan pernikahan, pihak laki-laki harus memberikan seserahan berupa barang tertentu. Barang-barang tersebut adalah, mangkuk lima singkar, sebilah parang lengkap dengan sarung, kain batik, rantai marik (manik-manik), dua buah cuku (tempat minyak wangi) dan masih banyak lagi barang-barang yang harus dilengkapi.

Meski begitu banyak, namun masing-masing seserahan tersebut memiliki simbol dan makna yang tersembunyi. Sebut saja sebilah parang yang menjadi lambang bagi kebulatan hati seorang laki-laki yang ingin menikahi gadis idamannya.

Mengarak calon pengantin

Jika semua barang-barang yang menjadi syarat tersebut sudah dipenuhi, proses selanjutnya adalah mengarak calon pengantin pria menuju tempat upacara yaitu kediaman mempelai wanita. Acara tersebut biasanya dipimpin oleh juju bicara pihak perempuan untuk meminta barang seserahan dari pihak laki-laki. Setelahnya, kedua calon pengantin duduk bersandingan dan diberi semangkuk tuak untuk diminum bergantian.

Mereka juga akan diolesi dengan beberapa ramuan seperti daun hahidup, tuak, beras yang dicampur dengan darah ayam. Adapun beberapa bagian tubuh yang diolesi adalah pipi kanan dan kiri, punggung belakang, dada, siku kanan dan kiri, kedua atas lutut, tulang kering, telapak kaki dan ubun-ubun.

Memberikan nama panggilan

Setelahnya, pemimpin upacara juga akan mengajak pengantin ini menari. Saat itu juga mereka akan mendapat gelar sesuai dengan status sosial mereka di masyarakat. Gelar tersebut digunakan saat upacara-upacara tertentu. Kedua pengantin juga diberi panggilan tertentu. Dalam sehari-hari, kerabat atau mertua tidak boleh memanggil menantunya dengan nama aslinya, melainkan nama panggilan yang diberikan.

Jika telah selesai, kedua pasangan ini diharuskan mandi di sungai untuk membuang sial. Ketika sepasang suami istri telah sah menikah secara hukum adat Dayak, mereka belum boleh tidur bersama hingga tiga hari tiga malam.

Itulah tahapan pernikahan adat Dayak. Begitu tradisional meski Indonesia sendiri telah didominasi oleh masyarakat modern. Memang, pernikahan adat Dayak terkesan lebih rumit, namun begitu kaya akan makna. [***]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT