Keramba Jaring Apung Produk Dalam Negeri Kalah Bersaing

Senin, 19 Juni 2017 - 01:15:34 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Pemerintah melalui Direktorat Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, memilih produk Keramba Jaring Apung (KJA) yang berstandar Norwegia untuk pelaksanaan budidaya lepas pantai atau offshore.

Walau pada proses pengadaan tender Keramba Jaring Apung (KJA) untuk budidaya lepas pantai di Direktorat Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan sempat terjadi beberapa kali pengulangan, karena para rekanan ada beberapa yang keberatan dengan spesifikasi yg ditetapkan oleh KKP.

"Tender dimenangkan oleh salah satu rekanan di KKP dan pemenangnya mereka yang mempunyai salah satu persyaratan lelang yakni produknya harus Norwegian Standar. Dalam hal ini tentu kenapa pemerintah menetapkan standarisasi Norwegian," ujar Saipul Bahri selaku marketing eksekutif AquaTec disela-sela proses ekspor perdana produk AquaTec di Cimareme, Bandung, (17/06/2017)

Saipul mengatakan, PT Gani Arta Dwitunggal sebagai perusahaan yg bergerak dibidang produsen alat budidaya kelautan dan perikanan dalam negeri, yg didalamnya juga adalah memproduksi Keramba Jaring Apung (KJA) offshore dengan merek AquaTec inimselalu berusaha untuk berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan nelayan dan penigkatan produksi budidaya.

Beliau melanjutkan, tidak heran ketika ada informasi tentang rencana pemerintah melalui Direktorat Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memasang dan mengembangkan budidaya melalui alat Keramba Jaring Apung (KJA) lepas pantai, AquaTec lakukan gerak untuk riset dan uji coba dibeberapa wilayah laut nusantara dalam rangka menghasilkan produk yang handal dan aplicable untuk nelayan dan masyarakat indonesia.

Terbukti ternyata produk Teknologi Keramba Jaring Apung (KJA) Offshore Submersible AquaTec ini adalah produk pertama di Asia Tenggara dan di klaim dapat mengungguli produk KJA buatan Eropa.

Hal Serupa, disampaikan oleh Budi Prawira Sunadim selaku Direktur Utama. "Bahwa KJA Offshore Submersible miliknya mampu bertahan di ketinggian ombak taifun. Keunggulan lainnya dibandingkan KJA buatan Eropa adalah dari segi harga, KJA produksi Etopa yang masih sangat mahal dan tidak fleksibel". 

Nah, KJA AquaTec ini lebih murah dan mudah dipasang (easy used) oleh pembudidaya, ketika terjadi ombak besar proses penenggelaman KJA sangat cepat dan menimbulkannya kembali hanya membutuhkan waktu dibawah sepuluh menit.

Pada kesempatan pengiriman KJA Offshore Submersible ke Tiongkok ini Budiprawira berseloroh, Teknologi ini telah dipesan oleh salah satu perusahaan swasta di Provinsi Hainan, Tiongkok. 

Mereka merasa bahwa produk tersebut dianggap cocok dengan daerah disana karena pada akhir Juli mendatang diprediksi akan terjadi badai Taifun dengan kondisi ombak yang besar.

"Keramba ini akan dipasang di Provinsi Hainan-Cina dan langsung akan menghadapi ombak laut lepas dan akan terjadi badai Taifun pada akhir Juli," ujarnya kepada wartawan di sela-sela acara ekspor perdana KJA Offshore Submersible di kantor PT Gani Arta Dwitunggal, Cimareme, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (17/6/2017).

Sebagai bahan informasi, bahwa produk AquaTec ini memiliki daya tahan hingga 30 tahun, dan justru yang sangat membanggakan adalah bahwa seluruh proses produksi pembuatan KJA AquaTec ini sejak dari penelitian hingga menghasilkan produk dikerjakan oleh karyawan lokal dan tanpa bantuan teknologi luar negeri. 

Untuk mendapatkan KJA Offshore Submersible AquaTec perusahaan swasta Tiongkok tersebut hanya merogoh kantong sebesar 90 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 1,2 miliar, dan ini direncanakan  menjadi pilot project untuk pengembangan budidaya di provinsi tersebut pada periode-periode berikutnya dan ini sangat jauh lebih murah dibandingkan KJA pabrikan Eropa. 

"Saya berharap pada tahun-tahun mendatang pemerintah kita dapat mempergunakan produk kita ini dan dapat diterapkan di sektor-sektor budidaya perikanan lepas pantai, dan terusterang kami bangga bahwa produk kami dapat di pergunakan di Tiongkok," tutur Saipul Bahri. [**]
 


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT