Nikah 2 Kali, Gara-gara Punya Batu Kalimaya?

Sabtu, 10 Juni 2017 - 20:29:55 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metoterkini.com - Kini para pemburu batu akik hampi melupakan hobinya karna batu akik tidak sebooming tahun lalu. Namun coba simak cerita di balik pemilik Batu Kalimaya yang mencengangkan dan jadi Legend pemilik batu kalimaya dan nikah sampai 2 kali. Batu Kalimaya merupakan batu akik yang punya keindahan tersendiri. Batu bening dengan berbagai corak dan warna di dalamnya ini dikagumi banyak pencinta batu akik di Indonesia.

Kalimaya, berdasarkan keterangan para penambang batu ini, hanya ada di Kabupaten Lebak, tepatnya di Kecamatan Maja dan Sajira. Ada beberapa jenis Kalimaya asal Lebak, yakni Kristal Teh, Kalimaya Kristal, Kristal Air Kelapa, Kristal Kopi, Kristal Susu, dan Black Oval.

Nama-nama tersebut muncul secara spontan dari para penambang lantaran melihat warna dasar batu tersebut. Misalnya Kristal Teh, yang warnanya mirip air seduhan teh. Adapun kesamaan batu-batu itu adalah kembang atau jarong yang tampak di dalam batu. Warna kembang di dalam batu bervariasi.

Menurut Ade, seorang pedagang batu yang sering mangkal di pelelangan yang terdapat di Kampung Karoya, Desa Mekarsari, Sajira, batu Kalimaya yang banyak diburu adalah jenis Black Oval, yang berwarna dasar hitam dengan kembang berwarna-warni di dalamnya.

Jenis Black Oval sebenarnya ada juga yang ditemukan di Australia dan Afrika. “Tapi Kalimaya Black Oval kualitasnya lebih bagus. Warna hitamnya solid,” demikian kata Ade, yang sudah bertahun-tahun berdagang batu Kalimaya.

Jangan heran jika pembeli dari Jakarta, Kalimantan, ataupun daerah lain di Indonesia selalu mencari Black Oval jika datang ke pelelangan di Karoya.

Karena banyak diburu, harga batu ini pun melambung tinggi melintasi batas nalar. Sebab, ada yang berani membeli dengan harga ratusan juta rupiah untuk sebongkah batu berukuran kecil.

“Saya pernah menjual batu Black Oval seharga Rp 120 juta kepada orang Jakarta,” ujar Atmawijaya, Sekretaris Desa Pejagan, kepada di kantornya dilansir detik.

Batu yang dijualnya itu, kata Atmawijaya, sebesar jempol tangan orang dewasa. Dari keterangan sang pembeli kepada Atmawijaya, batu yang dia jual pada akhir 2015 itu kini sudah ada yang menawar Rp 300 juta setelah menang di kontes batu di Surabaya.

“Tapi sama dia (pembeli) tidak dilepas. Alasannya sih buat koleksi saja,” ujar pria yang mengaku memiliki tiga lubang tambang di Kampung Cimalingping yang kini sudah tidak beroperasi lagi itu.

Soal harga batu Kalimaya memang tidak ada patokan pasti. Para kolektor membeli jika merasa cocok dengan keindahan dan keunikan batu tersebut.

Atmawijaya mengatakan harga batu yang dia jual bisa mencapai Rp 120 juta karena coraknya unik. Bintik-bintik warna merah dan kuning pada Black Oval membentuk sebuah kotak. 

“Makanya batu Black Oval saya dinamakan kotak ajaib. Sebab, tidak ada batu yang kembangnya berbentuk seperti itu,” tutur Atmawijaya.

Pengalaman menjual Kalimaya bernilai jual tinggi juga dirasakan Wahyudin, 26 tahun, penambang warga Kampung Karoya, Desa Pejagan, Kecamatan Sajira, Lebak, Banten. Pada 2015, dia membeli batu jenis Black Oval dari sesama penambang seharga Rp 6 juta. Namun, ketika dijual kembali kepada seorang kenalannya di Facebook, batu itu laku Rp 19 juta.

Terakhir, harga batu yang dia jual itu sudah mencapai Rp 250 juta setelah memenangi kontes. Kabarnya, yang membeli adalah warga negara Korea Selatan. Wahyudin tidak tahu nama asli pembeli batu darinya. Yang dia tahu, pria itu bernama AB asal Bali, yang dia kenal lewat Facebook.

Lewat perkenalannya di Facebook, pria itu memberi modal kepada Wahyudin untuk membuka lubang. “Makanya saya jual batu itu ke dia Rp 19 juta karena dia bos saya. Kalau saya jual ke orang lain, mungkin harganya puluhan juta rupiah,” ucapnya.

Namun dia mengaku belakangan sudah putus kontak dengan bosnya itu lantaran telepon seluler miliknya hilang. Yang pasti, selama enam tahun menambang Kalimaya, Wahyudin bisa membeli beberapa petak sawah dan memberi orang tuanya uang puluhan juta rupiah.

“Waktu booming batu mah hidup enak, Pak. Bisa foya-foya. Saya saja sampai nikah dua kali, ha-ha-ha…,” kata Wahyudin bangga.

Namun dia menjelaskan, harga batu Kalimaya bisa melambung hingga jadi ratusan juta rupiah kalau sudah menang kontes. Tapi, kalau beli di lokasi penambangan, harganya paling tinggi belasan juta rupiah. “Yang dapat untung besar pemilik modal besar. Kalau penambang mah dapatnya kecil-kecil,” tutur Wahyudin.

Pengakuan serupa disampaikan Saripin, penambang senior asal Desa Pejagan. Menurutnya, harga batu Kalimaya bisa mencapai ratusan juta rupiah jika sudah bersertifikat atau menang lomba. Saripin menyebut pernah menjual Kalimaya dengan harga fantastis pada awal 1980-an.

Saat itu dia menjual batu Kalimaya berukuran sejengkal dengan lebar 2 sentimeter kepada Albert Sentosa, warga Jakarta yang berprofesi sebagai dokter. Harganya Rp 45 juta, dengan perbandingan harga emas saat itu masih Rp 1.500 per gram.

“Saya masih muda waktu itu. Dokter itu juga. Sampai sekarang saya masih sering ketemu sama dokter itu,” tutur Saripin.

Perkenalan dengan Albert, ujar Saripin, terjadi saat ia berjualan batu di Batu Ceper, Jakarta Pusat. Albert saat itu singgah di lapak batu Kalimaya yang digelar Saripin.

Di situ Albert bertanya kepada Saripin di mana mencari batu Kalimaya. Kemudian Saripin mengajak Albert ke Cimalingping, Desa Pejagan, untuk melihat dari dekat proses penambangan Kalimaya. Sejak saat itulah pertemanan Saripin dengan Albert terjalin hingga saat ini.

Dokter Albert, kata Saripin, saat ini sudah punya klinik kesehatan di Batu Ceper, Jakarta Pusat. Selain itu, Albert memiliki perkebunan di Desa Pejagan, yang sampai saat ini diurus oleh Saripin dan keluarganya.

Saripin mengungkapkan, sekitar 3 tahun lalu batu yang dia jual kepada Albert sudah ada yang menawar Rp 500 juta plus satu unit mobil. Namun Albert tidak mau menjualnya. “Batu itu sudah ada sertifikat dan pajaknya. Sampai sekarang, kalau melihat batu itu, saya merasa kagum,” ujar Saripin.

Namun, dalam dua tahun terakhir, tidak ada lagi penambang yang bisa menjual Kalimaya di atas Rp 10 juta. Apalagi sekarang Kalimaya berkualitas bagus sangat langka ditemukan. Saking sulitnya mendapatkan Kalimaya kualitas bagus, para tengkulak atau pedagang Kalimaya di pelelangan Karoya harus berpatungan untuk membeli batu. Supaya sama-sama mendapatkan untung.

“Ada Kalimaya satu saja kalau harga Rp 5 juta sama tengkulak digotong ramai-ramai (patungan) . Kalau laku Rp 6 juta ya, Rp 1 juta dibagi-bagi. Bahkan ada yang hanya dapet sebungkus rokok, Pak,” kata Dudung, Kepala Desa Pejagan.

Hal ini terjadi karena penambang kesulitan mencari batu. Agar tidak terjadi perselisihan di antara pedagang, mereka pun membuat aturan: jika ada batu berkualitas bagus, mereka harus patungan. Jadi semua pedagang kecipratan untung dari berdagang batu.Semoga Batu Akik bisa booming lagi ya sehingga pencinta batu dan pencari batu akik mendapatkan kepuasan tersendiri. [**]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT