Tips Mendidik Anak Hidup Sederhana Ala Rasulullah

Jumat, 28 April 2017 - 11:00:32 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Rasulullah mempunyai hati yang penuh dengan rasa sayang, kelembutan, dan keramahan terhadap semua orang. Akan tetapi, semua itu beliau curahkan dalam batas - batas yang sewajarnya. Beliau pun selalu mengajarkan kesederhanaan pada putrinya, Fatimah berikut ulasannya dilansir viva.

Rasulullah hidup dengan sederhana. Beliau tidak mempunyai keinginan menumpuk harta, walaupun jikalau mau sangatlah mudah baginya. Sahabat Umar bin Khattab Ra pernah berkunjung ke rumah Rasulullah ketika dia telah masuk ke dalamnya.

Dia tertegun melihat isi rumah beliau, yang ada hanyaah sebuah meja dan alasnya hanya sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geribat (tempat air) yang biasa beliau gunakan untuk berwudhu.

Keharuan muncul dalam hati Umar Ra. tanpa disadari air matanya berlinang, maka kemudian Rasulullah menegurnya. "Gerangan apakah yang membuatmu menangis?" Umar pun menjawabnya, "Bagaimana aku tidak menangis ya Rasulullah? Hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah Tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan Tuan telah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat, dan kemakmuran telah melimpah." Lalu beliau menjawab "Wahai Umar, aku ini adalah Rasul Allah, Aku bukan seorang Kaisar dari Romawi dan bukan pula seorang Kisra dari Persia. Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.

PAMERKAN KALUNG

Suatu ketika, Rasulullah pernah marah saat Fatimah memperlihatkan kalung emas hadiah dari Abul Hasan, suaminya. Sehingga saat itu beliau tidak menyebut Fatimah dengan ramah dan tidak menciumnya seperti yangs elalu beliau lakukan.

Bahkan beliau berkata dengan nada tinggi, "Senangkah engkau jika orang - orang mengatakan 'Putri Rasulullah tengah memegang kalung dari api neraka?". Setelah berujar seperti itu, Rasulullah pun segera pergi tanpa sempat duduk.

Akhirnya Fatimah segera menjual kalungnya ke pasar dan hasil penjualannya ia belikan seorang budak untuk dia memerdekakan. Ketika Rasulullah mengetahui hal itu, beliau bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka."

TAK MEMANJAKAN

Ketegasan sebagai ayah pun tetap Rasulullah tunjukan kepada Fatimah, sekalipun ia sudah berkeluarga. Kehidupan Fatimah yang serba kekurangan dan tidak memiliki pelayan membuat tugas-tugas rumah tangga dikerjakannya sendiri.

Mulai dari menggiling gandum, mengambil air dengan geriba sampai dadanya sakit, dan membersihkan serta menyapu rumah. Fatimah dan Ali tidak mampu menyewa pembantu untuk membantu pekerjaannya yang berat.

Setibanya Rasulullah dari suatu peperangan dengan mendapatkan banyak harta rampasan dan tawanan, Ali segera berkata kepada Fatimah, "Wahai Fatimah, sungguh beban pekerjaanmu telahmembuat terenyuh hatiku, sedang saat ini ayahmu memiliki banyak tawanan. Karenanya alangkah baiknya kalau engkau mau meminta salah seorang di antara mereka untuk kita jadikan pekayan."

Fatimah menjawab, "Aku akan laksanakan, Insya Allah". Dia pun datang menghadap Rasulullah, Sesampainya di sana, Rasulullah pun bertanya, "Apa keperluanmu, wahai anakku?", Fatimah pun menjawab, "Aku hanya hendka memberikan salam kepada engkau." Fatimah malu untuk menyampaikan keinginannya kepada ayahnya.

Keesokan harinya, Fatimah datang lagi bersama Ali. Kemudian Ali menceritakan keadaan Fatimah dan mengutarakan maksud kedatangan mereka kepada Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah sebagai ayah yang tegas itu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan memberikan seorang pelayan pun kepada kalian berdua, karena aku tidak mau membiarkan orang - orang fakit melipat perutnya karena lapar. Saat ini, akut idak mempunyai sesuatu yang dapat aku berikan kepada mereka. Oleh karena itu, budak - budak itu akan aku jual dan harganya kushadawahkan kepada orang - orang kafir."

Putri Rasulullah itu pun akhirnya pulang dengan tangan hampa, padahal dia termasuk orang yang sangat dicintai Rasulullah dan hidupnya serba kekurangan. Rasulullah lebih mengutamakan orang - orang kafit yang lebih membutuhkan daripada anaknya.[na]


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT