Ini yang Pengaruhi Pasar Properti Asia Pasifik 2017

Kamis, 22 Desember 2016 - 00:00:11 WIB
Share Tweet Google +

Metroterkini.com - Sepanjang tahun 2016 merupakan momen yang penuh ketidakpastian dalam pasar properti global. Meski demikian, pasar real estate di kawasan Asia Pasifik relatif terlihat kuat. Hal ini di dukung oleh investor di sekitar kawasan yang mengincar area Asia Pasifik sebagai ranah berinvestasi.

“Di tahun 2016 ada banyak perputaran modal yang terjadi di benua Asia, dengan hadirnya investor baru yang dananya datang dari negara besar, dana pensiun atau perusahaan asuransi Tiongkok,” ucap Stuart Crow, head of Asia Pasific Capital Markets dari Jones Lang LaSalle.

“Terjadi peningkatan nilai properti yang signifikan bila dibandingkan dengan tarif sewa. Hal ini menyebabkan persentase tarif sewa turun ke titik terendah di sejumlah negara di Asia Pasifik,” tambah Dr. Megan Walters, kepala peneliti dari JLL Asia Pasifik.

“Meski demikian, pasar investasi properti komersial secara keseluruhan harus tetap stabil pada tahun 2017, seiring dengan harapan sentimen positif akan pasar properti di kawasan.” Tambahnya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada pasar Asia dan Pasifik di tahun depan? JLL memberikan lima gambaran berikut ini, di lansir laman rumah (22/12).

Vietnam Akan Menjadi Negara yang Diincar di ASEAN
Menurut JLL, Kawasan Asia Tenggara akan menjadi lokasi yang menarik untuk disimak pada tahun 2017. Vietnam akan menjadi negara dengan daya tarik yang besar, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan transparansi pasarnya. Sektor real estate Vietnam juga meningkat sampai dengan 12 persen (year on year).

Meskipun begitu, para investor juga ada yang tertarik membidik Australia, seiring dengan transparansi harga dan tingginya yields (persentase harga sewa). Terakhir, Singapura, karena lokasinya yang atraktif.

Anda Tidak Bisa Menahan Aliran Modal dari Tiongkok
Pemerintah Beijing telah mengatur penekanan investasi ke luar negeri lebih dari USD10 triliun dan M&As senilai lebih dari USD 1 triliun. Jumlah tersebut terbilang besar, karena tidak ada pembatasan akan jumlah aliran dana yang keluar dari dataran Tiongkok.

“Tren aliran modal Tiongkok ke luar negeri untuk investasi Properti tidak akan berhenti,” ucap Crow. “Jikalau terjadi, biasanya hanya pada momen tertentu karena modal dasar yang sangat besar di Tiongkok.

Kebanyakan investor di Tiongkok masih akan melihat investasi luar negeri sebagai “kebijakan strategis,” katanya. Bahkan, Tiongkok kini menjadi lintas batas investor properti terbesar di dunia, setelah menginvestasikan hampir USD18 miliar dalam aset properti komersial internasional di tiga kuartal pertama tahun ini.

Sektor Baru, Membuka Kesempatan Investasi Baru
Investor akan mencari lahan baru untuk menanamkan asetnya di tahun 2017. “Menemukan nilai investasi adalah sebuah tantangan. Akibatnya, investor akan terus mencari nilai investasi di bawah harga pasaran dan menyasar kota sekunder sebagai lokasi investasi baru,” ucap Walters.

Karena semakin banyak konsumen yang memutuskan untuk tinggal di rumah kompak, kebutuhan untuk fasilitas penyimpanan juga akan berkurang.

Selain properti, Area lain yang membuka kesempatan investasi di tahun 2017 ialah sektor logistik, karena munculnya beberapa start up e commerce baru dan pusat data, yang membutuhkan komputasi awan dan kapasitas data yang besar.

Pembelian Properti Besar Lainnya
2016 adalah tahun pemecahan rekor dalam sektor komersial, seperti pembelian Asia Square Tower 1 di Singapura oleh Qatar Investment Authority, Century Link Complex di Shanghai oleh China Life, dan Akuisisi International Finance Center Seoul oleh Brookfield Asset Management.

“Ada indikasi bahwa penawaran tiket besar akan terus berlanjut sampai tahun 2017,” kata Crow. “Bank sentral memiliki tugas besar menjaga suku bunga rendah untuk jangka panjang. Ini berarti modal harus terus dikerahkan untuk investasi real estat. Sehingga bisa mendorong permintaan kerja dan kinerja sewa. Hasil panen di aset investasi ini akan tetap stabil karena permintaan investor,” tutupnya.

Efek Donal Trump
Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden baru AS menyebabkan ketidakpastian pasar saham dan volalitas mata uang, serta risiko politik karena ketegangan geopolitik. “Ini dapat mendorong investor terbesar di dunia untuk meningkatkan alokasi modalnya ke pasar properti karena dinilai lebih aman dan memberi keuntungan balik modal yang lebih besar,” tutup Walters. [**]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT