Pesona Wisata Senja Pantai Marinbati Desa Gamtala

Senin, 19 Desember 2016 - 00:00:16 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - HUTAN mangrove Gamtala memberi celah bagi pemburu pesona senja melalui aliran sungai kecil yang membelah di tengah kerimbunan pepohonan. Ada keteduhan dan kesejukan serta cericit burung sepanjang sekitar 1,5 kilometer sungai itu. Di pintu keluar telah menanti mentari senja.

Hutan mangrove Gamtala masuk wilayah Desa Gamtala, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

Setiap petang, hulu sungai kecil yang menjadi pintu masuk hutan mangrove itu selalu ramai dikunjungi warga setempat atau wisatawan. Mereka datang untuk menikmati hangatnya air yang mengalir dari kaki Gunung Sahu, salah satu gunung api di Halmahera Barat.

Mangrove menjulang di sisi sungai dengan janggutnya menggantung di atas permukaan air. Begitu pula nipah yang tumbuh di antara mangrove.

Hutan mangrove itu bak oase di tengah panasnya Jailolo. Kota kecil tak jauh dari garis khatulistiwa, yang pada Maret 2016 dilalui gerhana matahari total, tak bisa menghindar dari sergapan kemarau panjang dengan suhu bahkan melampaui 28 derajat celsius. Kerapatan mangrove mampu menghalau sengatan terik.

Air sungai itu terasa payau karena sudah tercampur dengan air laut. Di sungai itu tidak ada binatang berbahaya seperti buaya karena yang ada biawak dan beberapa jenis burung seperti kakatua. Ada pula meleo yang muncul setiap pagi. Beberapa burung terdengar cericitnya.

Satu jembatan kayu berdiri di atas aliran sungai, memberi tanda air sungai segera bersua gelombang dari Laut Maluku. 

Hutan mangrove Gamatala dan Pantai Marinbati merupakan paket wisata senja yang paling sering dikunjungi wisatawan yang datang ke Jailolo. Apalagi saat Festival Teluk Jailolo, acara tahunan yang rutin digelar sejak 2009, wisatawan berbondong-bondong ke Marinbati melalui Gamtala. Rasanya belum lengkap kalau belum menyelami keindahan pesona senja di dua tempat itu.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata pada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda Olahraga dan Ekonomi Kreatif Halmahera Barat Nur Rahmiani Achmad mengatakan, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia juga sering meneliti mangrove di Gamtala yang memiliki luas sekitar 12 hektar itu. Jenis mangrove kini masih terus diklasifikasi.

Sementara Pantai Marinbati hanya didatangi di kala senja. Saat senja berakhir, wisatawan kembali ke Jailolo yang berjarak sekitar 9 kilometer. Potensi Marinbati belum dimanfaatkan sebagai obyek wisata.

Setelah keluarga Sultan Jailolo tak lagi tinggal di pesisir itu, Maribanti mati. Belum ada investor melirik lokasi itu untuk dibangun penginapan. Begitu pula pemerintah daerah yang kini menggenjot sektor pariwisata. Tak digarap, sampah menumpuk di pesisir pantai.

Kendala

Halmahera Barat kini menjadi salah satu destinasi wisata di Maluku Utara. Banyak lokasi menarik, tak hanya Gamtala dan Marinbati. Ada Pulau Pastofiri dan Babua serta sejumlah lokasi yang menawarkan keindahan bawah laut.

Setelah menikmati keindahan di Pulau Ternate, wisatawan bisa menggunakan perahu cepat ke Jailolo. Waktu tempuh tidak lebih dari satu jam dengan ongkos Rp 50.000 per penumpang.

Salah satu kendala pengembangan sektor pariwisata di Halmahera Barat adalah kurangnya dukungan listrik. Pemadaman bergilir yang kerap terjadi membuat pengusaha penginapan kerepotan.

Padahal, potensi panas bumi di Halmahera Barat sangat besar. Menurut Bupati Halmahera Bara Danny Missy, ada satu titik yang memiliki potensi hampir 45 megawatt (MW). Ini ibarat tikus mati di lumbung padi.

”Kami sangat berharap kerja sama dari PT PLN (Persero) untuk mendukung pembangunan di Halmahera Barat. Pariwisata menjadi salah satu sektor andalan kami,” katanya dilansir kompas travel. [**]


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT