Harta Karun Diangkat, Kemendikbud Marah

Ahad, 08 Juli 2012 - 11:30:27 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Inisiatif Kepala Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Sikakap, Hardimansyah bersama timnya mengangkat benda-benda kuno di kapal yang tenggelam di perairan laut Mentawai, yang akan mengungkap sejarah dibalik keberadaan benda-benda itu, ternyata dipersoalkan Direktorat Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Pemuseuman Kemendikbud.

Kementerian protes, karena Hardimansyah dinilai tidak punya hak dan kewenangan mengangkat benda-benda yang dianggap benda cagar budaya. Sementara versi Hardimansyah beralasan, inisiatif pengambilan benda-benda artefak itu dilakukannya karena tidak ada respons dari pemerintah pusat setelah lebih setahun benda-benda bersejarah itu ditemukannya.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Pemuseuman Kemendikbud, Surya Helmi menegaskan, pemerintah pusat merasa kaget benda yang dianggap cagar budaya itu diangkat tanpa izin dan koordinasi dengan ahli arkeologi. Dengan begitu, Surya beralasan, nilai sejarah yang seharusnya bisa didapat dari kapal tersebut menjadi hilang. Untuk itu, mereka akan memperkarakan Hardimansyah.

Namun begitu, dia mengakui telah meneriman laporan perihal temuan kapal kuno itu sejak setahun lalu. Ketika itu tim dari pusat didampingi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar sudah turun melakukan survei. Namun, tidak langsung melakukan pengangkatan.

"Saat itu sudah dilakukan ekspedisi awal, namun tidak langsung diangkat. Selain koordinat yang belum pas, kami juga mempunyai skala prioritas, karena ada bangkai kapal di daerah lain yang harus diangkat," kata dia.

Dijelaskannya, kapal yang diduga peninggalan VOC  (perusahaan dagang Kolonial Belanda) tersebut adalah benda cagar budaya. Benda cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

"Sehingga, untuk mengangkatnya diperlukan ahli arkeologi, sekaligus penyelam. Kemudian, diperlukan biaya, teknologi dan keahlian khusus, sehingga pihak BP3 Batusangkar harus menyusun programnya terlebih dahulu," bebernya.

Sementara, sambungnya lagi, ahli arkeologi yang bisa menyelam juga masih melakukan penelitian di daerah lain sesuai program yang telah lebih dulu disusun. "Perlu saya tegaskan, biarkanlah benda purbakala atau cagar budaya itu tertanam di bawah tanah atau terbenam di dasar laut 1.000 tahun lamanya. Daripada diangkat tapi tidak diolah secara ilmiah. Itulah yang kami lakukan, kami akan angkat, apabila dilakukan oleh ahlinya," kata mantan Kepala BP3 Batusangkar ini.

Surya pun mengakui pihaknya sudah datang ke Mentawai menindaklanjuti temuan tersebut, sekaligus memastikan kondisi barang-barang hasil temuan itu. Namun, dia mengaku kecewa dengan tanggapan Hardimansyah serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Mentawai saat anggotanya datang.

"Saat anggota datang ke sana (Mentawai, red) yang ditemukan hanya 70 potongan fragmen di rumah Hardimansyah. Patung Budha, guci, dan barang yang besar lainnya tidak ada di rumahnya. Hardimansyah tidak ada di tempat," jelasnya.

Kepala Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Fitra Arda menjelaskan, boleh saja siapa pun mengangkat benda yang diduga cagar budaya. Namun, harus didampingi arkeologi. Hal itu sesuai aturan undang-undang.

Mengungkap Sejarah

Seperti diberitakan sebelumnya, tim penyelam BBIP awalnya menemukan pecahan keramik kebiru-biruan berbentuk unik saat bermaksud mengambil data kerusakan terumbu karang akibat gempa dan tsunami yang menerjang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada 26 Oktober 2010.

Empat bulan berjalan, tim penyelam kembali turun ke lokasi penemuan pecahan keramik tersebut. Tim kembali berhasil menemukan beberapa benda kuno. Tak cuma keramik, tim juga menemukan benda kuno lain seperti guci, piring, koin logam, meriam, patung kepala Buddha, dan stempel dari kayu yang bertulisan tahun 1736.

Selasa (3/7) lalu, dua orang tim dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Pemuseuman (bukan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) seperti tertulis sebelumnya) didampingi dua petugas Balai Pelestarian Purbakala (BP3) Batusangkar turun ke Mentawai untuk melihat temuan benda-benda peninggalan kapal VOC itu.

Hardimansyah dan tim sebelumnya mengaku tak pernah tergoda untuk melego harta karun tersebut. Bahkan, titik koordinat dirahasiakan, agar tidak ada orang-orang tak bertanggung jawab mengambil benda-benda itu. Kini, benda-benda tersebut disimpan di rumah Hardimansyah.

Hardimansyah menyayangkan minimnya respons Jakarta (pemerintah) terhadap temuan berharga di Mentawai itu. Mereka pun terpaksa harus merogoh uang saku masing-masing untuk membiayai ekspedisi. Padahal, dibutuhkan waktu yang tak sebentar untuk memecahkan sejarah misteri kapal kuno itu. Belum lagi minimnya dukungan teknologi modern.

Sejauh ini, tim itu pun belum bisa mengambil kesimpulan apa pun soal temuan tersebut. Apalagi, tak seorang pun di antara mereka yang berlatar belakang arkeologi.

Sejarawan dari Universitas Andalas, Padang, Gusti Asnan juga prihatin terhadap belum adanya respons pemerintah pusat. Padahal, menurutnya, jika temuan itu diangkat dan dianalisis bisa memberikan sumbangan berarti bagi ilmu pengetahuan. "Nanti kalau sudah dijual dan dibeli dengan negara lain, baru semuanya kebakaran jenggot. Biasanya seperti itu gaya dan lagunya orang Indonesia terhadap benda bersejarah dan kebudayaan," sindir Gusti. **ad

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT