Timnas Bakal Kembali Dilatih Alfred Riedl

Jumat, 27 Mei 2016 - 00:00:10 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Hampir pasti gagal mendatangkan pelatih berkelas dunia Jose Mourinho, kini Timnas Indonesia bisa jadi akan kembali ‘rujuk’ dengan pelatih asing yang satu ini.

Rasa penasaran pecinta sepakbola nasional atas siapa yang akan menjadi arsitek timnas tampaknya akan segera terjawab.

Namun sayangnya jelas bukan nama Mourinho atau Guus Hiddink yang pernah diuangkapkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, kemarin. Nama mantan pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl muncul sebagai kandidat pelatih tim Garuda versi Kelompok 85.

Kelompok 85 sendiri merupakan 92 pemilik suarata atau voters PSSI yang mendesak agar PSSI segera menggelar musyawarah nasional luar biasa (Munaslub).

Hal tersebut disampaikan seusai kelompok ini memilih Presiden Klub PS TNI, Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi sebagai ketua tim panelis. Tim ini sendiri bertugas untuk melakukan seleksi siapa pelatih yang tepat untuk menangani timnas di Piala AFF 2016, November mendatang.

“Semua rakyat Indonesia tahu bahwa saat ini kita dalam kondisi darurat atlet sepakbola. Semua harus kita benahi demi Garuda di Dada,” tegas Edy.

Walau pemilihan pengurus anyar PSSI belum dilakukan, Edy mengakui bahwa Kelompok 85 tetap memiliki program yang harus segera dijalankan, yakni menunjuk pelatih baru untuk timnas senior.

“Soal pelatih sedang dibicarakan, tapi sepertinya pelatih yang pernah menangani Piala AFF, Alfred Riedl. Pokoknya pakai pelatih asing,” ujar Edy. Ia menambahkan, “Kami tidak mau lagi kalah dari Timor Leste atau Singapura yang jumlah penduduknya lebih sedikit dari warga Indonesia. Jadi kenapa KLB harus cepat, karena kalau ini didiamkan terus maka mau sampai kapan menyiapkan timnas,” tutur Edy.

Bila hal ini terwujud, Riedl bisa dibilang cocok. Bukan tanpa sebab, pelatih asal Austria itu cukup mengenal karakter pemain Indonesia.

Munculnya nama Riedl memang tak sebagus harapan yang diinginkan para pecinta timnas Garuda. Dua kali menangani Timnas, dua kali dia gagal. Pada 2010 hanya menjadi runner up, pada 2014 gagal lolos dari fase grup. Pantaskah dia menangani Timnas, atau mungkin memang sepakbola kita belum ‘move on’? [**]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT