Potensi Garam Meranti Kalahkan Madua

Senin, 09 April 2012 - 21:27:26 WIB
Share Tweet Instagram



Potensi garam di perairan Meranti mengagetkan investor. Hasil survei perusahaan joint venture Indonesia-Korea, PT. Meranti Salt Internasional menemukan kadar garam air laut Meranti mencapai tiga persen. Dengan hasil ini perusahaan tersebut menargetkan bisa memproduksi 1 ton garam diatas lahan seluas 3000 hektare.

"Hasil survei terakhir kami sangat mengagetkan ternyata kadar garam di laut Meranti sangat bagus, mencapai tiga persen. Ini di luar dugaan karena kadar ini lebih baik dari kadar garam yang digarap perusahaan patner kami di Kamboja," ungkap Zainudin dari PT. Meranti Salt International, dalam dialog khusus dengan Bupati Kepulauan Meranti Drs. Irwan, M.Si di Batam TV.

Menurutnya, di Kamboja pada lahan satu hektare hanya bisa dihasilkan 100 ton garam. Sementara di Madura yang memproduksi garam secara

tradisional hanya menghasilkan 30 ton garam di atas tambak satu hektare. Sementara di Meranti nantinya diperkirakan akan menghasilkan 300 ton garam di atas lahan dengan luas yang sama.

"Jadi ada potensi produksi 10 kali lipat lebih tinggi. Insyaallah perusahaan garam di Meranti ini akan menjadi perusahaan garam terbesar di dunia karena kami menargetkan bisa memproduksi sejuta ton garam per tahun di atas lahan tambak 3.000 hektare," ungkap dia.

Menurutnya, ada empat hasil survei yang sangat mendukung investasi pabrik garam di Kepulauan Meranti. Pertama, suhu di Meranti yang cukup bagus rata-rata 32 derajat celcius. Kedua, kondisi angin yang cukup baik. Ketiga, kadar garam yang tinggi mencapai tiga persen, dan  keempat yang sangat berpengaruh adalah kondisi tanah yang hidup dimana tanahnya tidak langsung menyerap air sehingga air bisa "stay" atau bertahan lebih lama di atas tanah.

"Tanahnya juga landai sehingga sangat mendukung rencana investasi ini. Saat ini progres tahap perencanaan investasi ini sudah mencapai
80 persen," papar Zainudin dengan senyum khasnya.

Rencananya investasi pabrik garam ini akan dilakukan di Pulau Rangsang. Zainudin mengaku kendala yang dihadapi hanya berupa abrasi yang
nantinya akan diatasi dengan cara membangun pemecah ombak. Pihaknya juga akan melibatkan masyarakat setempat karena tembok pemecah
ombak tersebut sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan lahan masyarakat juga.

Ditanya kenapa pihaknya memilih membangun pabrik garam padahal di Meranti memiliki potensi migas, perkebunan sagu, karet, kelapa, dan
perikanan. Zainudin mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor 2.100 ton garam per tahun. Sementara kebutuhan konsumsi
dalam negeri mencapai 500 ribu ton per tahun sehingga potensi market garam masih sangat terbuka lebar.

Sementara garam yang diproduksi nantinya tidak terbatas pada kebutuhan konsumsi semata, tapi juga untuk kebutuhan industri. Bahkan ada yang diolah menjadi sabun dan bahan kosmetik.

Sementara Bupati Kepulauan Meranti, Drs. Irwan, M.Si mengaku pihaknya memberi berbagai kemudahan bagi invetasi yang masuk terutama dari
sektor perizinan. Selain itu beberapa kebijakan dibuat agar invetasi yang berjalan di Meranti tetap menguntungkan.

"Kami ingin menanamkan imej bahwa berinvetasi di Meranti itu menguntungkan. Jadi kami sangat selektif dalam menerima invetasi yang
masuk. Kami tidak ingin pegusaha yang menanamkan modal di Meranti itu merugi," papar dia.**def/hpn


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT