Museum Daerah SSK Bengkalis Terus Berbenah

Jumat, 22 Januari 2016 - 00:00:06 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Sekilas bangunan permanen berupa rumah ukuran 20 X 15 meter itu di Parit Bangkung, Kecamatan Bengkalis, belum mencerminkan sebuah museum.

Awalnya museum ini berupa rumah panggung. Rumah ini adalah rumah singgah para petinggi kerajaan Siak Sri Indrapura.

Namun, pada masa Bupati Fadlah Sulaiman, bangunan kayu tersebut dirubah menjadi rumah permanen dengan atap bernuansa melayu berwarna merah maron.

Kendati bangunan permanen itu jauh berbedah dengan perumahan penduduk disekitarnya, namun kesan sebagai museum belum nampak.

Selain plang nama yang terbuat dari semen di halaman depan bertuliskan ''Museum Daerah Sultan Sarif Kasim', tak ada tanda-tanda lain di halamannya. Pagar besi berwarna kuning dan bertiangnya beton berwarna hijau memudar juga biasa saja. Tidak menyiratkan, bahwa itu adalah museum. Sebab, tak ada duplikat benda bersejarah yang dipajang di halaman sebagai tanda bahwa bangunan itu adalah museum.

Hanya nama itulah yang menandakan bahwa bangunan permanen bercat kuning dengan ornamen melayu berwarna coklat itu adalah museum.

Jenjang beton dan lantai museum berkeramik warna putih warnanya juga mulai kusam.

Di ruang dalam dipajang dublikat kursi Sultan Siak seperti di Istana Siak Sri Indrapura, beberapa pucuk tombak,
Baju dari kulit kayu, gong, uang lama keluaran Perum Peruri, dan benda-benda lainnya. Namun, sayangnya semua benda itu tanpa keterangan.

Sementara di sebuah lemari dibagian belakang sebelah kiri dekat pintu keluar menuju teras belakang tersusun rapi puluhan buku dari beberapa judul buku karangan Tarmizi Umar dan Saukani Al Karim dan kawan-kawan.

Teras belakang yang keramiknya sewarna dengan jenjang, hanya ruangan lepas. Tak ada kursi untuk pengunjung yang ingin membaca karya Tarmizi Umar dan Saukani Al Karim.

Teras selebar 1,5 meter dengan panjang sekitar 5 meter itu juga kotor.

Kondisi ini semakin menggambakan bahwa museum ini kurang dikenalnya oleh masyarakat khususnya pelajar.

Ini dibuktikan dengan minimnya pelajar dan masyarakat umum mengunjungi museum ini untuk mengetahui peradaban masa lalu Kabupaten Bengkalis.

Siti, penjaga museum dengan polos mengungkapkan, sebulan hanya 2-3 orang saja pelajar yang mengunjungi museum.

Tak banyaknya peminat mengunjungi museum itu, bisa jadi kurangnya sosialisasi keberadaan museum kepada masyarakat dan pelajar.

Hal ini bisa jadi membuat pengunjung tak tertarik mengunjungi museum SSK. Sebab, mereka (pengunjung) tak mendapat keterangan sejarah tentang benda yang dilihatnya.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bengkalis, Baharuddin, kepada media ini mengungkapkan, kedepan pihaknya akan membenahi semua kurangan ini.

Saat ini Bidang Kebudayaan Disbudparpora tengah berusaha membenahi kekurangan fasilitas di museum.

Diantaranya merehab beberapa bagian museum yang rusak dimakan usia. Namun, Baharuddin belum akan terealisasi tahun ini, karena anggaran perbaikan yang diajukan di APBD 2016 Kabupaten Bengkalis tak masuk. Namun demikian, pihaknya akan mencoba lagi memasukan di APBD tahun depan.

"Rencana kita mau merehab atap dan plafon, tapi tahun ini anggarannya tak masuk," kata Baharuddin. [rdi]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT