PT SRL Jangan Sewenang-wenang Babat Kebun Sagu

Kamis, 01 Maret 2012 - 23:19:19 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Tindakan yang dilakukan PT Sumatera Riang Lestari (SRL) dengan membabat kebun sagu masyarakat hingga belasan hektar dan membuat kebun yang luluh lantak itu menjadi kanal di Sungai Mentawan, Desa Bungur, Kecamatan Rangsang, mendapat tanggapan serius dari DPRD Kepulauan Meranti. Dewan meminta agar persoalan ini tidak melebar hingga menjadi tindakan anarkis nantinya.

Menyikapi hal tersebut dewan meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti segera mengambil tindakan tegas dan nyata. "Kalau memang benar, ini adalah tindakan yang tidak berprikemanusiaan. Perusahaan jangan bertindak sewenang-wenang, terhadap hak-hak masyarakat dan harus dilindungi. Tapal batas antara tanah milik masyarakat dengan perusahaan juga harus jelas," tegas HM Adiel SH, anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Kamis (1/3/12).

Politisi Hanura itu menilai bahwa selama ini belum ada kejelasan yang nyata tentang tanaman kehidupan yang dijanjikan perusahaan. Persoalan yang selalu terjadi di lapangan, malah tanaman kehidupan milik masyarakat sebagai sumber nafkah sehari-hari yang selalu dimusnahkan.

Salah satu solusinya, lanjut anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti yang terkenal vocal dalam menyuarakan aspirasi masyarakat itu harus segera mengambil tindakan nyata dan konkrit untuk menyelesaikan masaalah ini. Sebab, jika dibiarkan berlarut-larut, maka dikhawatirkan akan terjadi konflik berkepanjangan. Pada akhirnya masyarakat juga yang tetap dirugikan.

"Jangan biarkan masyarakat mencari solusi sendiri, karena dikhawatirkan malah anarkis. Pemda harus mengambil tindakan nyata dan konkrit untuk menyelesaikan masalah ini,'' kata Adiel.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembabatan pohon sagu milik warga telah berlangsung sejak dua bulan lalu, ketika perusahaan HTI akasia itu mulai mengerjakan pembuatan kanal. Pohon sagu yang dibabat itu bukanlah yang sudah menghasilkan pohon besar yang sudah bisa ditebang dan dijual melainkan pohan yang masih berusia satu hingga dua tahun. Sebab, pohan jenis ini mudah berkembang dengan cepat melalui anak yang tumbuh di sekitar pohon yang besar (induk).

Hingga saat ini, lokasi perkebunan sagu tempat pembuatan kanal sudah diberi tanda merah oleh pihak perusahaan. Tanda tersebut terbuat dari tiang-tiang (pancang) kayu yang bertuliskan konservasi, lengkap dengan nomornya masing-masing.

Warga yang merasa dirugikan dengan tindakan yang dilakukan perusahaan tersebut, sebenarnya sudah berupaya melakukan protes. Bahkan secara kekeluargaan mereka sempat mengajak pihak perusahaan untuk turun langsung ke lokasi melihat apa yang terjadi. Namun, upaya itu tetap tidak mendapat respon dari perusahaan milik Paulina ini. Pengerjaan kanal di atas lahan perkebunan warga terus dilakukan, tanpa memperhatikan nasib hidup masyarakat tempatan ke depanya.**def

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT