Terkait Konflik Agama Kini Rezim Jokowi Dipertaruhkan

Rabu, 11 November 2015 - 00:00:07 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos menilai, pemerintah seakan tidak mampu memberikan solusi permasalahan intoleransi agama yang marak terjadi di Indonesia. Hal tersebut, dilihat dari langkah pemerintah yang lambat dalam menyelesaikan kasus GKI Yasmin. 

Menurut Bonar, GKI Yasmin adalah ikon dari kasus intoleransi agama yang terjadi di Indonesia. 

Sehingga saat pemerintah berhasil menyelesaikan masalah tersebut, maka pola penyelesaiannya bisa menjadi menjadi model di daerah lain. 

"Kami terus mendorong supaya dicari penyelesaian ini. Kalau pemerintah tidak mampu mencari penyelesaian, kredibilitas dari rezim Jokowi juga akan merosot," tutur Bona di Kantor LBH Jakarta, dilansir kompas Rabu (11/11/2015). 

Ia menganggap, pemerintahan Jokowi cenderung gagap dalam menyelesaikan persoalan Hak Asasi Manusia dan kebebasan beragama. 

Bonar pun menyinggung beberapa konflik agama seperti yang terjadi di Rembang tentang pembakaran padepokan yang mengatasnamakan forum umat islam, konflik pembongkaran gereja di Aceh Singkil, hingga penolakan pembangunan rumah ibadah di Manokwari. 

Langkah untuk merelokasi GKI Yasmin, menurut Bonar, jelas bukan solusi yang tepat.

Kecewa dengan Bima Arya

Ia pun meminta pemerintah untuk mengkonfirmasi kepada Wali Kota Bogor, Bima Arya. Dalam kasus GKI Yasmin, Bima dinlai justru melanggar hak kebebasan beragama. 

Bentuk pelanggaran dilakukan Bima dengan melarang perayaan Asyura bagi kelompok Syiah.

Selain itu, Bima juga mencoba merelokasi GKI Yasmin tanpa melibatkan partisipasi dari korban relokasi itu sendiri. 

"Asas sebuah tata kelola pemerintah yang baik, transparan dan partisipatif saja sudah dilanggar. Jangankan soal hak kebebasan beragama," kata Bonar. [kms]


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT