Jangka Panjang Indonesia Beli Gas dari Amerika dan Afrika

Ahad, 07 Juni 2015 - 00:00:16 WIB
Share Tweet Google +

Metroterkini.com - PT Pertamina (Persero) mengungkapkan mega proyek listrik 35.000 megawatt ala Presiden Joko Widodo (Jokowi) membutuhkan tak sedikit gas untuk bahan bakar. Pasalnya, saat ini sumber daya domestik tidak cukup untuk menyokong upaya pemenuhan kebutuhan.

Perusahaan migas pelat merah ini hanya mampu memproduksi 1,63 miliar kaki kubik perhari. Alhasil, Pertamina membuka keran importasi gas dari Amerika Serikat melalui Cheniere Corpus Christi sebanyak 1,5 juta ton mulai 2019 selama 20 tahun, juga dari Afrika sebanyak 1 juta ton per tahun, mulai 2020 untuk jangka waktu 20 tahun.

Direktur Energi Baru dan Terbarukan Pertamina Yenni Andayani klaim kebutuhan gas di Indonesia dalam jangka panjang sangat besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan industri.

"Adanya proyek pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW membutuhkan gas sebagai bahan bakar dalam jumlah besar, selain batubara, panas bumi, dan sumber energi primer lainnya. Pertumbuhan sektor industri seiring laju pertumbuhan ekonomi nasional, serta sektor rumah tangga dan transportasi juga menjadi faktor penting bagi peningkatan permintaan gas nasional," terang Yenni dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Minggu (7/6).

Yenni berdalih untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri pihaknya tengah bernegosiasi dengan beberapa produsen LNG besar dunia untuk memperkuat pasokan ke dalam negeri.

"Yang terpenting adalah bagaimana kebutuhan gas dalam negeri ini bisa terpenuhi dengan baik. Dengan penguasaan infrastruktur gas Pertamina yang terus berkembang, kami bisa pegang peranan penting karena Pertamina bisa menyerap pasokan dari multi sources, selanjutnya kami pun bisa pasok gas di banyak titik permintaan yang di sana infrastruktur kami telah tersedia," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Dwi Soejipto mengatakan pihaknya bakal meningkatkan kemampuan Pertamina di seluruh mata rantai bisnis gas.

Dwi menambahkan pihaknya bakal menggaet sejumlah negara pemasok gas untuk mengembangkan infrastruktur gas pipa dan LNG.

"Ke depan bisnis gas akan lebih dominan dibandingkan kondisi saat ini," tuturnya.

Sebagai contoh, lanjut Dwi, yakni bakal dibangunnya beberapa fasilitas penerima LNG di Pulau Jawa hingga Indonesia Timur melalui LNG Plant Badak dan Arun. Proyek tersebut nantinya akan melengkapi infrastruktur penerima LNG yang sudah ada yakni, FSRU Jawa Barat (dioperasikan oleh PT Nusantara Regas) dan Arun Regas (dioperasikan oleh PT Perta Arun Gas), di mana modifikasi LNG Plant menjadi LNG Regasification di Arun juga merupakan yang pertama di dunia. [mrd]

loading...

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT