Kapolres Pelalawan Ditantang Tegakkan Peraturan Kapolri No.8/2011

Rabu, 03 Juni 2015 - 00:00:06 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Oknum Multifinance di Riau, yang mengaku Debt Collector dari PT. Verena Multi Finance Tbk, di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru, Riau, yang didugaan perampasan kendaraan dari pemiliknya, Siswanto yang menguasi mobil jenis Toyota Avanza BM 1337 QJ. Kasusnya telah dilaporkan ke Polres Pelalawan untuk mendapatkan kepastian hukumnya.  

Menurut Pengacara Apul Sihombing, SH, korban seperti Siswanto secara hukum merasa tidak mendapat keadilan berdasarkan Peraturan Kapolri No.8 Tahun 2011 tanggal 22 juni 2011 tentang pengamanan eksekusi terhadap obyek jaminan fidusia yang merasa ‘dilecehkan’ oleh perusahaan leasing.

"Buktinya, masih banyak debt collector seperti Verena yang diduga seringkali melakukan tindakan yang tak prosedural alias seenaknya sendiri, contohnya saja pada Siswanto ini," jelasnya, Selasa (3/6/15).

Berdasarkan aturan ini, eksekusi obyek jaminan fidusia dapat dilakukan jika memenuhi syarat, seperti ada permintaan dari pemohon, memiliki akta jaminan fidusia, jaminan fidusia terdaftar pada kantor pendaftaran fidusia, memiliki sertifikat jaminan fidusia dan jaminan fidusia berada di wilayah negara Indonesia.

"Kalau situasi ini dibiarkan oleh polisi, maka bisa dimungkinkan terjadi perang antar kelompok di masyarakat," paparnya.

Apul mendesak Kapolres Pelalawan agar dapat bertindak profesional dalam kasus ini sebab kasus Siswanto ini merupakan perampasan dan diluar Fidusia, sementara kalau ikut aturan Kapolri seharusnya depkolektor tidak bisa melakukan perampasan seperti perampok tersebut.

"Saya berharap Perkap (Peraturan Kapolri-red) jangan mandul, dan Kapolres harus mengekakkan aturan hukum dan Polri jangan tutup mata melihat maraknya perampasan obyek jaminan apalagi tanpa fidusia," tegas Apul.

Sebelumnya, Wendi (dept collector) meminjam mobil milik nasbah Verena bernama Siswanto, tiba - tiba mobil tersebut dirampas segerombolan debt collector dengan mengendarai mobil pribadi. Saat itu Wendi disuruh mengambil bukti pembayaran yang ditipkan Siswanto kedalam rumahnya, namun baru beberapa langkah mobil itu dilarikan, kebetulan saat itu mobil tersebut sedang dipanaskan karena akan dibawa ke Pekanbaru.

Dan saat itu Wendi kelabakan saat mobil pinjamannya dilarika orang tak dikenal (tanpa menunjukan pengenal), Wendi dibawa ke Pekanbaru oleh dua dept Collector lainya dengan mengendarai sebuah mobil milik mereka. Diatas mobil Wendi diancam oleh dua orang yang mengaku anggota TNI.

"Sikap debt collector sering bertindak seperti preman karena merampas, menteror sehingga tindakanya bisa pidana saat nasabah melaporkannya ke polisi," tukasnya.

Saat kejadian tersebut dikonfirmasi ke pihak Verena tidak satupun yang mau berkomentar. [basya]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT